Tuesday, March 9, 2010

The Story Part 44

Ruroya Rai


Saat ini aku sedang bersama Nanase di taman dekat kos. Aku bercerita banyak tentang Riku tapi tiba-tiba saja Nanase mendapatkan telepon dari seseorang. Awalnya, ketika Nanase mengambil ponselnya dan hendak menjawab, wajahnya terlihat gelisah dan sedikit jengkel. Hmm... kira-kira siapa ya yang menelepon Nanase? Aku sendiri juga penasaran.

Sekarang, Nanase sedang menjawab panggilan tersebut sehingga ia menjauh dariku. Aku hanya duduk di bangku taman sendirian sambil sesekali menyeruput ocha dingin yang aku bawa tadi. Aku menoleh ke arah Nanase dan melihat Nanase seperti sedang marah-marah. Ada apa ya? Aah, sial kau Nanase. Aku mulai penasaran. Tanpa berpikir panjang lagi, aku berjalan ke arah Nanase dan mendengar pembicaraannya sedikit.

"Sudahlah, Rukia! Kau harus segera memberitahukannya!" Aku mengernyitkan dahi ketika mendengar Nanase menyebutkan nama Rukia. Ada apa Nanase dengan Rukia? Terasa jeda sesaat.
"Kenapa Rukia? Dia adalah kekasihnya! Kau harus segera memberitahukannya, Rukia. Supaya ia dapat melupakan semuanya, aku risih jika ia terus-terusan depresi!" Apa... Nanase sedang membicarakanku? Aku tetap diam.
"Rukia... apa susahnya jika harus jujur bahwa kau tidak sengaja menabrak Riku?" DEG! Astaga, jantungku seperti baru ditusuk-tusuk oleh duri-duri tajam. Jadi, selama ini... Nanase menyembunyikan sesuatu dariku dan ternyata... Rukia-lah, orang yang membuat Riku celaka.

Tanpa berpikir panjang, aku berjalan mendekati Nanase. Nanase terkejut ketika melihatku, wajah Nanase langsung terlihat pucat begitu melihatku. Aku hanya diam sambil meminta ponsel Nanase. Nanase tetap diam dan segera memberikan ponselnya. Aku mengambil ponsel itu dengan tangan bergetar, untungnya air mataku belum keluar. Aku mendekatkan ponsel Nanase ke telingaku.

"Hei, Nanase! Jawab lah!" Teriak Rukia dari seberang sana. Aku berdeham dan mengambil napas panjang.
"Aku sudah mengambil ponsel Nanase." Kataku datar. Terasa jeda sesaat.
"Siapa kau? Aku sedang ada urusan dengan Nanase!" Aku jengkel mendengar cara bicara Rukia yang tidak tau aturan itu. Aku kira Rukia adalah gadis yang baik hati.
"Kau mau tau siapa aku?"
"Iya tentu saja. Kau dengan seenaknya mengganggu pembicaraanku dengan Nanase." Aku mengepalkan tanganku dan Nanase mulai merasa tidak enak kepadaku.
"Aku tidak peduli dengan urusanmu dengan Nanase. Tapi aku tau siapa kau, kau memang tidak tau aku tapi kau akan tau ketika aku memberikan ponsel ini ke Nanase lagi." Aku pun memberikan ponselnya ke Nanase.

Aku mulai merasakan air mataku mulai keluar. Aku menyeka air mataku cepat-cepat dan melihat ke arah Nanase. Nanase sudah menyebutkan namaku ke Rukia. Dengan cepat Nanase memberikan ponselnya kepadaku lagi.
"Bagaimana? Kau sudah tau identitasku kan?" Tanyaku sedikit menantang. Rukia hanya diam seribu bahasa.
"Rukia, sekarang kau harus menemuiku."
"Ta-tapi, aku masih ada urusan..." Aku pun mulai jengkel.
"Aku tidak peduli dengan urusanmu! Cepat temui aku!!! Aku butuh penjelasan!!" Akhirnya aku berteriak dan air mataku mulai keluar seperti biasa. Setelah itu aku langsung memutuskan sambungan telepon dan menangis sekencang-kencangnya sampai membuat orang-orang melihat ke arahku.

Maafkan aku, Riku. Maafkan aku!

Nanase Sakigawa


"Rukia... apa susahnya jika harus jujur bahwa kau tidak sengaja menabrak Riku?"

Itulah kata-kata yang pertama kali aku ucapkan ke Rukia dan membuat Rai mendekat ke arahku. Ternyata Rai mendengar semuanya. Sial! Kenapa Rukia harus meneleponku tadi? Sekarang aku kerepotan menenangkan Rai. Rai menganggapku bahwa aku menyembunyikan semuanya dari Rai. Aku hanya terus meminta maaf pada Rai. Ya, memang bodohnya di aku. Tapi, bagaimana cara untuk memberitahukan hal tersebut kepada orang yang terdekatnya? Hal tersebut tidaklah mudah.

Rai masih terus menangis. Di dalam benakku, aku hanya terus merasa bersalah. Aku menyesal tidak mengatakan semuanya pada Rai. Aku selalu saja membuatnya bersedih. Seperti waktu dulu.
"Rai, maafkan aku..." Aku berlutut agar dapat menyamakan tinggi dengan Rai yang sedang duduk di bangku taman sambil terus menutup wajahnya. Rai memukulku.
"Kenapa, Nanase? Kenapa... kenapa kau tega padaku?" Aku hanya diam, tidak bisa berkata apa-apa. Aku menyesali perbuatanku.

Tiba-tiba aku merasakan bahuku disentuh seseorang. Aku menoleh dan melihat Rukia sudah berdiri di dekatku dan Rai. Aku terkejut.
"Rukia?" Dengan cepat Rai juga mengangkat wajahnya. Aku tidak ingin membayangkan, apa yang akan terjadi di tempat ini.
"Aku datang... sesuai dengan perintahmu itu, Rai." Kata Rukia datar. Rai beranjak dari tempat duduknya dan berdiri sambil menatap Rukia.

Karena aku tidak mau mencari masalah. Aku segera menjauh dari mereka berdua dan duduk di salah satu bangku taman yang masih kosong. Aku duduk di bangku tersebut sambil melamun dengan pikiran kosong. Tidak tau harus memikirkan apa. Semuanya terasa begitu kacau. Rai sudah mengetahui semuanya dan aku tidak bisa menyembunyikan apa-apa lagi darinya.

Aku menengadah ke atas. Riku, aku mohon agar sekarang kau muncul di depanku dan memberikan solusi yang tepat. Aku sendiri sewaktu mendengar kau pernah bertunangan dengan Rukia, aku sangat terkejut. Kenapa kau tidak memberitahukannya kepadaku dari awal? Apalagi setelah aku tau bahwa kau masih membawa cincin tunangan tersebut ke mana-mana. Berarti kau masih mencintai Rukia kan'?



bersambung...

The Story Part 43


Ruroya Rai

Aku mengerjap-ngerjapkan mata ketika aku bangun pagi itu. Aku bingung, kenapa aku tidur sambil duduk seperti ini? Aku membuka mata dan melihat ke depan. Tiba-tiba saja aku melihat tubuh seseorang. Aku berdiri dan melihat wajah orang itu dengan tidak sadarkan diri. Saat aku mendekatkan wajahku ke orang itu, tiba-tiba aku terkejut.

“Nanase?!” Nanase pun langsung terbangun karena terkejut dengan teriakanku.
“Hei, apa yang sedang kau lakukan di kamarku?” Nanase menoleh dan mengernyitkan dahi.
“Rai, ini kamarku…” Aku menggeleng pelan.
“Ini kamarku, Nanase!” Nanase dengan cepat beranjak dari tempat tidur dan memutar kepalaku.
“Rai, lihat ke sekelilingmu. Apa di sini ada barang milikmu?” Aku pun diam seribu bahasa dan wajahku pun mulai memerah.

“Tadi malam kau ketiduran di kamarku. Karena aku tidak tega membangunkanmu, yaa… aku tidak membangunkanmu.” Kata Nanase sambil tersenyum. Astaga! Aku baru ingat, kemarin malam ketika aku menunggu Nanase selesai menelepon aku sempat ketiduran di kamar Nanase. Aduh!! Bagaimana ini? Wajahku sudah memerah seperti kepiting rebus.
“Ma-maaf, Nanase! Argh!!” Dengan cepat aku lari keluar dari kamar Nanase tapi tiba-tiba saja aku menabrak seseorang. Ternyata Takato yang aku tabrak.

“Aduh…” Takato merintih pelan.
“Takato, maafkan aku!!” Aku langsung meminta maaf pada Takato.
“Rai? Bukankah kamarmu di sana? Kenapa kau keluar dari kamar Nanase?” Tanya Takato sambil menunjuk kamarku lalu berganti menunjuk kamar Nanase. Setelah itu Takato mengernyitkan dahinya. Wajahku pun mulai memerah.
“Astaga, Rai! Apa yang kau lakukan dengan Nanase?” Tanya Takato sambil membantuku berdiri. Aku menahan rasa kesalku, kenapa semua orang berpikir seperti itu? Aargh!

“Aku… argh!! Aku tidak melakukan apa-apa!” Dengan kesal aku langsung masuk ke dalam kamarku. Kenapa aku begitu bodoh sampai ketiduran di tempatnya? Dasar bodoh!

Aku bersender pada pintu sambil mengatur napasku. Aku menyentuh dadaku, ya… memang berdetak dengan cepat. Aku menyeka keringat yang keluar dari dahiku. Kenapa aku sampai berkeringat juga? Dasar aneh. Aku berjalan ke arah lemari dan mengambil beberapa helai pakaian setelah itu pergi keluar untuk mandi.

Di luar aku bertemu dengan Nanase lagi. Kali ini aku memalingkan wajahku agar wajah yang merah ini tidak terlihat oleh Nanase. Aku terus berjalan ke arah kamar mandi, tapi Nanase terus menghadangku.

“Nanase, aku mau pergi mandi! Jangan halangi aku terus!” Kataku sambil memalingkan muka dari Nanase. Aku tau Nanase pasti bingung melihat tingkah lakuku yang aneh ini.
“Kenapa kau, Rai? Memalingkan wajahmu seperti itu?” Tanya Nanase. Aku menghentakkan kaki pelan, sial! Nanase seperti membaca pikiranku saja.
“Tidak apa, ayolah Nanase! Aku mau mandi!”
“Haha… tidak akan aku beri jalan jika kau belum menjawab ini…” Nanase menggantungkan kalimatnya. Aku bingung dan akhirnya aku memberanikan diri untuk mellihat ke arah  Nanase.
“Wuoo… wajahmu merah sekali? Haha…” Nanase tertawa ketika melihat wajahku, dengan cepat aku memukul Nanase pelan.
“Diam saja kau, ayo cepat apa yang mau kau katakan?”
“Haha… baiklah. Bagaimana sehabis kau mandi dan aku selesai sarapan, kita jalan-jalan di Shibuya?”

Ternyata Nanase mengajakku jalan. Aku pun mengangguk setuju dan setelah itu Nanase tidak menghalangiku lagi. Aku masuk ke dalam kamar mandi dan bersiap-siap untuk bertemu dengan air dingin yang menyegarkan. Ya, karena masih musim panas, udara di Tokyo ini begitu panas. Huaa… segarnya.

Nanase Sakigawa

Saat ini aku sedang terkekeh-kekeh sendirian di meja makan. Kenapa aku terkekeh-kekeh? Ya, karena aku tadi sempat melihat wajah Rai yang merah padam seperti kepiting rebus. Aku sendiri tidak mengerti kenapa wajahnya bisa sampai segitu merahnya. Aku terus tertawa-tawa sendiri sampai Saki dan Shoko bingung melihatku.

“Hei, Nanase, apa kau sedang gila?” Tanya Shoko sambil melempar Koran ke wajahku. Tapi tetap saja aku terus terkekeh-kekeh.
“Wah, jangan-jangan Nanase sedang jatuh cinta?” Tiba-tiba Saki berkata seperti itu dan menghentikan tawaku.
“Maksudmu apa, Saki-san?” Aku bertanya pada Saki dan disambut dengan tawa Shoko yang sudah terbahak-bahak. Aku menoleh ke arah Shoko dan menatapnya dengan jengkel.

“Apa yang kau tertawakan, Shoko?” Shoko dengan tidak berdosanya tetap saja tertawa.
“Hahaha… aku sendiri tidak tau. Haha! Mungkin saja… hahah… wajahmu itu, Nanase! Haha… aku tidak tahan lagi… hahaha…!!” Shoko terus tertawa sampai-sampai Saki menyediakan Shoko segelas air putih.

Aku hanya menggeleng-gelengkan kepala dan melihat Shoko meneguk air putih itu sampai habis. Aku melihat ke atas, kenapa Rai lama sekali? Aku terus melihat ke jam tanganku. Memang sih masih pagi, tapi aku takut Shibuya akan cepat ramai.

“Ada apa, Nanase? Kenapa kau dari tadi melihat ke arah jam? Memangnya kau ada janji dengan seseorang?” Tanya Shoko. Aku menoleh ke arah Shoko dan segera mengangguk sambil tersenyum. Aku juga tidak menjawab pertanyaan Shoko sehingga Shoko terus memanggilku sementara aku berjalan ke arah tangga dan mendapati Rai sedang turun dari tangga.

“Mau jalan sekarang?” Tanyaku sambil tersenyum. Shoko dari arah meja makan langsung berteriak.
“Ternyata dengan Rai ya, Nanase? Waaah!! Haha!” Hari ini Shoko memang sedang agak aneh. Aku menoleh ke arah Shoko dan tersenyum tipis. Setelah itu aku mengajak Rai untuk pergi.

Sesampainya di Shibuya. Untungnya belum begitu banyak orang yang melewati tempat ini. Aku mengajak Rai untuk pergi ke toko buku yang ada di daerah tersebut. Di toko buku aku membeli beberapa manga favoritku. Rai mengernyitkan dahinya ketika melihatku masih membeli barang seperti itu.

“Kau senang dengan manga ya?” Tanya Rai ketika aku hendak membayar manga tersebut. Aku mengangguk ke arah Rai sambil tersenyum.
“Haha… kau sama seperti Riku ya. Riku dia adalah otaku.” Kata Rai sambil tersenyum.
“Ya, hahaha… karena kami sahabat, tentu saja memiliki banyak kesamaan. Hehe…”

Rai dan aku terus berjalan-jalan di Shibuya. Kami juga pergi menonton di bioskop lalu pergi berbelanja bahan-bahan masakan untuk di kos nanti serta membeli beberapa buku mengenai keramik. Ya, walaupun sudah lama tidak masuk ke Gakurai Academy, sekarang aku merindukan keramikku yang belum selesai yang ada di Gakurai. Tapi, aku rasa Gakurai akan terasa sangat sepi tanpa kehadiran Riku.

Akhirnya kami berdua pun lelah karena kami sudah berjalan-jalan selama kurang lebih 5 jam. Saat ini aku sedang duduk di taman yang ada di dekat kos. Ya, sebelum kembali ke kos, aku dan Rai menyempatkan diri untuk bersantai di taman ini. Banyak anak-anak yang sedang bermain di taman ini.

“Nanase…” Panggil Rai. Aku menoleh dan menjawab Rai.
“Kau tau, Nanase. Di tempat ini aku sempat berbaikan dengan Riku karena waktu itu kami bertengkar.” Kata Rai sambil memegang botol yang berisikan ocha dingin. Aku mengernyitkan dahi ketika mendengar Rai berbicara seperti itu.
“Memangnya kau ada masalah apa dengan Riku waktu itu?” Aku memberanikan diri untuk bertanya pada Rai. Terasa jeda sesaat. Lalu Rai menghela napas.
“Waktu aku di kelas. Riku tiba-tiba menciumku. Tentu saja aku terkejut. Dengan cepat aku mengatakan hal yang seharusnya tidak perlu aku katakan. Dan kata-kata itu lah yang membuat Riku marah. Akhirnya aku hanya menyesali perbuatanku, lalu aku pergi ke taman ini, aku juga tidak pergi ke Gakurai pada waktu itu…” Rai menggantungkan kalimatnya.
“Lalu, kau bertemu dengannya di sini?” Tanyaku dan disambut dengan anggukan Rai.

Ketika Rai hendak melanjutkan ceritanya, ponselku tiba-tiba berdering. Aku terkejut dan langsung mengambil ponselku. Aku melihat ke arah layar dan nama Rukia tertera di layar tersebut. Aduh, ada apa lagi kali ini?


bersambung...

Sunday, March 7, 2010

The Story Part 42

Ruroya Rai


Aku menunggu Nanase berjam-jam tapi tetap saja ia tidak muncul. Ke mana ya Nanase itu? Aku mencoba menghubungi ponselnya tapi tetap saja tidak tersambung. Sepertinya ponsel Nanase tidak menyala. Aku terus menunggu dan menunggu sampai akhirnya ponselku berdering juga. Di kuil ini pun para pengunjungnya juga sudah mulai sedikit. Aku menjawab panggilan dari ponselku.

"Rai, Nanase sudah kembali?" Shoko meneleponku seperti biasa untuk mengetahui keberadaan Nanase.
"Belum. Ponsel Nanase pun sepertinya juga dimatikan. Bagaimana ini Shoko? Apa mau ditunggu terus?" Aku bertanya pada Shoko.
"Ya, lebih baik kau tunggu Nanase sedikit lagi. Apa kau mau meninggalkan Nanase?"
"Tentu saja tidak, Shoko! Kenapa kau berbicara seperti itu?" Shoko tertawa kecil dari seberang sana.
"Maaf. Hehe... baiklah, kau tunggu Nanase ya. Aku akan meneleponmu lagi nanti."

Aku mengembalikan ponselku ke dalam tas jinjingku. Aneh rasanya, duduk sendirian di taman ini. Aku beranjak dari tempat duduk dan mulai berjalan ke tempat lain. Aku berjalan melewati beberapa toko-toko yang menjual makanan dan minuman. Kebetulan sekali, aku sedang merasa kelaparan juga kehausan. Aku membeli beberapa makanan dan minuman ketika aku mendengar percakapan antara dua orang. Aku menoleh ke arah sumber suara tersebut dan mendapati Nanase sedang bersama... seorang gadis? Siapa gadis itu? Aku bersembunyi di antara pepohonan agar aku bisa melihat wajah gadis itu dari dekat. Ternyata gadis itu adalah... Hanase Rukia? Sedang apa ia di sini?

Aku terus memperhatikan mereka dan akhirnya percakapan mereka selesai. Tapi bodohnya aku, aku tidak dapat mendengar apa yang sedang mereka bicarakan sama sekali. Ya, karena aku kurang dekat ke arah mereka. Aku melihat Nanase berjalan ke arahku, dengan cepat aku menyembunyikan diriku agar tidak ketahuan oleh Nanase. Setelah itu aku berlari ke toko makanan terdekat supaya Nanase dapat melihatku.

"Rai!" Seperti yang aku pikirkan, Nanase dengan cepat dapat mengenaliku. Aku menoleh ke arah Nanase dan tersenyum.
"Hei, Nanase! Ayo cepat!" Nanase berlari kecil ke arahku.
"Kau ke mana saja, Nanase?" Aku bertanya pada Nanase sambil memberikan beberapa makanan untuk dimakan Nanase.
"Aku? Tadi aku baru membeli lentera lagi, karena antri makanya aku lama. Maaf ya." Nanase berbohong kepadaku. Tapi aku sudah tidak bisa ditipu lagi, karena tadi aku sudah melihatnya. Nanase sedang bersama dengan seorang gadis.
"Oh, haha... ayo, kita sudah ditunggu oleh yang lain." Aku mengulurkan tanganku dan Nanase menerima uluran tanganku.

Setelah itu kami berdua langsung mencari Shoko dan yang lainnya serta segera menuju pulang ke kos.

Nanase Sakigawa


Setelah memeluk Rukia, aku segera pergi meninggalkannya. Aku sudah mengerti dengan semua penjelasannya. Tapi, Rai masih belum tau tentang hal ini. Aku sendiri juga bingung bagaimana cara untuk memberitahu Rai. Saat aku keluar dari tempat persembunyian itu, aku merasa seperti diikuti seseorang. Aaa, mungkin hanya perasaanku saja.

Aku kembali ke area festival yang sekarang para pengunjungnya sudah mulai sedikit. Aku menoleh ke toko-toko yang ada di area ini lalu aku melihat sosok Rai.
"Rai!" Aku berteriak dan disambut dengan teriakan Rai juga. Aku berjalan ke arah Rai dan Rai memberiku sebuah makanan. Setelah itu, aku diajak Rai menemui yang lain karena kami semua sudah mau kembali ke kos.

Sesampainya di tempat kos, aku langsung pergi ke kamarku. Aku merenggangkan otot-ototku dan langsung membantingkan tubuhku ke atas tempat tidurku. Tiba-tiba pintu kamarku diketuk seseorang. Aku menoleh ke arah pintu kamarku. Untungnya pintu kamarku tidak dalam keadaan terkunci.
"Masuk!"
"Nanase? Apa aku tidak mengganggumu?" Ternyata Rai yang berkunjung ke kamarku. Aku menoleh ke arah Rai dan menggeleng pelan. Rai duduk di samping tempat tidurku.
"Ada apa, Rai? Kenapa kau tidak langsung tidur saja?" Tanyaku sambil bangkit untuk duduk. Rai menggeleng pelan.
"Aku tidak bisa tidur."

Aku tersenyum lalu mengulurkan tanganku untuk membelai rambut Rai. Rai menatapku dan matanya yang indah seperti memancarkan sinar.
"Kenapa tidak bisa tidur?" Aku bertanya pada Rai.
"Sepertinya, aku sedang banyak pikiran. Jadi, aku tidak bisa tidur dengan tenang. Jadi, apa kau mau menemaniku berbincang-bincang sebentar?"
"Haha... dasar kau, Rai. Kenapa kau tidak pergi ke tempat Shoko? Lagi pula, kalian sesama wanita ini."
"Shoko sudah pulas. Aku tidak mau mengganggunya dan Saki sepertinya juga sudah lelah. Kalau Takato... haha, jangankan Takato, saat ini saja ia sudah terbang ke alam mimpi." Rai tertawa kecil. Aku pun tersenyum melihat tingkah laku Rai.
"Haha... baiklah, apa yang mau kita bicarakan hari ini ya?" Aku mengusap-usap wajahku dan tiba-tiba saja ponselku berdering. Aku melihat ke arah layar, tertera nama Rukia di layar ponselku.

Gawat, Rukia yang menelepon. Rai tidak boleh tau tentang ini. Aduh, bagaimana ini? Aa, aku baru ingat. Kamarku kan' ada balkonnya. Dasar bodoh.
"Rai, aku ke balkon dulu ya, menerima panggilan." Rai pun mengangguk tanda mengerti.

Dengan cepat aku menerima panggilan tersebut.
"Ada apa, Rukia?" Tanyaku dengan cepat.
"Kau terdengar gesah-gesah, ada apa?" Rukia bertanya balik kepadaku. Aku menghela napas.
"Iya, aku harus cepat-cepat. Teman-temanku menungguku. Maaf."
"Aku hanya ingin meminta maaf atas kejadian waktu itu. Aku sungguh menyesal."
"Ya, tidak apa-apa. Tugasmu sekarang adalah kau harus menemui Rai dan menjelaskan semuanya, termasuk tentang kau pernah bertunangan dengan Riku."
"Ya, aku tau."
"Baiklah kalau begitu. Sudah dulu aku dipanggil teman-temanku."

Setelah itu perbincangan selesai. Aku kembali ke dalam kamarku dan mendapati Rai sudah tertidur pulas di samping tempat tidurku. Karena aku tidak enak membangunkannya, aku mengambil selimut cadangan yang ada di lemariku dan menyelimuti Rai. Lalu aku naik ke atas tempat tidurku dan langsung menutup hari.



bersambung...

The Story Part 41

Ruroya Rai


Di malam yang indah ini, aku duduk di sebelah Nanase di taman kuil sambil melihat ke atas langit. Melihat lentera-lentera yang melayang-layang indah di sana.
"Indahnya..." Gumamku pelan. Nanase menoleh.
"Kau mengatakan sesuatu, Rai?" Tanya Nanase dan dengan cepat aku menggeleng.
"Aku hanya berbicara pada diriku sendiri." Kataku sambil tersenyum.

"Seharusnya Riku masih bisa melihat semua ini." Kataku sambil mengangkat tangan ke atas.
"Iya." Aku menoleh ke arah Nanase dan menyenggolnya pelan.
"He-hei, ada apa Rai? Apa salahku?" Aku terkekeh pelan.
"Tidak ada. Aku hanya iseng saja." Nanase menatapku lalu tertawa kecil. Senang rasanya dapat kembali tertawa seperti ini.
"Rai, apa kau mau pergi bersamaku suatu saat nanti?" Nanase tiba-tiba bertnya seperti itu kepadaku. Aku menoleh dan tersenyum ke arah Nanase.
"Tentu saja aku mau, arigato Nanase."

Semalaman kami berdua terus berbincang-bincang tanpa henti. Nanase menceritakan tentang keluarganya. Tapi, Nanase lebih banyak bercerita mengenai pelayannya, Chou dibanding keluarganya sendiri. Ada apa ya? Kata Nanase, seharusnya aku tau tentang masalah keluarga Nanase jika aku tidak kehilangan ingatan seperti ini. Sungguh, aku terlihat seperti orang yang menyedihkan. Tidak tau apa-apa tentang masa lalu temanku. Ya, karena aku hilang ingatan sebagian.

Hari pun semakin larut. Tapi kuil ini masih dipenuhi dengan manusia-manusia yang masih menyaksikan lentera-lentera tersebut. Aku menoleh ke arah Nanase yang duduk di sampingku. Wajahnya tampak terkejut karena melihat sesuatu. Aku mengernyitkan dahi. Ada apa dengan Nanase?

"Nanase? Ada apa?" Nanase menundukkan kepalanya lalu ia beranjak dari tempat yang ia duduki.
"Rai, aku harus pergi sebentar. Kau tunggu saja di sini. Aku tidak akan lama." Ketika aku hendak memanggil Nanase lagi, Nanase sudah menghilang dalam kerumunan. Aku mencari-cari sosok Nanase tapi tetap saja, tidak ditemukan. Nanase, ke mana ya?

Aku menghela napas panjang dan duduk di taman kuil itu sendirian. Aku menengadah ke langit, lentera-lentera tersebut masih melayang indah di atas langit. Kesepian, itulah yang aku rasakan saat ini. Tapi, aku tidak boleh berpikir seperti itu lagi. Nanase sudah kembali, aku tidak kesepian. Ingat, aku tidak kesepian!! Tiba-tiba ponselku berdering. Aku segera menjawabnya tanpa melihat ke layarnya terlebih dahulu.

"Rai? Kau di mana?" Sepertinya suara Shoko.
"Shoko?"
"Iya, ini aku Shoko. Kenapa kau tidak lihat dulu namanya di layar baru kau menjawabnya?" Kata Shoko dari seberang sana.
"Maaf. Aku buru-buru saat menjawabnya tadi."
"Baiklah. Kau ada di mana, Rai?" Tanya Shoko khawatir. Beberapa hari ini semua orang lebih sering khawatir dengan keadaanku. Ya, aku ini memang mengkhawatirkan.
"Aku ada di taman kuil ini. Tadinya aku sedang bersama Nanase. Tapi tiba-tiba Nanase bilang mau pergi sebentar. Ada apa memangnya, Shoko?" Shoko menghela napas.
"Sebentar lagi kita semua akan kembali ke kos. Nanase pergi ke mana?" Aku menggeleng pelan dan aku menyadari bahwa Shoko tidak melihat wajahku saat ini.
"Aku tidak tau. Ia hanya bilang mau pergi sebentar. Tidak akan lama. Katanya sih seperti itu."
"Baiklah. Jika kau sudah bertemu dengan Nanase lagi, telepon aku ya."

Setelah itu sambungan terputus. Aku menghela napas panjang. Nanase, cepatlah kembali, aku tidak mau sendirian dan aku juga mau pulang. Aku sudah lelah...

Nanase Sakigawa


Apa aku salah lihat? Apa benar gadis yang tadi lewat di depanku adalah Rukia? Aku harus mengikuti gadis itu. Kalaupun itu Rukia, aku harus bertanya kepadanya dan aku tidak akan peduli dengan pandangan yang meminta dikasihani itu. Aku sudah tidak akan tertipu lagi olehnya. Dengan cepat aku pergi meninggalkan Rai dan langsung menembus kerumunan. Setelah keluar dari kerumunan aku melihat gadis itu berdiri di salah satu tempat yang tersembunyi sambil mengeluarkan sesuatu. Aku berjalan mendekat untuk melihat lebih jelas.

Aku melihat sebuah cahaya. Tiba-tiba saja aku ingat warna cahaya itu. Warna itu adalah warna... CINCIN RIKU! Astaga kenapa ada di Rukia? Aku harus segera memintanya kembali. Benda itu tidak diperuntukkan untuk orang lain. Benda itu adalah milik Riku.

"Rukia?" Aku memanggil nama Rukia dengan hati-hati. Gadis itu menoleh dan benar, gadis itu memang Rukia. Rukia terkejut dengan kedatanganku.
"Na-Nanase?" Rukia pun mundur selangkah. Aku mendekati Rukia.
"Apa yang kau lakukan di tempat seperti ini?" Aku menatap Rukia. Tiba-tiba saja Rukia tersenyum. Ya, senyuman itu lagi, senyuman yang bisa membuat hati orang-orang merasa kasihan.
"Tentu saja karena ada Festival Obon. Kau ini bagaimana. Hehe... Nanase sendiri, kenapa kau ada di sini?" Aku semakin jengkel dengan tingkah laku Rukia.
"Rukia, aku bertanya jika kau memang mengikuti Festival Obon ini, kenapa kau bisa ada di tempat tersembunyi ini?" Rukia pun diam seribu bahasa. Ketiak Rukia bergerak, tangannya memancarkan cahaya. Cepat-cepat Rukia menyembunyikan tangannya.

Aku mengernyitkan dahi sambil berkacak pinggang.
"Apa yang kau sembunyikan itu, Rukia?" Aku langsung bertanya pada Rukia tanpa berbasa-basi terlebih dahulu. Rukia menggeleng pelan. Dengan cepat aku berjalan ke arah Rukia dan menarik tangannya.
"Nanase! Apa yang kau lakukan?! Hei!!" Rukia mulai berteriak-teriak. Karena aku takut teriakan Rukia mengundang rasa curiga orang lain, aku mendorong Rukia sampai ke bagian dalam tempat tersembunyi itu.
"Jika kau tidak mau mengaku, aku tidak akan melepaskan cengkeraman ini."
"Baiklah! Aku akan menjelaskannya!" Rukia pun menepis tanganku lalu melepas cincin tersebut. Ia memperlihatkannya kepadaku.
"Sekarang berikan cincin itu kepadaku dan jelaskan kepadaku bagaimana kau bisa mendapatkan cincin ini?" Rukia memberikan cincin tersebut.
"Aku mengikutimu waktu kau pergi ke makam Riku. Lalu aku melihatmu meletakkan cincin itu, aku tertarik untuk melihat cincin itu dan berakhirlah aku mengambil cincin tersebut." Aku memiringkan kepala.
"Kenapa kau mengambilnya?"

Rukia berjalan ke arah pohon dan melihat ke atas. Aku hanya terus menatap Rukia sementara Rukia membelakangiku.
"Ada satu rahasia yang belum kau ketahui dariku." Rukia menoleh ke arahku sambil tersenyum. Kali ini bukan senyuman yang seperti biasa. Senyuman kali ini terlihat begitu licik.
"Apa itu... Rukia?" Aku bertanya tanpa melihat ke arah Rukia sedikitpun.
"Sebenarnya aku adalah tunangan Riku. Aku dan Riku sudah bertunangan selama 2 tahun. Tapi waktu itu Riku membatalkan pertunangan tersebut dan aku membenci Riku. Selama ini aku hanya pura-pura tidak kenal Riku dan Riku pun juga seperti itu. Tiba-tiba saja aku dengar berita bahwa Riku mempunyai kekasih baru. Hal itu tentu mengejutkan diriku. Aku begitu cemburu. Bukan... yang benar adalah sangat cemburu." Aku mengepalkan tanganku. Aku menatap Rukia.
"Lalu, karena rasa cemburu mu itu, kau tega membuat Riku celaka? Manusia macam apa kau, Rukia?" Dengan cepat Rukia menghadap ke arahku. Lalu... PLAK! Rukia menamparku. Matanya pun sudah basah dengan air matanya.
"Aku tidak pernah mempunyai niat untuk membuat Riku celaka hanya karena aku dihantui rasa cemburu! Kecelakaan itu pun bukan karena disengaja, Nanase! Aku tidak tau! Aku tiba-tiba menabraknya, aku sendiri terkejut ketika tau bahwa aku menabraknya!" Aku hanya diam seribu bahasa.

"Aku tau kau pasti berpikir kenapa aku tidak bertanggung jawab, waktu itu aku mau turun dari mobil. Tapi aku melihat kau berjalan ke arah Riku, aku takut bertemu denganmu Nanase! Aku takut kau marah padaku..." Tangisan Rukia mulai pecah dan akhirnya Rukia jatuh berlutut di hadapanku. Ia menangis sekencang-kencangnya, seakan-akan ia baru merasa kehilangan Riku saat ini. Aku berlutut dengan perlahan lalu tanpa berpikir panjang, aku memeluk Rukia. Aku tidak tau apa yang harus aku lakukan lagi. Semua ini terasa begitu menyakitkan...



bersambung...

Thursday, March 4, 2010

The Story Part 40

Ruroya Rai

Sial!! Kenapa tadi aku begitu bodoh? Saat ini aku sedang berada di kamarku sendiri, menyembunyikan wajahku yang sudah memerah di bawah bantal sambil sesekali menggerutu karena kesal. Aku tidak percaya aku dapat melakukan hal sebodoh itu. Kenapa saat aku menindih tubuhnya, aku tidak langsung beranjak? Dan lebih bodohnya lagi, aku menatapnya lebih lama dari yang kubayangkan. Arrgh!! Bodoh!!

Aku berguling-guling di atas tempat tidurku, menyesali perbuatan yang bodoh tadi. Anehnya, jantungku berdetak begitu cepat. Aku tidur terlentang sambil menatap langit-langit. Lalu aku menyentuh dadaku. Sampai sekarang pun jantungku masih berdetak dengan begitu cepat. Kenapa ya? Aku menghela napas lalu aku menoleh ke arah jendela dan melihat matahari hampir tenggelam. Sebentar lagi aku harus bersiap-siap untuk pergi ke kuil dan melepas lentera bersama dengan yang lainnya.

Walaupun dalam keadaan terganggu saat ini, aku senang akhirnya tempat kos ini dapat kembali seperti pada awalnya. Nanase sudah kembali ke kos dan aku dapat merasa lebih tenang walaupun Riku tidak ada. Aku melihat cincin yang tergantung indah di jari manisku lalu dengan lembut aku mengecup cincin tersebut. Cincin ini akan aku kenang selamanya. Cincin pemberian cinta pertamaku.

"RUROYA RAISHIRU!!" Aku tersentak dari lamunanku karena mendengar teriakan dari luar. Sepertinya Shoko, ya, suara teriakan itu memang milik Shoko. Aku berjalan dengan langkah gontai. Membuka pintu perlahan.

"Rai!! Ayo bangun!!" Shoko berteriak tepat di depan wajahku.
"Shoko, aku tidak sedang tidur! Aku hanya tidur-tiduran saja!"
"Ya sudah, cepat siap-siap! Beberapa menit lagi kita semua akan berjalan ke kuil." Aku terkejut saat Shoko mengatakan kata 'berjalan'.
"Berjalan? Apa aku tidak salah dengar?" Aku bertanya apda Shoko. Shoko menoleh ke arahku dengan tatapan jengkel.
"Naik mobil Takato, Rai! Ada apa denganmu hari ini?" Tiba-tiba Nanase keluar dari kamarnya.
"Rai baru saja menimpa tubuhku." Nanase berkata seperti itu dengan begitu santainya. Aku membelalakan mata karena terkejut.
"Rai? Apa benar itu? Astaga!"

Sial kau Nanase!! Arrgh!!! Dengan geram aku menghiraukan pertanyaan Shoko dan kembali masuk ke dalam kamar. Aku bersender pada pintu sambil menyilangkan tangan di depan dada. Nanase bodoh! Untuk apa ia mengatakan hal tersebut di depan Shoko? Apa ia tidak mengerti betapa malunya aku saat ini? Sial!!
"Rai, jangan lama-lama ya. Sebentar lagi mau jalan." Teriak Shoko dari luar dan aku hanya bisa menghela napas. Ya, apa boleh buat.

Setelah selesai bersiap-siap, aku keluar dari kamar dan langsung menuju lantai bawah. Ternyata semua orang sudah menungguku. Aku tidak peduli juga dengan ocehan mereka. Aku hanya masih kesal dengan tindakan Nanase tadi yang tidak tau diri. Nanase menatapku dan aku langsung membuang muka. Kami semua berjalan masuk ke dalam mobil Takato. Menyebalkannya, aku harus duduk bersama Nanase di belakang sedangkan Shoko duduk di depan di sebelah kursi pengemudi.

Selama perjalanan aku tidak berbicara dengan Nanase sama sekali. Aku hanya terus menatap ke jendela mobil. Tiba-tiba saja ponselku bergetar. Aku melihat ke layar ponselku, ada 1 pesan masuk. Kira-kira dari siapa ya?

From: Sakigawa, Nanase
Rai, masih marah ya? Maafkan aku, Rai. Tadi aku terlalu lancang. Maaf ya? Mau kan' kau memaafkan aku?

Aku menghela napas dan menoleh ke arah Nanase. Ia hanya mengukir senyuman di wajahnya. Aku kesal dan segera memberikan balasan.

To: Sakigawa, Nanase
Tadi sungguh memalukan, Nanase! Kenapa kau tega padaku? :( Aku masih kesal padamu. Jika kau mau dimaafkan, buatlah aku tersenyum nanti, baru aku maafkan setelah itu. Itu adalah hukuman karena kau sudah mempermalukan diriku.

Aku tersenyum ketika mengirim pesan itu untuk Nanase. Aku menoleh dan melihat Nanase yang sedang membaca pesan tersebut. Setelah beberapa detik, Nanase mengacungkan jempolnya tanda setuju. Aku menutup mulutku, hampir saja aku akan tertawa saat melihat tingkah laku Nanase.

Memang sebenarnya aku tidak bisa kesal pada Nanase. Aku sendiri tidak mengerti kenapa. Tapi, semakin aku mendekati laki-laki itu aku semakin mengenalnya, meskipun aku tidak mengingatnya saat ini.

Nanase Sakigawa

Akhirnya tiba di kuil juga. Kuil yang kami semua kunjungi ternyata juga sudah ramai dengan orang-orang yang mau melepas lentera bersama pada Festival Obon ini. Aku dan yang lainnya membeli sebuah lentera yang cantik bersama-sama. Untungnya saat kami akan membeli lentera, lenteranya belum banyak yang habis. Awalnya aku kira, kita semua tidak akan mendapat lentera karena kuil ini sudah dipadati dengan lautan manusia.

Acara pun dimulai. Setelah kami semua mengucapkan doa untuk memohon sesuatu, kami diperbolehkan untuk melepas lentera tersebut. Di langit malam, lentera tersebut melayang-layang sambil memancarkan sinar kekuning-kuningan yang berasal dari dalamnya. Aku tiba-tiba ingat dengan hukuman yang diberi Rai tadi. Cepat-cepat aku mendekati Rai yang sedang asyik-asyiknya menatap lentera-lentera tersebut.

"Lenteranya indah ya!" Kataku ketika aku mendekati Rai. Rai menoleh lalu mengangguk sambil tersenyum.
"Rai, apa aku sudah dimaafkan?" Tanyaku sedikit berharap.
"Belum..." Jawab Rai pendek. Aku menghel napas.
"Ayolah, Rai lagipula kau sudah tersenyum tadi. Aku mohon, Rai! Oh ya, apa aku harus berlutut di hadapanmu agar kau mau memaafkanku?" Dengan cepat Rai menoleh, lalu ia tertawa terbahak-bahak. Aku mengernyitkan dahi mencoba untuk menangkap arti dari semua itu.

"Nanase, jangan bertindak bodoh. Haha... baiklah, kau kumaafkan. Haha... wajahmu, Nanase. Aku tidak tahan, hahaha! Lagi pula, aku juga tidak begitu kesal padamu, hahah!" Dengan jengkel aku hanya mendecakkan lidah lalu memukul Rai pelan.
"Ternyata kau memang masih senang mengerjaiku." Rai menghentikan tawanya. Aku menoleh dan menatap wajah bingung Rai.
"Maksudmu apa, Nanase?" Tanya Rai.

Aku menggeleng pelan lalu tersenyum.
"Bukan sesuatu yang penting. Kau tidak perlu khawatir." Untungnya Rai dengan cepat menganggukkan kepalanya.
"Rai, apa kau mau jalan-jalan denganku sebentar?" Tanyaku sambil mengulurkan tangan.
"Ya, tentu saja." Rai meraih tanganku dan kami berjalan-jalan di sekitar kuil bersama.



bersambung...

The Story Part 39

Ruroya Rai

" Rai, jaga dirimu baik-baik di Tokyo ya!"

Seperti biasa, saat ibu akan melepas kepergianku, pasti ibu akan menangis-nangis. Awalnya, ibu melakukan hal tersebut untuk mencegah kepergianku.

"Tenang saja, bu. Ibu tidak perlu khawatir. Nanti aku akan mengirim surat ketika aku sampai di Tokyo." Setelah mengatakan hal tersebut, aku segera masuk ke dalam shinkansen dan melambai pada keluargaku.

Hari ini adalah Festival Obon. Aku memutuskan untuk mengunjungi makam Riku juga makam nenekku yang ada di Tokyo. Aku ingin sekali bertemu dengan Riku. Aku harap aku dapat bertemu dengannya nanti. Dalam perjalanan, aku hanya terus memandang ke arah luar jendela. Melihat laut-laut yang indah dan hamparan sawah yang luas. Andai saja Riku masih ada di sini, mungkin aku bisa pergi berkunjung ke laut atau tempat indah lainnya bersama Riku.

Setelah perjalanan yang memakan waktu cukup lama, akhirnya shinkansen tiba di stasiun Tokyo. Aku keluar dari shinkansen dan bergegas untuk mencari taksi. Saat sedang mencari taksi tiba-tiba ada seseorang yang berteriak memanggilku. Aku terkejut dan segera menoleh, siapa tau ada orang tidak tau diri. Ternyata, yang memanggilku adalah Takato.

"Rai!!" Takato berlari kecil ke arahku. Aku tersenyum ke arah Takato.
"Hai, Takato!"
"Rai! Senang rasanya kau bisa kembali. Ayo aku antar kau ke kos." Aku mengangguk dan Takato membantuku membawa barang-barangku.

Ternyata Takato sudah memiliki mobil pribadi. Selama aku di Sapporo, perubahan pada teman-temanku juga berubah dengan pesat. Contohnya ya, seperti Takato ini.
"Takato, kau punya mobil juga akhirnya." Kataku sambil tersenyum. Takato hanya tertawa kecil.
"Haha, aku bekerja begitu keras untuk mendapatkan mobil ini. Kau tau, aku sampai berdebat dengan yang lainnya ketika akan membeli mobil ini." Aku hanya tertawa kecil dan selama perjalanan, aku dan Takato terus berbincang-bincang.

"Hei, Takato. Kau tidak kembali ke kampung halamanmu untuk merayakan Festival Obon?" Terasa jeda sesaat. Untungnya sedang lampu merah, aku menoleh dan mendapati Takato sedang melamun. Aku memanggil lagi dan Takato langsung menoleh sambil melukiskan senyumannya.
"Maaf. Keluargaku sudah tiada semua akibat bencana alam waktu itu."
"Oh maaf, Takato."
"Tapi, tidak apa Rai. Hari ini aku juga akan mengunjungi makam keluargaku. Tempatnya ada di sini." Aku hanya mengangguk pelan. Aku tidak pernah menyangka cerita kehidupan Takato seperti ini. Takato yang selalu ceria, ternyata memiliki kisah pahit juga.

Sesampainya di tempat kos, Takato membantuku membawa barang-barangku. Rasanya begitu senang, setelah beberapa lama di Sapporo, akhirnya aku dapat kembali ke tempat kosku tercinta. Takato mengajakku masuk dan aku mengangguk pelan sambil tersenyum. Ketika aku membuka pintu utama kos ini...

"KEJUTAN!!" Shoko, Saki, dan Takato ternyata sudah mempersiapkan kedatanganku. Aku menutup mulutku karena terkejut. Lalu tertawa kecil.
"Astaga, kalian melakukan semua ini untukku?" Aku pun bertanya pada mereka semua.
"Tentu saja, karena hari ini kepulanganmu kami membuat semua ini. Tapi..." Shoko tiba-tiba menggantungkan kalimatnya dan ia menoleh-noleh ke belakang.
"...aku yang membuat semua ini, Rai." Terdengar suara yang berat yang begitu aku kenal. Orang itu keluar dari persembunyiannya.

"Nanase?!" Aku terkejut ketika melihat laki-laki itu di sini.
"Selamat datang kembali, Rai." Aku tidak percaya, laki-laki yang saat ini berdiri di hadapanku adalah Nanase. Aku menutup mulutku dan berlari ke Nanase lalu memeluknya.

"NANASE!!" Aku terus memeluk Nanase. Tapi, kenapa ia bisa ada di sini? Bukankah ia harus ada di rumahnya sekarang?
"Rai, aku akan kembali tinggal di sini." Seperti baru saja membaca pikiranku, Nanase berkata seperti itu. Aku menatap Nanase.
"Benarkah? Memangnya kau tidak dilarang ayahmu?" Nanase menggeleng pelan lalu tersenyum.
"Bukan begitu. Aku pergi lagi dari rumah saat ayahku juga pergi ke luar kota. Tapi kali ini aku sudah izin pada orang-orang rumahku. Jadi, tenang saja." Kata Nanase dan aku pun tersenyum lalu mempererat pelukanku dengan Nanase.

Aku merasa begitu bahagia. Nanase sudah kembali ke tempat kos dan aku tidak akan merasa kesepian lagi. Aku bersyukur dapat bertemu dengan Nanase lagi.

Nanase Sakigawa

Setelah acara penyambutan tersebut, kami semua-aku, Rai, Shoko, Takato, dan Saki-bersiap-siap untuk pergi ke tujuan masing-masing. Aku dan Rai akan pergi mengunjungi makam Riku dan makam nenek Rai, aku memang mengenal nenek Rai. Lalu Shoko akan mengunjungi makam kakak perempuannya., Takato akan mengunjungi makam seluruh keluarganya, dan terakhir Saki akan mengunjungi makam anak laki-laki dan makam suaminya.

Kami semua berpencar ketika sampai di pemakaman. Pemakaman hari ini juga terlihat ramai karena banyak keluarga yang datang untuk mendoakan almarhum-almarhum keluarga mereka. Aku berjalan bersama dengan Rai menuju makam nenek Rai. Kami berdua mengucapkan beberapa doa serta meletakkan beberapa bunga di atas batu nisan makam nenek Rai.

Selanjutnya, aku berjalan bersama Rai menuju makam Riku. Sesampainya di depan makam Riku, aku terkejut ke mana cincin itu pergi? Astaga, apa ada yang mengambilnya?
"Nanase? Ada apa?" Tiba-tiba Rai bertanya padaku. Dengan cepat aku menggeleng. Rai mengangguk lalu kembali menatap makam Riku.

"Riku, hari ini aku datang untuk mengunjungimu. Baru saja aku kembali dari Sapporo. Bagaimana suasana di sana Riku? Kapan kau akan mengunjungiku dan Nanase lagi?" Kata Rai sambil meletakkan sebuket bunga matahari kesukaan Riku. Aku menyentuh bahu Rai.
"Kau tau, Riku... a-aku masih merindukanmu... aku ingin... aku ingin bertemu denganmu..." Rai mulai mengeluarkan air matanya, namun cepat-cepat Rai menyeka air matanya. Aku merangkul Rai.
"Tapi tidak apa, Riku. Kau tidak perlu khawatir. Saat ini, Nanase akan selalu ada untuk menemaniku..."

Aku hanya diam seribu bahasa. Tidak tau harus berkata apa. Rai tiba-tiba menyikuku agar aku segera bicara pada Riku. Aku menghela napas dan memasukkan kedua tanganku ke dalam saku celana. Aku berjalan mendekat ke arah makam Riku.

"Hei, Riku. Aku tidak tau harus berbicara apa. Karena kemarin aku baru mengunjungimu juga. Kau tau, cincin itu hilang..." Aku berbisik agar kata-kataku tidak terdengar oleh Rai.
"Aku tidak tau bagaimana cara benda itu hilang. Tapi aku yakin aku akan segera menemukannya dan mengembalikannya kepadamu..."

Tiba-tiba aku merasa tanganku ditarik oleh Rai. Aku menoleh.
"Nanase, kau bicara apa saja dengan Riku? Aku mau tau!" Aku tersenyum lalu mengangguk.
"Riku, berbahagialah di sana. Aku berjanji akan menjaga Rai untukmu. Kau memang sahabat baikku, Riku!" Aku berteriak di depan makam Riku dan membuat mata semua orang tertuju padaku. Rai memukulku pelan dan aku hanya terkekeh-kekeh saja. Setelah itu Rai mengajakku untuk meninggalkan pemakaman. Tak lupa juga kami berdua mengucapkan selamat tinggal pada Riku. Aku dan Rai bertemu dengan yang lainnya-Shoko, Takato, dan Saki-di depan gerbang utama area pemakaman tersebut.

Kembali ke tempat kos, Shoko mengadakan sebuah rapat. Shoko memang senang menggelar rapat bersama karena di tempatnya bekerja, ia memang sering mengikuti rapat. Shoko langsung memukul meja membuat seluruh mata menatap ke arahnya.

"Semuanya, mohon dengarkan kata-kataku!" Aku menoleh dan melihat Shoko yang berbicara dengan begitu serius. Shoko merencanakan untuk melepas lentera di kuil bersama-sama nanti malam. Aku dan yang lainnya pun hanya mengangguk tanda mengerti. Setelah itu rapat pun selesai.

Aku berjalan masuk ke dalam kamar dan melihat ke arah meja yang ada di sebelah tempat tidurku. Surat itu masih ada di sana. Surat yang aku tulis di kertas kusam yang diperuntukkan untuk Rai pada saat aku pindah rumah. Aku mengambil surat tersebut dan membacanya ulang.

"Nanase, kau..." Cepat-cepat aku menyembunyikan surat tersebut di saku celanaku. Sial, Rai yang datang.
"Nanase? Apa yang sedang kau sembunyikan?" Tanya Rai dan aku hanya tersenyum-senyum sendiri.
"Bukan sesuatu yang penting." Jawabku.
"Bukan sesuatu yang penting? Coba aku lihat." Rai mendekatiku dan aku mundur selangkah.
"Tidak boleh. Ini rahasia pribadi!" Rai menghiraukan kata-kataku dan terus mendekatiku.
"Rai, kalau aku bilang tidak bisa ya tidak bisa!"
"Aku mau tau, Nanase! Hei, ayo perlihatkan... arrrgh!"

Setelah sadar ternyata Rai menindih tubuhku karena pada saat aku mundur, aku tidak sadar jika di belakangku ada tempat tidurku. Rai bangun dan pandangan kami bertemu. Kami bertatapan begitu lama sampai akhirnya Rai sadar dan langsung beranjak. Sebelumnya aku merasakan detak jantung Rai yang berdetak begitu cepat.

"Nanase, maaf-maaf! Maafkan aku!" Rai membungkuk-bungkuk lalu pergi meninggalkan kamarku dan pergi ke kamarnya.

Aku menyentuh dadaku. Apa arti dari semuanya? Detak jantung Rai ketika menatapku terasa berbeda dari biasanya. Jantungku pun berdetak lebih cepat dari biasanya juga. Apa artinya? Apa mungkin aku bisa mendapatkan dirinya? Ya, mungkin saja...



bersambung...

The Story Part 38

Ruroya Rai

Sudah kuputuskan, aku akan kembali ke Tokyo besok. Aku tersenyum ketika membayangkan bagaimana suasana saat aku kembali ke Tokyo dan tinggal kembali di tempat kos bersama dengan yang lainnya, kecuali Nanase. Mengingat Nanase tidak kembali ke kos saja sudah membuatku merasa kesepian lagi. Apalagi sudah berhari-hari di Sapporo tanpa kehadiran Nanase. Aku menghela napas panjang.

Aku melamun selama beberapa detik, tiba-tiba aku sadar aku mau menghubungi Shoko. Dengan cepat tanganku bergerak meraih ponselku yang aku letakkan di meja sebelah tempat tidurku. Aku mencari-cari nomor ponsel Shoko di ponselku. Setelah itu menghubunginya langsung.

"Moshimoshi!" Sapa Shoko dari seberang sana.
"Shoko, hehe... apa kabar?" Tanyaku sambil tersenyum.
"Rai!! Hehe... aku baik-baik saja. Astaga aku merindukanmu, Rai!" Aku tersenyum ketika Shoko berbicara seperti itu.
"Hehe... tenang saja, kau tidak akan merindukan aku lagi setelah itu." Terasa jeda sesaat.
"Tidak akan merindukanmu lagi? Maksudmu, Rai?" Shoko terdengar bingung sekali.
"Hehe... maksudku, besok aku akan segera kembali ke Tokyo!" Aku berjingkrak-jingkrak di kamar.
"Kembali ke Tokyo?!! Aaaa!!! Senangnya!!" Shoko pun juga berteriak-teriak di seberang sana.
"Aku tidak sabar untuk menunggu hari esok, Rai!" Kata Shoko lagi. Aku hanya tersenyum-senyum sendiri di kamar.

Setelah berbincang-bincang cukup lama dengan Shoko, akhirnya aku memutuskan sambungan. Aku meletakkan kembali ponselku dan kembali melamun. Aku tak percaya, besok aku akan segera kembali ke Tokyo. Bertemu dengan teman-temanku kembali. Tapi sesuatu yang berbeda akan segera terjadi di sana. Festival Obon akan segera dilaksanakan juga dan pada acara tersebut, aku akan pergi ke makam Riku. Ya, di sana mungkin aku akan bertemu dengannya lagi, setelah lama aku tidak bertemu dengannya.

Aku berjalan ke arah jendela. Menyentuh kaca jendela sambil melihat ke arah luar. Hamparan rumput yang berwarna hijau kekuning-kuningan memberikan suasana yang begitu indah di Sapporo. Aku tersenyum melihat keindahan tersebut. Andaikan, aku dapat melihat keindahan Jepang bersama dengan Riku. Tapi, kenapa kau pergi begitu cepat Riku? Aku merindukanmu lagi...

Nanase Sakigawa

Di pagi hari yang cerah, aku terbangun di dalam sebuah kamar yang kecil dan sempit. Aku melihat ke sekeliling, aku tersenyum. Ya, aku telah kembali ke tempat kos yang begitu nyaman untuk ditempati. Aku menghirup udara segar yang ada di dalam kamarku. Bau khas yang begitu menyegarkan. Aku beranjak dari tempat tidurku, berdiri mengangkat tanganku ke atas dan merenggangkan otot-otot tubuhku.

Aku berjalan ke lemari pakaianku dan mengambil beberapa helai pakaian. Lalu berjalan ke arah pintu. Saat aku membuka pintu, tiba-tiba Shoko sudah berada di depanku. Aku terkejut dan segera mundur untuk menjauh dari Shoko.

"Ada apa, Shoko? Tiba-tiba seperti ini." Aku bertanya pada Shoko.
"Kau tau, Nanase..." Aku menggeleng pelan. Ya, tentu saja, karena aku tidak mengerti apa yang akan dikatakan Shoko.
"Dasar kau, Nanase! Kau tau, Rai akan kembali ke Tokyo besok!" Kata Shoko sambil tersenyum. Aku terkejut dan hampir saja aku menjatuhkan barang-barangku.
"Besok? Bukankah Rai akan kembali ke Tokyo di akhir musim panas?" Shoko menggeleng sambil mengangkat bahu. Tandanya Shoko tidak mengerti apa-apa.
"Sudahlah, Nanase. Jika memang Rai mau kembali besok, masa kau akan melarangnya juga? Lebih baik, kita semua membuat kejutan untuknya. Bagaimana?" Aku berpikir. Menurutku, kata-kata Shoko ada benarnya juga dan akhirnya aku mengangguk pelan sambil tersenyum.

Ya, aku akan segera membuat kejutan untuk Rai. Untuk menyambut kedatangannya di Tokyo besok. Ternyata aku baru ingat, besok juga ada Festival Obon. Di acara itu aku akan segera mengunjungi makam Riku. Baiklah, jangan pikirkan itu dulu. Aku harus memikirkan bagaimana cara mengejutkan Rai.

Setelah mendengar berita tersebut, aku langsung bergegas untuk menyiapkan semua peralatan untuk menyambut kedatangan Rai besok. Aku tak menyangka Rai akan kembali besok. Apa mungkin karena besok bertepatan dengan Festival Obon, Rai memutuskan untuk kembali? Apa Rai juga mau mengunjungi makam Riku?

Saat ini aku sedang berjalan di daerah Harajuku. Tempat ini mengingatkan aku akan kejadian menyedihkan waktu itu. Aku melamun melihat ke arah jalanan, tiba-tiba dari penglihatanku terlihat tubuh Riku yang tergeletak di atas aspal dengan dilumuri darah. Aku menampar pipiku sendiri dan menggeleng-geleng pelan. Nanase, apa yang sedang kau pikirkan? Dasar bodoh!

Aku melewati jalan tersebut dan tiba-tiba aku menginjak sesuatu. Aku melihat ke bawah dan menemukan sebuah benda yang bersinar-sinar. Warnanya keemasan. Aku mengambil benda kecil tersebut dari tanah.

"Cincin?" Aku bergumam pelan ketika menatap cincin tersebut.
"Oh ya, kau orang yang waktu itu kan? Ini cincin temanmu yang terjatuh waktu itu." Tiba-tiba ada seseorang yang berkata seperti itu sambil menyentuh pundakku. Aku menoleh menatap orang tersebut.
"Apa kau yakin?" Aku tidak percaya dengan kata-kata orang itu.
"Tentu saja aku yakin. Aku sengaja meletakkan cincin ini di jalan dan melihat siapa yang mungkin akan menyadarinya jika mereka menginjak sesuatu." Aku mengangguk-angguk saat mendengar kata-kata orang tersebut.
"Baiklah, arigato sudah menjaga cincin ini."

Setelah itu aku pergi meninggalkan orang tersebut. Aku berjalan sambil sesekali melihat ke arah cincin tersebut. Aku mempererat genggamanku pada cincin tersebut. Benda ini adalah benda peninggalan Riku. Aku harus segera mengembalikannya.

Sekembalinya dari pergi belanja di Harajuku, aku memutuskan untuk pergi ke makam Riku. Makam Riku masih terlihat berseih dan pada batu nisannya tertulis nama Riku dalam kanji katakana dan hiragana yang diukir dengan indah. Aku menyentuh batau nisan tersebut. Lalu aku mengeluarkan cincin tersebut dari saku celanaku dan meletakkannya di atas batu nisan tersebut. Aku mengucapkan beberapa doa.

"Riku, semoga kau bahagia di sana. Oh ya, aku mau melakukan pengakuan. Maaf baru mengatakannya saat ini. Umm... aku menyukai Rai. Aku ingin bersamanya. Tapi, ia masih belum mengingatku sama sekali. Aku tidak tau harus bagaimana. Tapi sampai saat ini, aku masih mencintai Rai. Maafkan aku, Riku."

Setelah mengatakan hal tersebut, aku pergi meninggalkan makam Riku. Aku tersenyum sambil menengadah ke atas langit. Akhirnya, setelah sekian lama, aku dapat mengatakan semuanya kepadamu, Riku...



bersambung...