Thursday, February 4, 2010

The Story Part 12

Ruroya Rai


Aku terbangun tiba-tiba pada hari masih menjelang pagi. Aku melihat ke seluruh ruangan, semua masih tertidur pulas, hanya aku yang terbangun dari tidur. Aku menghela napas. Setelah melamun beberapa saat, aku memutuskan untuk keluar dari tenda.

Di luar, aku pergi menuju pinggiran danau dan duduk di atas batu yang ada di pinggiran danau tersebut. Aku melihat ke atas langit, masih bertaburan dengan bintang-bintang indah. Saat aku melihat lurus ke depan, aku melihat sebuah hutan yang indah. Tempat ini memang sangat indah. Aku mencelupkan kakiku ke dalam air dan merasakan dinginnya air tersebut. Udara dingin pun menusuk-nusuk tubuhku yang tidak ditutupi mantel sama sekali. Aku memeluk diriku sendiri, berusaha untuk membuat tubuhku hangat.

Tiba-tiba ada seseorang yang memberikan aku mantel hangat. Ia menyentuh pundakku. Tangannya yang besar, aku sudah dapat merasakannya. Tangan yang dapat melindungiku. Saat aku menoleh, ya... Riku berdiri di sampingku. Sepertinya ia menyadari saat aku terbangun tadi. Aku tersenyum ke arah Riku.

"Di sini dingin dan kau dengan cerobohnya keluar tanpa membawa mantel, dasar bodoh." Riku terkekeh-kekeh di depanku. Dengan cepat aku memukul Riku pelan. Riku dengan segera duduk di sampingku dan kami berdua menatap langit yang masih bertaburan dengan bintang-bintang. Aku mengangkat tanganku mencoba meraih semua bintang itu.

"Aku ingin bintang-bintang itu. Mereka begitu indah." Kataku sambil terus memain-mainkan tanganku sendiri.
"Ya. Tapi saat ini aku sudah memiliki bintang indah itu sendiri." Aku menoleh ke arah Riku yang masih menatap langit-langit. Riku melukiskan senyuman termanisnya. Aku tertawa pelan, lalu menutup wajahku yang aku rasa sudah mulai memerah.
"Siapa bintang indah itu, Riku?" Tanyaku sambil tersenyum ke arah Riku.
"Hei, Rai. Apa kau pura-pura bodoh?"

Aku memukul Riku pelan, lalu tertawa lepas. Tanpa berpikir panjang, aku mendekatkan diriku ke Riku dan Riku mendekapku dengan begitu lembut.
"Aku tidak pura-pura, Riku. Aku serius." Riku menggeleng-geleng lalu tersenyum lagi.
"Tentu saja bintang indah itu adalah kau, Rai."

Aku terus-menerus tersenyum sambil menatap Riku. Matanya yang berwarna biru pekat seperti menghasilkan sinar-sinar indah. Kami berdua terus berbincang-bincang sampai akhirnya kami menyaksikan matahari terbit bersama. Setelah matahari cukup tinggi, aku dan Riku kembali ke tempat perkemahan untuk berkumpul dengan yang lain.

Nanase Sakigawa


Pagi yang indah. Setiap hari aku selalu menyambut pagi dengan senyuman. Aku beranjak dari tempat tidurku dan mengambil beberapa helai pakaian dari tasku. Lalu aku pergi keluar tenda untuk mencari tempat untuk mandi. Saat aku keluar dari tenda, aku melihat Rai dan Riku sedang berduaan di dekat meja tempat kami semua makan. Aku melihat mereka sekilas lalu tersenyum. Kelihatannya mereka berdua sedang berbahagia bersama. Aku harap Riku tidak akan mengecewakan Rai.

Aku melewati mereka berdua dan pergi mandi dengan cepat. Tentu saja aku tidak mungkin menjelaskan bagaimana tempat pemandiannya terlihat. Selesai mandi, aku kembali ke tenda dan ya... Shoko serta Takato, mereka berdua belum juga bangun dari alam mimpi. Aku mengambil terompet kecil yang aku bawa di tasku dan meniupnya kencang-kencang sehingga suara yang aku buat sangat kencang. Tapi, suara tersebut dengan sukses membangunkan Shoko serta Takato dari alam mimpi. Aku tersenyum memandang mereka berdua.

"Ohayo, Shoko! Ohayo, Takato!" Dengan perasaan tidak bersalah, aku membereskan barang-barangku.
"Nanase, kau tidak tau diri! Aku sedang bermimpi indah di sini!" Takato akhirnya protes kepadaku. Aku menoleh dan tersenyum jahil. Takato melempar bantal ke arahku dan sukses mengenai wajahku. Shoko hanya tertawa melihat tingkah kami berdua.
"Hei, Takato, sudahlah! Lagi pula, apa yang kau impikan?" Tanya Shoko.
"Tentu saja, gadis-gadis cantik yang mengejarku! Aargh! Kalian ini! Sudahlah, aku mau mandi."

Takato langsung keluar dari tenda sambil membawa peralatan mandinya. Tinggalah aku dan Shoko berdua di dalam tenda. Suasana hening seketika.

"Nanase..." Aku menoleh ke arah sumber suara.
"Yang kemarin aku katakan, tidak perlu kau pikirkan. Karena aku merasa tersentuh oleh kata-katamu, aku jadi berpikiran yang aneh-aneh." Kata Shoko sambil tersenyum.
"Tidak apa-apa. Seharusnya kau tidak perlu sungkan untuk bercerita kepadaku. Aku siap mendengarkannya." Shoko terkekeh pelan, lalu ia menatapku.
"Aku hanya butuh waktu agar aku siap menceritakan semuanya."

Aku keluar dari tenda dan menyambut udara segar di pagi hari. Shoko juga keluar dari tenda dan berdiri di belakangku sambil melihat ke kanan dan kiri. Aku tau, Shoko pasti mengagumi semua keindahan ini. Ya, aku juga suka tempat ini. Aku mengambil ponselku dari kantung celanaku dan membuka flapnya. Ada 1 pesan singkat yang masuk ke dalam ponselku. Aku membukanya dan wajahku pun tiba-tiba dilukiskan oleh senyuman.

From: Rukia, Hanase
Ohayo, Nanase-kun! Aku harap kau baik-baik saja di perkemahan itu. Kapan kau akan kembali dari perkemahan itu? Di sini aku baik-baik saja, kau tidak perlu khawatir. Sampai nanti, Nanase! Selamat bersenang-senang!


Rukia, dia benar-benar memperhatikanku. Tapi, maaf Rukia, seberapa besar perhatianmu, aku masih tidak memiliki perasaan yang spesial untuk dirimu.


bersambung...

The Story Part 11


Ruroya Rai

Suara hentakan kaki di luar kamarku membangunkan aku pagi itu. Aku beranjak dari tempat tidurku dengan langkah gontai. Hari ini aku benar-benar malas masuk ke Gakurai Academy. Tapi apa boleh buat, aku harus menyelesaikan beberapa tugasku di sana.

Aku berjalan menghampiri lemari pakaianku. Mengambil beberapa helai pakaian yang akan aku gunakan nanti. Saat sedang memilih-milih pakaian, pintu kamarku diketuk oleh seseorang. Aku mendekati pintu dan membukanya, ternyata Shoko-dengan wajahnya yang ceria seperti biasa-yang datang ke kamarku.

“Raii!! Ayo cepat bereskan pakaianmu!” Karena aku terkantuk-kantuk, aku tidak dapat mengerti apa yang dikatakan oleh Shoko.
“Pakaianku? Memangnya ada apa?”
“Aduhh! Hari ini kita akan pergi berkemah. Aku, kau, Takato, dan Nanase. Ayo cepat!”
Berkemah? Kenapa ada acara berkemah? Bukankah aku harus masuk ke Gakurai?
“Berkemah? Aku harus ke Gakurai, Shoko!” Aku protes tentang berkemah itu.
“Tenang saja, aku sudah meminta izin kepada gurumu agar kau diperbolehkan untuk mengambil cuti sementara. Ayo, cepat bereskan pakaianmu!”  Aku tidak bergerak sama sekali dan hasilnya hal tersebut membuat Shoko geram, sampai-sampai Shoko yang membereskan tasku dan semua pakaianku.

Shoko keluar dari kamarku dengan membawa semua barang-barangku. Ternyata semua orang menungguku di luar. Ada Saki, Takato, Nanase, Shoko, dan... Riku? Apa yang ia lakukan di sini? Dengan cepat aku menghampiri Riku. Shoko yang melihatku langsung mengerti apa yang sedang aku pikirkan.

“Rai, hari ini Riku ikut bergabung dengan kita. Aku meminta Riku untuk ikut agar ia bisa menjagamu.” Kata Shoko sambil tersenyum. Menurutku, seharusnya Shoko tidak perlu repot-repot mengajak Riku, karena aku bisa menjaga diri.

“Shoko, aku bisa sendiri!” Kataku pada Shoko.
“Sudahlah, Rai. Aku juga ingin pergi berkemah bersama kalian semua. Tenang saja.” Riku tersenyum padaku dan akhirnya aku hanya menghela napas lalu mengangguk pelan.

Perjalanan pun dimulai. Kami semua masuk ke dalam mobil milik Riku. Riku yang membawanya ketika tiba di kos ini. Saki tidak ikut dalam acara perkemahan ini, yaa... karena Saki adalah pemilik kos, jadi Saki harus menjaga tempat kos itu.

Dalam perjalanan, aku hanya terus melamun memandang ke arah jendela sementara Riku yang sedang menyetir di sebelahku tetap berkonsentrasi pada jalan. Takato, Shoko, dan Nanase saling bercengkrama di bangku belakangku. Kelihatannya hari ini semua sangat bersemangat, kecuali diriku. Aku berpikir, aku merasa ada sesuatu yang berubah dari diriku. Tapi, inilah aku. 

Nanase Sakigawa

Aku tak menyangka hari ini aku akan pergi berkemah bersama dengan Takato, Shoko, Rai, serta Riku. Inilah pengalaman pertamaku pergi berkemah. Di keluargaku, aku jarang sekali diajak pergi keluar rumah. Karena rumahku besar, aku hanya bermain di dalam tamannya saja. Aku selalu bermain sendiri, terkadang aku bermain dengan pelayan di rumahku yang sudah menjadi sahabat dekatku sendiri. Namanya adalah Shigetsu Chou. Ia adalah pelayan yang bekerja di rumahku selama 5 tahun. 

Hari ini kami akan pergi berkemah di daerah pegunungan di Tohoku. Pemandangan di tempat itu sangat indah. Kami dapat melihat matahari terbenam saat menjelang malam. Kami membangun sebuah tenda besar yang dikhususkan untuk kami berlima. Ya, tidur dalam satu tenda bersama-sama.

Saat ini, aku sedang menyaksikan bulan purnama yang terpancar indah di atas langit dan aku juga duduk di pinggir danau yang ada di tempat itu. Danaunya begitu indah dan cahaya bulan memantul di atas permukaan danau tersebut. Aku tersenyum melihat keindahan alam seperti itu. Sambil memain-mainkan flap ponsel ku, sesekali aku melihat ke arah ponselku. Entah apa yang sedang aku tunggu. Dipikir-pikir, aku jadi merasa aneh. Aku terkekeh-kekeh sendirian di pinggir danau.

Tanpa aku sadari, ponselku tiba-tiba bergetar. Ada telepon masuk. Rukia meneleponku. Dalam hati aku berpikir, apa jangan-jangan dari tadi aku menantikan telepon dari Rukia? Aah... tidak mungkin. Mungkin hanya perasaanku saja.

"Moshimoshi!" Sapaku sambil tersenyum sendiri.
"Nanase! Hei, kau ke mana saja? Tidak masuk ke Gakurai hari ini?" Tanya Rukia tiba-tiba.
"Maaf, aku diajak berkemah bersama dengan penghuni-penghuni kosku yang lain." 
"Penghuni kos? Siapa saja?" Aku menghela napas.
"Hmm... ada Nishimura, Iwamamura, Sakurai, dan Ruroya. Seharusnya kau mengenal Sakurai dan Ruroya." Kataku menyebutkan nama-nama temanku ini.
"Sakurai... Ruroya... aha! Riku dan Rai?" Aku senang mendengar suara ceria Rukia lagi. Aku harap ia sedang tidak dalam suasana sedih.
"Iya, hehe... 100 poin untukmu, Rukia!" 

Untungnya atmosferku dengan Rukia masih baik-baik saja meskipun kejadian itu baru saja terjadi kemarin. Aku menghela napas lagi lalu menengadah ke langit.

"Hei, Rukia..." Panggilku pada Rukia.
"Ya? Ada apa, Nanase?" Rukia dengan sabar menunggu jawaban dariku.
"Coba kau lihat ke jendela di rumahmu." 
"Baiklah, ada apa sebenarnya, Nanase?" Terdengar suara langkah dari ponsel, Rukia pasti sedang berjalan menuju balkon kamarnya.
"Apa kau lihat bulan purnamanya?" Tanyaku sambil tersenyum. Aku mengangkat tanganku berusaha unuk menangkap bulan tersebut, tapi aku tau aku tidak akan pernah mendapatkan bulan tersebut.
"Ya, aku lihat. Hari ini bulannya begitu cantik." 
"Kau tau, Rukia... hanya dari melihat bulan, kau dapat merasakan kehadiranku di sana karena bulan seperti penghubung. Jadi, kau tidak perlu merasakan kesepian lagi." Kataku sambil tersenyum.

Aku tidak menyangka akan mengatakan hal tersebut pada Rukia. Seharusnya kata-kata itulah yang akan aku katakan untuk orang yang aku cintai. Tapi, kenapa aku katakan pada Rukia? Apa mungkin aku jatuh cinta? Tidak, hal itu tidak mungkin terjadi. Rukia sudah aku anggap sebagai adikku sendiri. Aku tidak mau merusak hubungan seperti itu.

"Nanase..." Rukia tidak bisa berkata apa-apa.
"Tidak apa, Rukia. Oh ya, sudah dulu ya, Rukia. Maaf, selamat malam. Tetaplah tersenyum, Rukia. Sampai jumpa."

KLIK!

Aku memutuskan sambungan telepon. Lalu aku menghela napas panjang. Aku merasa seperti orang bodoh. Aku tidak mencintai Rukia, tapi aku mengatakan sesuatu yang harusnya aku katakan pada orang yang kucintai. Tiba-tiba aku mendengar suara langkah kaki, saat aku menoleh, Shoko sudah berdiri di belakangku.

"Kata-kata yang indah. Aku merasa tersentuh." Aku terkejut dengan kata-kata Shoko, apa mungkin ia mendengar semua kata-kataku tadi? Wajahku pun mulai memanas.
"Umm... i-itu..."
"Kekasihku dulu, ia tidak pernah mengatakan hal seindah itu..." Shoko memotong pembicaraanku lalu ia menunduk. Saat aku hendak berbicara, Shoko memberi sebuah tanda agar aku tidak bicara.
"Ayo, kembali ke tempat perkemahan." Shoko memberikan tangannya dan aku meraih tangan Shoko.

Malam di perkemahan pun berjalan dengan biasa...



bersambung...

Wednesday, February 3, 2010

The Story Part 10

Ruroya Rai


Lelah. Hal tersebut yang aku rasakan pertama kali. Kencan hari ini memang melelahkan. Melelahkan tubuhku, melelahkan hatiku, dan lain-lain. Riku sangat bersemangat tadi, sedangkan aku seperti terpaksa masuk ke kandang singa dan memasrahkan diriku untuk diterkam. Kenapa hari ini begitu melelahkan? Aku tiba di kos pun, semua orang bertanya padaku tentang keberadaan Nanase. Katanya mereka sudah menelepon ke ponsel Nanase berkali-kali, tapi tetap tidak tersambung. Dasar laki-laki yang berasal dari keluarga kaya raya, ponselnya saja tidak bisa dihubungi.

Saat ini aku sedang duduk-duduk di dalam kamarku yang kecil ini sambil menikmati alunan musik yang dinyanyikan oleh Kawada Mami. Aku melihat ke arah jendela, tampak bintang-bintang bertaburan di langit malam. Indah. Kata itulah yang pertama kali melewati pikiranku.

Ketika aku sedang melamun menatap langit malam, tiba-tiba pikiranku diingatkan akan kejadian itu. Kejadian mengerikan yang pernah aku alami. Kejadian saat sebuah mobil yang melaju begitu kencang menubrukku begitu saja dan mengakibatkan aku terkena amnesia sebagian. Aku ingat saat itu memang Riku yang menolongku, karena orang tuaku berada di Sapporo dan hanya adikku seorang yang tinggal di Tokyo, Riku yang selalu menjagaku di rumah sakit. Akibat dari kecelakaan ini aku kehilangan sebagian ingatanku, untungnya aku tidak amnesia total.

"Raii!!" Ya, ceritaku pun terganggu oleh teriakan itu. Shoko berlari ke arah kamarku dengan langkah yang tergopoh-gopoh.
"Ada apa, Shoko?"
"Kau tau di mana Nanase berada?" Semua orang memang mencari Nanase, mengkhawatirkan dia, tapi aku tidak tau di mana ia berada. Terakhir aku melihatnya saat aku sedang kencan bersama Riku tadi siang.
"Aku tidak tau, Shoko. Terakhir aku melihat Nanase ya, saat aku sedang kencan dengan Riku."
"Kau tau Nanase pergi ke mana saat itu?"
"Ke taman, tempat kencanku dengan Riku tadi."
"Sial! Dasar Nanase, lihat saja sampai nanti dia kembali ke kos ini, akan aku hajar habis-habisan!" Lalu Shoko pergi menuju lantai bawah. Aku tersenyum mendengar semua itu.

Hei, Nanase... ke mana saja kau? Sudah malam begini, kau masih belum muncul di kos. Aku harap kau baik-baik saja, Nanase.

Nanase Sakigawa


Angin malam menerpa diriku yang berjalan di tengah remang-remang lampu jalanan sendirian. Pikiranku kacau saat ini, sangat kacau. Aku mengingat-ingat tentang kejadian tadi. Saat Rukia bertanya padaku tentang mendapatkan seseorang yang aku cintai.

"Hmm... aku tidak begitu memikirkan tentang mendapatkan seseorang yang aku cintai. Aku hanya berharap orang yang aku cintai itu mau menerimaku apa adanya." Itulah yang aku katakan tadi kepada Rukia.
"Nanase... bolehkah aku mengatakan sesuatu?" Tanya Rukia dengan wajah yang tertunduk saat itu. Aku mengangguk pelan.
"Apa yang mau kau katakan, Rukia?" Terasa jeda sesaat pada waktu itu dan terdengar pula, Rukia menghela napas panjang.
"Nanase, aku... entah sejak kapan, aku sudah mendapatkan seseorang yang aku cintai. Aku merasa sangat nyaman jika ada di samping orang itu."
"Siapa orang itu, Rukia?" Aku menoleh ke arah Rukia yang saat itu sedang menatapku.
"Orang itu bernama... Nanase Sakigawa."

Saat aku mendengar namaku disebut, jantungku seperti berhenti sesaat. Aku bertanya pada diriku sendiri, kenapa Rukia memilihku? Bukankah aku bukan laki-laki yang pantas untuknya? Aku diam seribu bahasa, tidak tau harus menjawab apa saat itu. Sejujurnya, aku juga merasa nyaman jika berada di dekat Rukia. Tapi perasaanku padanya saat ini bukanlah lebih dari suatu persahabatan. Aku bahkan tidak jatuh cinta pada Rukia. Karena aku kebingungan mau menjawab apa, Rukia memberiku beberapa waktu untuk menjawab perasaannya.

Benar-benar kacau hari ini, pikirku. Aku sampai di kos sekitar pukul 2 pagi. Mungkin saja penghuni-penghuni kos ku banyak yang kalang kabut karena aku tidak kembali juga ke kos. Ponselku pun mati karena kehilangan banyak energi sama sepertiku yang sudah sangat lelah.

Saat aku mengetuk pintu kos, terdengar suara kaki yang berderap-derap bersamaan. Aku hanya mengangkat alisku dan memikirkan apa yang sedang terjadi. Pintu pun dibuka dan... semua barang melayang keluar. Ada bantal, sendok, kain serbet, sampai panci. Aku merasa ada yang tidak beres, ya benar, memang ada yang tidak beres. Semuanya jadi geram melihatku karena aku pulang telat. Aku pun merasa bersalah dan segera meminta maaf. Untungnya Saki dan Takato cepat memaafkanku, tapi Shoko,       wanita ini tidak bisa dilawan dengan mudah. Ia menarik telingaku dan menyeretku masuk ke dalam.

"Nanase!! Ke mana saja kau?!" Shoko berbicara tepat di depan wajahku saat kami berdua tiba di ruang tamu.
"He-hei, Shoko. Tenang terlebih dahulu! A-aku tidak akan bisa cerita jika kau marah-marah seperti ini." Kataku sambil menutup wajahku karena aku takut melihat wajah Shoko yang begitu seram.
"Baiklah, kau harus ceritakan semuanya besok pagi. Sekarang kau lebih baik pergi istirahat, dasar Nanase bodoh!" Aku pun beranjak dari tempat duduk dan tertawa lepas melihat tingkah laku Shoko. Wanita muda ini memang unik, sudah seperti kakak perempuanku saja.



bersambung...

The Story Part 9

Ruroya Rai


Riku mengajakku ke suatu tempat yang sangat indah. Ia mengajakku ke sebuah taman. Taman yang penuh dengan bunga sakura di mana-mana. Tapi, entah mengapa aku tidak menikmati kencan hari ini. Aku selalu diam saja selama perjalanan dan selalu menjawab pertanyaan Riku seadanya.

Riku yang sudah mengetahui tentang perubahan sikapku langsung bertanya seperti biasa.
"Rai, ada apa? Dari tadi kau diam saja, tidak berbicara satu katapun."
"Tidak apa-apa."

Saat aku sedang berjalan berdampingan dengan Riku tiba-tiba aku melihat sosok Nanase. Kenapa Nanase ada di sini dan... siapa gadis yang ada di sebelah Nanase itu? Aku penasaran, dengan segera aku bertanya pada Riku. Tapi, Riku ternyata membaca pikiranku.

"Hei, itu Nanase." Kata Riku sambil menunjuk Nanase bersama dengan seorang gadis.
"Iya. Hei, Riku... apa kau tau siapa gadis yang pergi bersama Nanase itu?" Riku menatap gadis yang sedang pergi bersama Nanase itu dan tiba-tiba bola matanya seperti berputar-putar. Sepertinya Riku mengenal gadis itu.
"Hmm... itu Hanase Rukia. Kau tidak tau, Rai? Itu murid baru beberapa bulan yang lalu yang ada di kelas sebelah. Kata orang-orang, Hanase-chan tidak begitu disukai. Mereka bilang Hanase-chan terlalu tebar pesona, dan sebagainya."

Aku akui, Hanase Rukia itu memang cantik. Tapi kenapa hati ini begitu risih saat melihat mereka bersama? Ada apa denganku? Rai, ingat... sudah ada Riku yang dapat membuatku bahagia dan mencintaiku juga. Jadi, untuk apa aku membutuhkan orang lain selain Riku? Mulai saat ini aku akan menjaga jarak dengan Nanase. Maafkan aku, Nanase...

Nanase Sakigawa


Aku pergi ke taman yang dipenuhi bunga sakura bersama dengan Rukia. Gadis ini ternyata sangat menyukai bunga sakura. Aku hanya tersenyum saat melihat gadis ini begitu bahagia dapat melihat bunga sakura yang bertebaran di mana-mana.

Bersama dengan Rukia, aku menyusuri taman tersebut. Tapi, aku tetap tidak menikmati jalan-jalan hari ini. Aku masih merasa terganggu dengan kejadian kemarin, saat ditemukannya surat pemberianku ke Rai di dalam kotak Rai.

"Nanase? Apa kau sakit? Dari tadi kau diam saja." Tanya Rukia tiba-tiba.
"Oh, aku tidak apa-apa. Maaf membuatmu khawatir." Kataku sambil tersenyum.

Kami pergi mengunjungi sebuah restoran yang cukup mewah. Di sana seperti biasa aku memesan makanan kesukaanku yaitu salmon maki dan beberapa jenis sushi set lainnya. Tapi Rukia hanya memesan salmon maki saja, aku kira Rukia akan memesan soba ataupun udon, tetapi Rukia tidak memesan kedua makanan tersebut.

"Rukia, apa kau tidak lapar jika hanya makan itu saja?" Aku menunjuk salmon maki yang hendak dilahap oleh Rukia. Rukia pun hanya menggelengkan kepala dengan pelan lalu tersenyum.
"Tidak apa-apa, aku sudah biasa. Hehe... di rumah, ibuku selalu membuat makanan yang serba sedikit karena kami tidak memiliki bahan makanan yang begitu banyak."

Memikirkan kata ibu. Aku jadi merindukan sosok ibu. Tapi ibuku tidak seperti ibu-ibu yang lain, ibuku ini sangat keras. Aku tau ibu menyayangiku tapi aku merasa kehidupanku selalu saja diatur oleh ibuku. Karena hal tersebut terkadang aku membenci ibuku sendiri.

"Hmm... Nanase, bagaimana dengan keluargamu?" Tanya Rukia tiba-tiba dan raut wajahku pun berubah. Aku menghirup udara dalam-dalam dan mengeluarkannya perlahan-lahan.
"Keluargaku? Aku tidak begitu suka dengan keluargaku." Karena aku menjawab seperti itu, Rukia pun mengernyitkan dahinya, cepat-cepat aku melanjutkan kalimatku.
"Aku sendiri juga tidak mengerti dengan keluargaku. Mereka selalu melakukan apapun dengan kemauannya sendiri jadi, keluargaku tidak pernah damai."

Setelah mengatakan hal tersebut, semua makananku sudah dilahap sampai habis. Aku menyeka mulutku dengan serbet dan menunggu jawaban dari Rukia.

"Aku... aku minta maaf sudah bertanya mengenai keluargamu. Mungkin kau tidak mau menceritakan tentang keluargamu jadi, aku minta maaf."
"Tidak apa-apa. Lagi pula, aku memang mau bercerita juga. Apa aku boleh bercerita padamu?"
"Tentu saja. Hehe..." Ya, dan senyuman Rukia kembali lagi. Aku senang melihatnya tersenyum.

Hari sudah menjelang malam. Aku mengantar Rukia ke rumahnya, rumah Rukia tidak jauh dengan tempat kos ku. Hanya melewati beberapa belokan dan sampailah ke rumah Rukia. Angin malam yang dingin menembus pakaianku dan menusuk-nusuk tubuhku. Benar-benar dingin hari ini. Aku pun menyelipkan tanganku ke dalam kantung blazerku sambil memperhatikan Rukia.

"Umm... Rukia, arigato untuk hari ini. Aku merasa lebih ringan dari biasanya." Kataku sambil tersenyum. Aku menatap ke langit dan bintang-bintang sudah bertaburan. Daerah di Tokyo ini memang indah pada saat malam hari. Saat sedang asyik-asyiknya menatap ke arah langit, Rukia mendekatkan diri ke arahku. Aku menoleh ke arah Rukia, wajahnya yang putih seperti memancarkan sinar di malam hari.

"Nanase, apa kau pernah berpikiran suatu saat kau akan mendapatkan seseorang yang kau cintai?" Tanya Rukia tiba-tiba. Aku tidak mengerti kenapa tiba-tiba Rukia bertanya seperti itu.
"Rukia?"


bersambung...

Tuesday, February 2, 2010

The Story Part 8

Ruroya Rai


Pagi hari yang indah. Tentu saja indah karena hari ini aku akan pergi kencan dengan Riku. Saat ini aku sedang bersiap-siap untuk kencan. Repotnya, padahal hari ini kencan biasa saja seperti pergi makan atau jalan-jalan. Tapi, Shoko berusaha semaksimal mungkin untuk mendandaniku.

"Shoko, kenapa harus berlebihan seperti ini?" Tanyaku pada Shoko. Shoko pun hanya tersenyum melihat pantulan diriku dari cermin.
"Haha... tidak apa. Kau terlihat cantik, Rai. Aku yakin Riku akan terkejut melihat penampilanmu." Aku pun tersipu karena pujian dari Shoko. Shoko memang sering sekali memuji penampilanku.

Setelah 1 jam terlewati, aku keluar dari kamarku. Saat aku melewati ruang tamu, Nanase dan Takato ternyata sedang ada di ruangan itu juga. Mereka berdua terkejut dengan penampilanku. Aku pun menundukkan wajahku dan Shoko langsung cepat-cepat berbicara.

"Taa-Daa! Bagaimana menurut kalian? Aku yang mendandaninya! Hehe..."
"Shoko!" Aku protes pada Shoko, tapi Shoko langsung mencubitku.
"Shoko! Kau jenius!" Teriak Takato dan sambutlah warna merah di wajahku.

Entah mengapa tiba-tiba aku berpikir ingin sekali mendapatkan komentar dari Nanase. Tapi dari tadi Nanase hanya diam saja tidak berkata satu katapun. Aku memperhatikan Nanase yang dari tadi hanya melihat keluar jendela.

"Hei, Rai. Jangan pikirkan Nanase, ia hanya sedang risih dengan suatu masalah. Cepat atau lambat aku yakin sifatnya akan kembali ke semula." Kata Takato mencoba untuk menghiburku.

Tanpa menunggu lama lagi, ternyata Riku sudah datang. Dengan segera aku meraih tangan Riku agar segera digenggam olehnya. Aku berjalan meninggalkan ruang tamu sambil sesekali melirik ke arah Nanase. Aku bingung. Ada apa dengannya hari ini? Aku harap Riku baik-baik saja.

Nanase Sakigawa


Aneh. Sungguh aneh. Kemarin saat Shoko sedang membersihkan kamar Rai-karena Rai tidak ada di kamarnya-Shoko menemukan sebuah kotak yang ada di bawah tempat tidurnya. Saat itu aku sedang melewati kamar Rai ketika aku melihat Shoko sedang mengaduk-aduk kotak tersebut. Karena aku penasaran akhirnya aku masuk ke dalam kamar Rai dan melihat apa yang sedang dilakukan Shoko.

Shoko mengeluarkan sebuah surat dari kotak tersebut. Sepertinya aku mengenal surat itu. Dengan cepat aku mengambil surat yang sedang digenggam oleh Shoko. Aku membuka surat itu perlahan. Saat aku melihat isi surat tersebut, aku sangat terkejut. Surat itu adalah surat yang pernah aku berikan kepada Rai saat aku mau pindah rumah.

"Nanase? Ada apa?" Tanya Shoko tiba-tiba.
"Ini... ini surat yang pernah aku berikan pada Rai saat aku mau pindah rumah! Dia masih menyimpan ini, tapi dia tidak bisa ingat apa-apa tentang ku?" Aku merasa sangat kecewa. Hatiku serasa ditusuk-tusuk oleh 1000 jarum seperti biasa.
"Nanase, belum tentu Rai bisa mengingat dengan begitu mudah ketika melihat surat ini. Bisa saja ia melihat lalu ia tidak ingat apa-apa dan surat ini dibuang begitu saja. Hal tersebut lebih menyakitkan dibandingkan jika Rai yang tidak ingat apa-apa tentangmu tapi masih menyimpan surat ini. Ya kan?"

Aku memikirkan kata-kata Shoko dan akhirnya aku pun mengangguk. Aku menyimpan surat itu di kamarku sendiri.

TRRRT! Ponselku tiba-tiba berdering. Saat aku melihat ke layarnya, Rukia meneleponku. Ada apa ya?

"Ya?" Aku menjawab panggilan tersebut.
"Nanase! Hehe... apa aku mengganggumu?" Tanya Rukia dari seberang sana. Dari suaranya, Rukia terdengar sangat ceria. Tapi aku tidak tau bagaimana isi hatinya. Rukia adalah gadis yang sukar untuk ditebak.
"Tidak juga. Ada apa, Rukia?"
"Aku bosan di rumah. Bagaimana jika kita pergi jalan-jalan?"
"Ide yang bagus. Hehe..."

Setelah itu aku langsung bersiap-siap untuk pergi jalan-jalan dengan Rukia. Lebih baik seperti ini dari pada aku harus berdiam diri di kos sambil melamun di depan jendela. Aku harap Rukia dapat membuat hatiku lebih damai hari ini.


bersambung...

Monday, February 1, 2010

The Story Part 7

Ruroya Rai


Kejadian memalukan itu-kejadian saat aku menangis-sudah selesai. Mungkin karena Riku datang menjengukku dan aku mengeluarkan seluruh amarahku padanya.

Hari ini aku menjalani kegiatanku seperti biasa. Bekerja dengan tenang, membuat karya-karya yang menarik dari tanah liat. Tapi, karya yang aku buat hari ini, semuanya hancur. Tidak ada satu pun yang berhasil menjadi karya yang indah. Aku bertanya-tanya pada diriku sendiri, ada apa denganku?

Saat sedang jengkel-jengkelnya dengan diriku sendiri, Riku menghampiriku. Dengan lembut ia meletakkan tangannya di atas kepalaku. Tangannya yang besar, membuat aku merasa terlindungi olehnya. Setelah itu Riku membungkukkan badannya dan bertanya padaku.

"Rai, ada apa?" Aku menoleh menatap Riku.
"Aku sendiri juga tidak tau. Mungkin aku sedang tidak enak badan." Kataku sambil terus menginjak-injak pedal agar piringannya berputar.
"Jika kau memang merasa tidak enak badan, kenapa tidak kau pergi ke ruang kesehatan? Ayo, aku antar." Riku mengulurkan tangannya. Tapi aku hanya menggeleng pelan. Riku mengernyitkan wajahnya.
"Tidak apa-apa. Aku yakin aku tidak apa-apa. Walaupun aku tidak enak badan, aku bisa melakukan semuanya sendiri. Tenang saja, Riku. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan." Kataku sambil tersenyum.

Semua orang yang ada di kelas menatap aku dan Riku. Mereka berpikir bahwa kami berdua selalu memainkan drama indah yang selalu ditonton oleh seluruh murid di kelas.

Tapi, selama aku bersama dengan Riku. Aku tidak keberatan harus ditonton seperti ini. Karena aku tau, Riku akan membahagiakan ku.

Nanase Sakigawa


Istirahat. Ya, itulah waktu yang aku butuhkan. Aku lelah bekerja seharian di depan piringan. Kerjaannya hanya menginjak-injak dan membentuk. Butuh banyak tenaga. Saat ini aku berada di kantin Gakurai Academy. Kantinnya memang tidak begitu besar tidak seperti kantin sekolah bodohku yang sangat besar dan menyesatkan. Tapi kantin ini menjual bermacam-macam makanan. Dari makanan tradisional sampai makanan modern. Aku selalu memesan salmon maki setiap istirahat dan aku juga selalu makan sendirian di kantin. Ya, kembali seperti kehidupan di keluargaku yang tidak menyenangkan.

Saat aku hendak menyantap salmon makiku ini, tiba-tiba seseorang datang mengejutkanku dan hampir membuatku tersedak. Untung saja aku menelannya dengan cepat. Aku menoleh hendak mendamprat orang itu habis-habisan, tapi yang kudapat adalah seorang gadis berambut sebahu. Tidak salah lagi, Hanase Rukia. Gadis yang periang yang bisa membuat hari-hariku lebih ceria.

"Rukia, kau ini." Kataku sambil tersenyum.
"Hehe... maaf, boleh aku duduk di sini?" Tanya Rukia
"Ya, tentu saja. Siapa pun boleh duduk di sini."
"Hehe... iya! Arigato!"

Aku menyantap salmon makiku dengan lahap sementara Rukia hanya menyeruput ocha hangatnya.
"Rukia, kau tidak makan?" Tanyaku. Rukia menggeleng pelan.
"Dan, kau tidak pergi bersama dengan teman-temanmu?" Tanyaku lagi.
"Aku... tidak punya teman di sini." Mendengar kata-kata Rukia, hampir saja aku tersedak salmon makiku lagi. Kalau sampai aku tersedak lagi, salmon maki itu harus aku buang. Sayang sekali.
"Bagaimana bisa? Bukankah kau cukup bersahabat ya?"

Raut wajah Rukia pun berubah, dari ceria menjadi pucat pasi. Entah apa yang ada di pikirannya, aku tidak mengerti. Tapi aku tau, pasti banyak sekali pikiran yang ada di kepalanya.
"Entah karena apa aku tidak memiliki teman. Aku sendiri tidak mengerti. Sebelum kau masuk ke Gakurai Academy, aku sangat kesepian. Tapi, saat aku dengar ada murid baru masuk ke Gakurai Academy, aku langsung mencari info tentang murid baru itu. Dan aku bertemu denganmu. Aku senang kau mau jadi temanku." Kata Rukia sambil tersenyum.
"Tidak apa-apa. Aku juga senang bisa berteman denganmu."

Setelah kejadian itu, aku berjanji pada diriku sendiri. Aku akan melindungi Rukia dengan kemampuanku sendiri. Aku tau ia sendirian, tapi sekarang tidak lagi. Aku akan selalu ada di sisinya untuk menemaninya. Aku yakin, Rukia tidak akan merasa kesepian dan sendirian lagi. Ya, tidak seperti aku saat ini.


bersambung...

The Story Part 6

Ruroya Rai


Seharian aku menangis di dalam kamar. Aku tidak ingin semua penghuni kos ini melihat wajahku yang berantakan seperti ini. Tapi, ternyata mereka sudah melihatnya sekarang.

Saat ini Shoko terus memelukku. Shoko memang seperti kakak perempuanku dan aku memang sayang pada Shoko. Selain Shoko, Nanase juga ada di dekatku. Ia tidak bisa berbuat apa-apa melainkan hanya menatapku dengan prihatin. Maafkan aku, Nanase.

Aku terus menangis di dekapan Shoko dan tiba-tiba Nanase pergi keluar dari kamarku. Aku ingin sekali menghentikan tindakannya tapi tidak bisa, karena tangisanku tidak bisa berhenti serta suaraku pun tidak mau keluar.

Entah sudah berapa lama Nanase di luar kamarku, tiba-tiba saja ia masuk membawa... Riku?! Sedang apa laki-laki itu di sini? Riku pun mendekatiku dan Shoko melepaskan pelukannya lalu menjauh. Aku melihat Shoko mengajak Nanase keluar dari kamarku sehingga aku dan Riku hanya tinggal berdua saja. Aku menghela napas panjang sambil sesegukan dan mengusap-usap wajahku.

Riku duduk di tepi tempat tidurku lalu menghela napas.
"Rai... kau... apa kau tidak apa-apa?" Riku bertanya sambil melihat ke bawah.
"Menurutmu?" Itulah jawabanku. Jawaban yang paling sedikit yang pernah aku beri.

Riku menoleh dan menggenggam kedua tanganku. Jantungku berdetak dengan cepat dan rasanya aku ingin menangis lagi.
"Rai, maafkan aku. Aku... aku memang bodoh. Untuk apa aku melarangmu. Maafkan aku, Rai!" Riku menggenggam tanganku erat-erat dan dilihat dari wajahnya ia sangat bersungguh-sungguh. Tapi, aku masih tidak bisa menjawab kata-katanya.
"Rai, menangislah sepuasnya. Salahkan aku jika perlu, marahi aku, sampai kau sudah tenang aku akan berada di sisimu." Kata Riku sambil membelai rambutku.

Tanpa kusadari, akhirnya aku menangis dalam dekapan Riku. Aku memukul-mukul Riku karena kesal. Aku berpikir kenapa tadi ia melarangku jika aku mau ke dokter? Aku terus memukul-mukul Riku sampai akhirnya aku jatuh tertidur di pelukan Riku.

Nanase Sakigawa


Saat aku membuka pintu, yang kutemukan adalah sosok Riku. Aku bersungut-sungut pada diri sendiri, kenapa tidak tukang pos saja yang datang hari ini, kenapa harus Riku? Sial! Dengan tatapan sinis aku menatap Riku dari atas kepala sampai kaki. Memang aku ini terlalu berlebihan, tapi aku sudah berpikir bahwa laki-laki inilah yang membuat Rai menangis seperti itu.

"Mau apa kau datang ke sini, Riku?"
"Izinkan aku masuk, Sakigawa-kun!" Riku mencoba untuk menyingkirkanku. Ternyata memang benar, memang Rikulah yang membuat Rai menderita.
"Kau... apa yang kau lakukan pada, Rai?"
"Sakigawa-kun, jangan salah paham. Aku tidak melakukan hal apa pun pada Rai."
"Lalu kenapa? Apa mungkin jika kau tidak melakukan apa-apa, Rai akan menangis histeris sepanjang hari seperti ini?! Otak mu di mana Riku?!" Tampaknya Riku terkejut saat aku mengatakan bahwa Rai menangis sepanjang hari.

"Rai... menangis... sepanjang hari? Sakigawa-kun! Biarkan aku masuk!" Aku terus-menerus menghadang Riku agar ia tidak masuk ke dalam.
"Untuk apa? Kehadiranmu hanya menjadi beban bagi Rai!"
"Diam! Memangnya kau siapa Rai?! Aku yang sedang bermasalah dengannya bukan kau! Minggir kau!"

Riku melewati ku dengan cepat dan aku pun langsung mengejar Riku. Tapi, aku terlambat. Riku sudah berada di depan kamar Rai dan tatapan mereka berdua pun langsung bertemu. Saat aku mau masuk ke dalam kamar Rai, Shoko dengan cepat membawaku keluar. Meninggalkan Rai dengan laki-laki tidak tau diri itu.

"Shoko, kenapa kau lakukan itu?" Sesudah keluar dari kamar Rai, aku protes pada Shoko.
"Nanase, kau harus memahami situasi seperti ini. Kau tau, Rai dan Sakurai-san sudah pacaran, kau tidak bisa mengganggu mereka saat mereka sedang ada masalah. Biarkan mereka menyelesaikan masalah mereka sampai selesai terlebih dahulu." Kata Shoko sambil mengajakku untuk duduk-duduk di ruang makan yang dekat dengan taman.

"Aku tau, tapi aku tidak bisa terima Rai diperlakukan seperti itu. Shoko, aku... aku merindukan Rai." Kataku sambil menatap Shoko. Shoko tersenyum dan mengangguk seperti memahami maksudku.
"Jika kau memang menyayangi Rai yang hilang ingatan itu, kau harus bisa menjaganya. Buatlah ia ingat kembali tentang dirimu. Aku yakin beberapa lama lagi Rai akan mengingat semua tentang dirimu."
"Iya. Aku harap."

Shoko merangkulku, aku merasa Shoko seperti kakak perempuanku. Ia tidak seperti kakak laki-lakiku Nonoru Sakigawa yang setiap hari kerjaannya hanya bermain game dan membaca komik.

"Tenang saja, Nanase! Cepat atau lambat Rai pasti akan mengingatmu. Cobalah mulai saat ini, jalani kehidupanmu dengan santai." Kata Shoko sambil tersenyum. Aku menoleh dan mengangguk pada Shoko. Ya, benar aku memang harus menjalani kehidupanku dengan lebih santai. Dasar bodoh, jadi selama ini aku memang selalu was-was dalam menjalani kehidupanku. Haha...


bersambung...