Ruroya Rai
Sudah sekitar 2 minggu Nanase tidak datang ke Gakurai Academy. Padahal kata Riku, seharusnya Nanase sudah kembali dari Sapporo beberapa minggu yang lalu. Lama-kelamaan, aku sendiri jadi penasaran tentang keberadaan Nanase. Apa jangan-jangan ia keluar dari Gakurai? Cepat-cepat aku menggelengkan kepala dan menghilangkan pikiran itu jauh-jauh. Tidak mungkin Nanase akan keluar dari Gakurai. Ia sudah berjanji sendiri tidak akan keluar dari Gakurai.
Hari ini aku hendak pergi ke sebuah toko di dekat kosku karena aku disuruh Saki membeli bahan masakan untuk makan malam hari ini. Aku berjalan dari kos menuju toko tersebut. Dalam perjalanan, aku melewati taman yang waktu itu pernah aku datangi bersama Riku. Waktu itu aku meminta maaf pada Riku di tempat ini, ia memelukku sepanjang hari dan di tempat ini pula, pertama kalinya aku mencium pipi Riku. Aku hanya tersenyum-senyum sendiri saat mengingat-ingat semua itu.
Sesampainya di toko tersebut, aku membeli beberapa bahan makanan yang diminta Saki. Aku memilihnya dengan seksama dan membayarnya di kasir. Selesai belanja, aku keluar dari toko tersebut lalu menghela napas. Hari masih sore, hampir saja gelap dan aku harus cepat-cepat pulang.
Karena aku berjalan terlalu lama, akhirnya langit pun mulai gelap. Aku berjalan di tengah kegelapan dan tiba-tiba saja aku mendengar suara dari kejauhan. Ada seseorang yang melangkah ke arahku dalam kegelapan. Saat orang itu melewati lampu jalanan, aku baru sadar bahwa ternyata laki-laki tua itu sedang dalam keadaan mabuk. Jantungku berdetak begitu kencang dan berharap agar laki-laki tua itu tidak akan mengganggunya. Tapi semua yang ingin aku inginkan malah sebaliknya, laki-laki tua itu mendekatiku dan terciumlah aroma alkohol dari mulutnya.
"Hei, gadis... main denganku yuk!" Laki-laki tua itu mulai menarikku. Aku pun terkejut dan berusaha melepaskan diri. Tapi semakin aku menghindar, laki-laki tua itu semakin mendekatiku.
"Ada apa, gadis cantik? Kenapa tidak mau denganku? Ayolah, sekali saja..." Laki-laki itu mendekatkan kepalanya ke arahku dan aku berusaha menghindar tetapi tidak bisa. Akhirnya aku berteriak sekeras mungkin, mengharapkan bantuan dari orang lain. Tetapi mau aku berteriak sekeras apapun, tidak ada satupun orang yang datang menolongku.
"Untuk apa kau berteriak, gadis cantik? Lihat, tidak ada orang di sini, lebih baik kau ikut denganku saja. Kita akan melewati malam dengan bahagia." Laki-laki tua itu sudah mabuk tingkat tinggi. Aku mulai ketakutan dan laki-laki tua itu mulai.... arrrgh!!! Sial! Kenapa tidak ada orang yang lewat sama sekali? Sekali lagi aku berteriak. Tetapi laki-laki tua itu sudah mulai... BUK!! Aku mendengar suara pukulan yang begitu keras. Aku menoleh ke arah orang yang sudah menolongku dan... NANASE?!
Nanase Sakigawa saat ini berdiri di depanku, menatapku di dalam kegelapan. Tiba-tiba saja aku menitikkan air mata, lalu berlari ke arah Nanase dan memeluknya dengan erat. Aku tidak percaya, orang ini memang Nanase, seseorang yang aku rindukan saat ini. Akhirnya aku bisa bertemu dengannya lagi setelah sekian lama berpisah.
"Nanase!!!" Teriakku dalam pelukannya. Nanase dengan perlahan membelai rambutku.
"Hai, Rai. Apa kabar?" Tanya Nanase sambil tersenyum. Aku menatap wajahnya dengan mata yang penuh dengan air mata lalu aku memukul-mukul Nanase karena kesal.
"Nanase, kenapa kau pergi ke Sapporo tidak mengatakan apa-apa padaku? Aku mengkhawatirkanmu, Nanase! Tapi kau pergi begitu saja!" Kataku di sela-sela tangisku. Nanase masih membelai rambutku dengan pelan.
"Maafkan aku, Rai. Silakan, kau boleh marah padaku saat ini."
Aku menangis terus di dekapan Nanase. Entah mengapa, rasanya aku seperti mengingat sesuatu. Tapi, di pikiranku, ingatan itu tidak jelas bentuknya. Entahlah, aku tidak tau apa itu...
Nanase Sakigawa
Dua minggu terlewati sudah. Aku berencana untuk pergi keluar rumah sebentar, mencari udara segar. Tapi, saat aku meminta izin pada ayahku, ayahku mengatakan bahwa aku harus segera keluar dari Gakurai Academy. Tentu saja aku terkejut saat mendengar ayahku berkata seperti itu, aku tidak pernah menyangka ayah akan menghentikan masa depanku begitu saja.
Sebelum pergi aku diancam, jika aku tidak keluar dari Gakurai Academy, aku tidak akan diperbolehkan kembali ke rumah. Sejujurnya, aku tidak apa jika tidak diizinkan kembali ke rumah, tapi karena aku kasihan dengan ibu, aku akan terus ada di rumah ini untuk sementara waktu.
Aku keluar rumah dengan langkah gontai. Chou yang membukakan gerbang rumah, tapi aku malah menyuruh Chou untuk masuk ke dalam rumah. Sudah cukup aku dilayani seperti ini waktu kecil, aku ingin lebih mandiri saat ini. Aku berjalan di tengah kegelapan dan sendirian.
Aku menengadah ke langit, bintang-bintang indah itu tidak ada yang bertaburan di langit malam tersebut. Sepertinya langit pun juga sedang mengalami masa sedih. Tiba-tiba aku mendengar suara gadis yang minta tolong, sebenarnya aku juga tidak ingin bertemu dengan siapa-siapa hari ini. Tapi saat aku lihat siapa gadis itu... ternyata... Rai? Astaga, Rai sedang diganggu oleh laki-laki tua yang mabuk, aku harus segera menolongnya. Dengan berlari secepat mungkin aku melayangkan kakiku ke wajah laki-laki tua itu dan ia jatuh terkapar setelah itu melarikan diri. Aku menoleh ke arah Rai dan melihat gadis itu sudah menangis seperti biasa. Aku tersenyum ke arah Rai dan dengan cepat Rai memelukku dengan erat.
Pertamanya aku sempat tidak bisa bernapas. Tapi aku tidak peduli, saat ini yang aku inginkan adalah bersama dengan Rai. Setelah menjelaskan semuanya pada Rai-karena awalnya ia marah-marah padaku-aku diajak Rai untuk mengunjungi kos, sekaligus aku harus ke Gakurai untuk meminta surat keluar dari tempat tersebut.
Sesampainya di tempat kos Shoko dan Takato yang melihat kedatanganku langsung melompat untuk memelukku. Aku hanya berusaha lepas dari pelukan kedua orang tersebut.
"Nanase! Hei, ke mana saja kau?" Tanya Takato sambil mengacak-acak rambutku. Aku tersenyum dan memukul Takato pelan.
"Tidak ke mana-mana, hehe..." Jawabku dengan wajah tak berdosa.
"Tidak mungkin, aku tau kau pasti pergi ke suatu tempat. Kau tidak bisa membohongiku, Nanase ingat itu!" Ya, memang benar. Aku memang tidak pernah bisa membohongi Takato. Entah bagaimana Takato bisa tau jika aku berbohong.
Setelah perbincanganku dengan Takato, aku menceritakan semua ceritaku kepada Shoko, Takato, Saki, dan Rai. Aku merindukan kos ini dan aku ingin sekali tinggal di tempat ini. Karena aku yakin akan kembali lagi ke tempat ini, aku meminta Saki agar kamarku tidak ditempati oleh orang lain dan Saki pun setuju. Saat sedang asyik-asyiknya berbincang-bincang, tiba-tiba ponselku berdering. Sepertinya dari ayah.
"Nanase, cepat pulang! Sudah jam berapa ini?!" Teriak ayahku dari seberang sana. Belum sempat aku mengucapkan salam, ayah sudah berteriak terlebih dahulu.
"Baik, ayah."
Dengan berat hati, aku meninggalkan tempat kos ini dan berjalan pulang ke rumah. Sesampainya di rumah, aku melamun di balkon kamarku seperti biasa. Memain-mainkan flap ponselku sambil menatap langit-langit. Sampi detik ini juga, belum ada bintang yang bersinar di langit tersebut. Aku merindukan kehadiran bintang tersebut.
TRRT! Ponselku berdering lagi. Saat aku lihat ke arah layar, nama Rukia yang tertera di layar ponselku. Aku tersenyum dan menjawab panggilan tersebut.
"Moshimoshi!" Sapaku sambil tersenyum. Untungnya ada Rukia yang selalu membuat hatiku lebih tenang.
"Nanase! Hehe..."
Sepanjang malam pun aku berbincang-bincang dengan Rukia sampai pukul 3 pagi...
bersambung...
There is no such things as a perfect person. That is why we can't live alone.
Friday, February 12, 2010
Thursday, February 11, 2010
The Story Part 22
Ruroya Rai
"Di mana kita akan bertemu, Rai?"
Saat ini, aku sedang menelepon Riku. Hari ini juga Riku berniat mengajakku pergi keluar. Sepertinya ia akan mengajakku ke sebuah restoran terkenal.
"Bertemu? Lebih baik kau menjemputku di tempat kosku saja." Kataku sambil tersenyum.
"Baiklah kalau begitu. Aku akan menjemputmu beberapa menit lagi. Tunggu aku ya!"
Sambungan terputus dan aku mulai tersenyum-senyum sendiri di dalam kamar. Semua imajinasiku tiba-tiba dibuyarkan dengan teriakan Shoko dari luar. Dengan gusar, aku melompat dari tempat tidurku. Dengan cepat aku membuka pintu.
"Shoko!!! Bisakah kau diam?! Aku sedang enak-enaknya 'day dreaming', kau malah berteriak-teriak seperti orang tidak punya otak!" Aku berteriak dari lantai atas.
"Rai, cepat ke sini. Riku sudah menjemput bodoh!" Teriak Shoko dari lantai bawah.
Riku sudah menjemput? Gawat! Aku belum berganti pakaian! Argh! Jadi, dari tadi Shoko memanggilku karena Riku sudah datang? Aargh! Kenapa tidak ia datang ke kamarku. Ayo cepat, aku harus segera berangkat.
Selesai berganti pakaian, aku langsung melesat ke lantai bawah. Ternyata memang benar, Riku sudah menungguku di bawah. Aku tersenyum ke arah Riku dan mengucapkan salam ketika akan keluar kos. Aku berjalan bersama dengan Riku menuju Shibuya. Di Shibuya, banyak orang yang hilir mudik di tempat ini. Hampir saja aku tersesat di tempat yang penuh sesak dengan orang-orang, tapi Riku dengan sigap menarikku dari kerumunan.
Kami berdua tiba di restoran yang Riku rekomendasikan. Riku memesan tempat duduk dan kami berdua langsung duduk bersama. Selama menunggu makanan datang-ketika kami berdua sudah memesannya-Riku terus tersenyum sambil menatapku. Aku hanya membuang muka dan tiba-tiba makanan sudah datang.
"Riku, hari ini kau kenapa? Kenapa menatapku seperti itu?" Tanyaku tidak tahan lagi karena sedari tadi aku terus ditatap oleh Riku. Riku hanya tersenyum dan menopang dagu.
"Hehe... tidak apa. Aku hanya mengagumimu saja. Hari ini kau terlihat cantik." Dengan cepat wajahku langsung merah padam. Riku hanya tertawa kecil melihat tingkah lakuku.
Selesai makan, aku diajak Riku jalan-jalan di Shibuya. Selama perjalanan, Riku terus menggenggamku seakan aku ini tidak bisa dilepaskan olehnya. Semakin lama, aku semakin mencintainya. Riku tau sekali bagaimana harus memperlakukanku.
Sepulang dari Shibuya, aku pergi ke taman di dekat kosku terlebih dahulu. Hari sudah mulai gelap. Aku duduk-duduk di taman bersama dengan Riku. Ia masih saja menggenggam tanganku. Senangnya hari ini aku bisa bersama dengan Riku.
"Riku, terima kasih untuk hari ini. Aku senang sekali." Kataku sambil tersenyum.
"Hehe... sebuah kehormatan, Nyonya Ruroya." Riku tersenyum manis. Tiba-tiba saja tanpa aku sadari, aku mendekatkan wajahku ke wajah Riku dan mengecup pipi Riku dengan lembut. Tentu saja Riku terkejut dan langsung menoleh ke arahku.
"Rai?"
"Ada apa, Riku?" Kataku menahan tawa.
"Tidak apa... u-umm... a-a-arigato."
Setelah Riku mengatakan itu, aku langsung tertawa lepas dan disambut dengan pukulan Riku.
Nanase Sakigawa
Hari-hari penuh siksaan. Seperti biasa, ayah selalu mendampratku habis-habisan. Ibuku hanya menenangkanku setiap kali aku sudah emosi. Aku sudah tidak tau apa yang akan aku lakukan lagi dengan keluargaku sendiri. Waktu itu aku sudah lancang berbicara seenaknya tentang keluargaku sendiri. Sudah pasti ayah sudah naik darah.
Saat ini aku sedang berada di kamar Nonoru. Entah mengapa tiba-tiba aku bisa ada di kamar Nonoru. Nonoru pun tidak peduli dengan kedatanganku di kamarnya. Jadi, dengan tidak dipedulikan aku menggunakan playstationnya untuk bermain.
"Hei, Nanase. Apa yang sedang kau lakukan?" Tiba-tiba Nonoru bersuara. Aku hanya diam saja tidak peduli. Nonoru berjalan mendekat ke arahku dan mematikan televisi. Aku dengan tidak peduli hanya mematikan playstation dan meletakkan kembali stick playstationnya. Ketika aku hendak beranjak dari tempat dudukku, Nonoru langsung menghentikanku. Aku menoleh dan memasang tampang biasa saja.
"Nanase, ada apa?" Entah aku merasa akhir-akhir ini Nonoru juga jadi aneh.
"Ada apa? Apa maksud mu, Nonoru?" Nonoru menghela napas.
"Sepertinya kau sedang ada masalah."
"Menurutmu saja, Nonoru."
Sejenak ruangan terasa begitu sunyi. Aku hanya diam saja membelakangi Nonoru. Sedangkan Nonoru menunggu aku untuk berbicara lagi. Tanpa berpikir panjang, aku menghela napas hendak mengatakan sesuatu yang ingin aku katakan.
"Nonoru, kenapa kau tidak bisa merawat ibu saat ibu sakit? Kenapa kau begitu santai menghadapi keluarga yang begitu kejam ini?"
"Kau tidak mengerti, Nanase betapa beratnya hidupku ini. Saat kau pergi dari rumah, akulah yang terkena getahnya. Aku lah yang disalahkan karena kepergianmu. Karena itu aku membencimu dan sengaja tidak mau merawat ibu supaya kau kembali ke sini." Saat aku mendengar Nonoru berkata seperti itu. Aku langsung berjalan mendekat ke arah Nonoru dan... BUK!! Nonoru langsung jatuh terkapar.
Dengan sigap aku menarik kerah baju Nonoru.
"KENAPA?! Kenapa kau lakukan itu, Nonoru?! Kenapa kau biarkan ibu seperti itu?! Harusnya... harusnya kau sebagai kakak di keluarga ini, seharusnya kau bisa menjaga... keutuhan keluarga ini." Air mata tiba-tiba mengalir dari mataku. Cepat-cepat aku menyeka air mataku ini.
"Nanase, kau tidak mengerti. Kau tidak tau bagaimana rasanya aku di sini. Aku disiksa, Nanase! Setiap hari aku hanya berpikir, kenapa kau pergi dari rumah? Untuk apa?!"
"Tentu saja untuk mencari pendidikan dan mendapatkan hidup baru!" Kataku dengan santai.
Aku menghela napas panjang dan menatap Nonoru.
"Sejujurnya, aku muak dengan keluarga ini. Jika aku tau keluargaku seburuk ini, lebih baik aku tinggal di Sapporo bersama dengan Shiori." Kataku lalu pergi keluar dari kamar Nonoru.
Di luar, aku hanya melihat keadaan rumahku. Kenapa rumah ini begitu indah tapi di dalamnya terdapat keluarga yang hancur? Aku sendiri juga tidak mengerti. Aku berjalan ke arah kamarku ketika aku mendengar suara teriakan dari kamar ayah dan ibuku. Karena penasaran aku berjalan menuju kamar ayah dan ibuku.
"Apa yang kau lakukan, Hiruko?! Ini semua untuk masa depannya! Apa kau akan membuang masa depannya begitu saja?" Teriak ibuku. Nama ayahku Hiruko Sakigawa dan nama ibuku adalah Mitsuko Sakigawa tetapi biasanya dipanggil Tsuko.
"Aku tidak peduli! Aku tidak akan pernah mengizinkannya pergi lagi! Itu sudah keputusanku! Aku akan mengurungnya di tempat ini." Teriak ayahku pada ibuku.
Jantungku terasa berhenti begitu saja dan napasku mulai sesak. Dengan cepat aku pergi menjauh dari kamar ayah dan ibuku. Kenapa? Kenapa keluargaku begitu kejam? Meraih masa depan masing-masing saja dianggap salah. Ada apa ini? Kenapa semuanya menjadi seperti ini?
bersambung...
"Di mana kita akan bertemu, Rai?"
Saat ini, aku sedang menelepon Riku. Hari ini juga Riku berniat mengajakku pergi keluar. Sepertinya ia akan mengajakku ke sebuah restoran terkenal.
"Bertemu? Lebih baik kau menjemputku di tempat kosku saja." Kataku sambil tersenyum.
"Baiklah kalau begitu. Aku akan menjemputmu beberapa menit lagi. Tunggu aku ya!"
Sambungan terputus dan aku mulai tersenyum-senyum sendiri di dalam kamar. Semua imajinasiku tiba-tiba dibuyarkan dengan teriakan Shoko dari luar. Dengan gusar, aku melompat dari tempat tidurku. Dengan cepat aku membuka pintu.
"Shoko!!! Bisakah kau diam?! Aku sedang enak-enaknya 'day dreaming', kau malah berteriak-teriak seperti orang tidak punya otak!" Aku berteriak dari lantai atas.
"Rai, cepat ke sini. Riku sudah menjemput bodoh!" Teriak Shoko dari lantai bawah.
Riku sudah menjemput? Gawat! Aku belum berganti pakaian! Argh! Jadi, dari tadi Shoko memanggilku karena Riku sudah datang? Aargh! Kenapa tidak ia datang ke kamarku. Ayo cepat, aku harus segera berangkat.
Selesai berganti pakaian, aku langsung melesat ke lantai bawah. Ternyata memang benar, Riku sudah menungguku di bawah. Aku tersenyum ke arah Riku dan mengucapkan salam ketika akan keluar kos. Aku berjalan bersama dengan Riku menuju Shibuya. Di Shibuya, banyak orang yang hilir mudik di tempat ini. Hampir saja aku tersesat di tempat yang penuh sesak dengan orang-orang, tapi Riku dengan sigap menarikku dari kerumunan.
Kami berdua tiba di restoran yang Riku rekomendasikan. Riku memesan tempat duduk dan kami berdua langsung duduk bersama. Selama menunggu makanan datang-ketika kami berdua sudah memesannya-Riku terus tersenyum sambil menatapku. Aku hanya membuang muka dan tiba-tiba makanan sudah datang.
"Riku, hari ini kau kenapa? Kenapa menatapku seperti itu?" Tanyaku tidak tahan lagi karena sedari tadi aku terus ditatap oleh Riku. Riku hanya tersenyum dan menopang dagu.
"Hehe... tidak apa. Aku hanya mengagumimu saja. Hari ini kau terlihat cantik." Dengan cepat wajahku langsung merah padam. Riku hanya tertawa kecil melihat tingkah lakuku.
Selesai makan, aku diajak Riku jalan-jalan di Shibuya. Selama perjalanan, Riku terus menggenggamku seakan aku ini tidak bisa dilepaskan olehnya. Semakin lama, aku semakin mencintainya. Riku tau sekali bagaimana harus memperlakukanku.
Sepulang dari Shibuya, aku pergi ke taman di dekat kosku terlebih dahulu. Hari sudah mulai gelap. Aku duduk-duduk di taman bersama dengan Riku. Ia masih saja menggenggam tanganku. Senangnya hari ini aku bisa bersama dengan Riku.
"Riku, terima kasih untuk hari ini. Aku senang sekali." Kataku sambil tersenyum.
"Hehe... sebuah kehormatan, Nyonya Ruroya." Riku tersenyum manis. Tiba-tiba saja tanpa aku sadari, aku mendekatkan wajahku ke wajah Riku dan mengecup pipi Riku dengan lembut. Tentu saja Riku terkejut dan langsung menoleh ke arahku.
"Rai?"
"Ada apa, Riku?" Kataku menahan tawa.
"Tidak apa... u-umm... a-a-arigato."
Setelah Riku mengatakan itu, aku langsung tertawa lepas dan disambut dengan pukulan Riku.
Nanase Sakigawa
Hari-hari penuh siksaan. Seperti biasa, ayah selalu mendampratku habis-habisan. Ibuku hanya menenangkanku setiap kali aku sudah emosi. Aku sudah tidak tau apa yang akan aku lakukan lagi dengan keluargaku sendiri. Waktu itu aku sudah lancang berbicara seenaknya tentang keluargaku sendiri. Sudah pasti ayah sudah naik darah.
Saat ini aku sedang berada di kamar Nonoru. Entah mengapa tiba-tiba aku bisa ada di kamar Nonoru. Nonoru pun tidak peduli dengan kedatanganku di kamarnya. Jadi, dengan tidak dipedulikan aku menggunakan playstationnya untuk bermain.
"Hei, Nanase. Apa yang sedang kau lakukan?" Tiba-tiba Nonoru bersuara. Aku hanya diam saja tidak peduli. Nonoru berjalan mendekat ke arahku dan mematikan televisi. Aku dengan tidak peduli hanya mematikan playstation dan meletakkan kembali stick playstationnya. Ketika aku hendak beranjak dari tempat dudukku, Nonoru langsung menghentikanku. Aku menoleh dan memasang tampang biasa saja.
"Nanase, ada apa?" Entah aku merasa akhir-akhir ini Nonoru juga jadi aneh.
"Ada apa? Apa maksud mu, Nonoru?" Nonoru menghela napas.
"Sepertinya kau sedang ada masalah."
"Menurutmu saja, Nonoru."
Sejenak ruangan terasa begitu sunyi. Aku hanya diam saja membelakangi Nonoru. Sedangkan Nonoru menunggu aku untuk berbicara lagi. Tanpa berpikir panjang, aku menghela napas hendak mengatakan sesuatu yang ingin aku katakan.
"Nonoru, kenapa kau tidak bisa merawat ibu saat ibu sakit? Kenapa kau begitu santai menghadapi keluarga yang begitu kejam ini?"
"Kau tidak mengerti, Nanase betapa beratnya hidupku ini. Saat kau pergi dari rumah, akulah yang terkena getahnya. Aku lah yang disalahkan karena kepergianmu. Karena itu aku membencimu dan sengaja tidak mau merawat ibu supaya kau kembali ke sini." Saat aku mendengar Nonoru berkata seperti itu. Aku langsung berjalan mendekat ke arah Nonoru dan... BUK!! Nonoru langsung jatuh terkapar.
Dengan sigap aku menarik kerah baju Nonoru.
"KENAPA?! Kenapa kau lakukan itu, Nonoru?! Kenapa kau biarkan ibu seperti itu?! Harusnya... harusnya kau sebagai kakak di keluarga ini, seharusnya kau bisa menjaga... keutuhan keluarga ini." Air mata tiba-tiba mengalir dari mataku. Cepat-cepat aku menyeka air mataku ini.
"Nanase, kau tidak mengerti. Kau tidak tau bagaimana rasanya aku di sini. Aku disiksa, Nanase! Setiap hari aku hanya berpikir, kenapa kau pergi dari rumah? Untuk apa?!"
"Tentu saja untuk mencari pendidikan dan mendapatkan hidup baru!" Kataku dengan santai.
Aku menghela napas panjang dan menatap Nonoru.
"Sejujurnya, aku muak dengan keluarga ini. Jika aku tau keluargaku seburuk ini, lebih baik aku tinggal di Sapporo bersama dengan Shiori." Kataku lalu pergi keluar dari kamar Nonoru.
Di luar, aku hanya melihat keadaan rumahku. Kenapa rumah ini begitu indah tapi di dalamnya terdapat keluarga yang hancur? Aku sendiri juga tidak mengerti. Aku berjalan ke arah kamarku ketika aku mendengar suara teriakan dari kamar ayah dan ibuku. Karena penasaran aku berjalan menuju kamar ayah dan ibuku.
"Apa yang kau lakukan, Hiruko?! Ini semua untuk masa depannya! Apa kau akan membuang masa depannya begitu saja?" Teriak ibuku. Nama ayahku Hiruko Sakigawa dan nama ibuku adalah Mitsuko Sakigawa tetapi biasanya dipanggil Tsuko.
"Aku tidak peduli! Aku tidak akan pernah mengizinkannya pergi lagi! Itu sudah keputusanku! Aku akan mengurungnya di tempat ini." Teriak ayahku pada ibuku.
Jantungku terasa berhenti begitu saja dan napasku mulai sesak. Dengan cepat aku pergi menjauh dari kamar ayah dan ibuku. Kenapa? Kenapa keluargaku begitu kejam? Meraih masa depan masing-masing saja dianggap salah. Ada apa ini? Kenapa semuanya menjadi seperti ini?
bersambung...
Wednesday, February 10, 2010
The Story Part 21
Ruroya Rai
Sudah beberapa minggu ini aku tidak mendapatkan kabar tentang Nanase. Ke mana ya dia? Beberapa minggu ini ia tidak menelepon ke kos. Saat aku tanya Rukia di Gakurai, ia juga tidak tau ke mana Nanase pergi. Katanya Rukia, saat ia menghubungi Nanase, Nanase tidak mengatakan apa-apa tentang keberadaan dia. Aku jadi khawatir.
Saat ini aku sedang duduk sendirian di kantin Gakurai. Aku menyeruput ocha dinginku dengan tenang sambil merasakan udara sepoi-sepoi yang masuk ke dalam kantin. Hari ini terasa begitu panas, entah mengapa. Padahal musim panas saja belum tiba.
"Hei, Rai!" Sapa Riku yang tiba-tiba mengambil tempat di sampingku. Selama ini aku dan Riku sudah menjalani hubungan dengan baik.
"Riku, hehe." Kataku sambil tersenyum. Sebenarnya aku ingin bertanya pada Riku tentang keberadaan Nanase. Tapi apa Riku tau?
"Ada apa, Rai? Sepertinya kau ingin mengatakan sesuatu." Aku mengangguk pelan dan menghela napas.
"Riku, apa kau tau tentang Nanase?"
"Nanase? Umm... tidak, memangnya kenapa?"
Dari cara berbicara Riku, aku tau ia berbohong. Pasti ia tau Nanase sekarang ada di mana. Aku harus memaksa Riku agar ia mau mengatakan semuanya padaku. Tidak mungkin Riku tidak tau, akhir-akhir ini Riku dan Nanase terlihat begitu dekat walaupun pada awalnya merekas seperti saingan.
"Riku, aku tau kau berbohong. Kau sebenarnya tau Nanase ada di mana kan?" Aku menoleh ke arah Riku dan Riku langsung salah tingkah. Ya, benar, Riku berbohong.
"Umm... kenapa kau berbicara seperti itu, Rai?" Tanya Riku sambil menggaruk-garuk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal.
"Sudahlah, ayo cepat beritahu aku. Ayolah, Riku." Kataku sambil memohon pada Riku. Riku pun menyerah dan aku tersenyum penuh kemenangan.
"Baiklah. Beberapa minggu yang lalu, aku menghubungi Nanase untuk mengetahui keberadaannya. Saat itu ia bilang bahwa ia sekarang ada di Sapporo dan berniat untuk tinggal di sana dalam beberapa minggu ini."
Aku hampir saja tersedak ocha dinginku sendiri saat aku mendengar Riku mengatakan bahwa Nanase ada di Sapporo saat ini. Sedang apa Nanase di Sapporo? Kenapa ia tidak mengatakan apa-apa pada kami semua? Sapporo itu jauh dari Tokyo.
"Sapporo?! Kenapa Sapporo? Kenapa tidak ke Yokohama, Osaka, Kyoto, atau arrgh! Jauh sekali!" Kataku sambil memukul-mukul meja kantin.
"Aku sendiri juga tidak tau. Katanya Nanase, ibunya dia sakit parah dan ia harus pergi ke Sapporo karena di sana ada tempat untuk menyembuhkan ibu Nanase. Sepertinya di rumah saudaranya." Kata Riku dan aku menarik kembali kata-kataku. Oke, ternyata ibunya sakit parah. Aku baru ingat.
"Seharusnya, hari ini pengobatannya sudah selesai dan Nanase serta keluarganya yang lain bisa kembali ke Tokyo." Kata Riku lagi. Aku menoleh dan menyunggingkan senyuman di wajahku.
"Hari ini? Waah, baiklah kalau begitu."
Senangnya hari ini Nanase akan segera kembali ke Tokyo. Aku harap ia bisa sampai ke Tokyo dengan selamat dan masuk kembali ke Gakurai.
Nanase Sakigawa
Akhirnya, hari ini aku akan segera kembali ke Tokyo. Aku sudah mempersiapkan semua barang-barangku untuk pergi menuju stasiun shinkansen Sapporo. Sebelum keluar dari rumah keluarga Tatsuya, aku mengucapkan salam pada Shiori. Aku memeluknya dan berharap dapat bertemu dengannya lagi.
Selama perjalanan, aku membayangkan bagaimana aku akan disambut di Gakurai oleh Riku, Rai, dan Rukia. Aku tersenyum-senyum sendiri selama perjalanan di dalam shinkansen. Sikap ibuku pun mulai berubah, berkat kakak ibuku, Tatsuya Michi. Michi mendengarkan semua ceritaku dan Michi langsung menasehati ibuku. Aku senang sikap ibu tidak seperti dulu lagi. Setidaknya aku tidak perlu ditampar-tampar olehnya.
"Nanase..." Ibuku yang duduk di sebelahku memanggilku.
"Ada apa, bu?" Tanyaku sambil menoleh ke arah ibuku.
"Apa kau mau pindah ke tempat kosmu itu lagi?" Tiba-tiba saja mataku mulai berbinar-binar. Apa boleh aku kembali ke tempat kosku itu?
"Ibu? Ibu yakin memperbolehkan aku kembali ke tempat kos?" Tanyaku sambil tersenyum lebar dan ibu mengangguk dengan yakin.
"Ibu yakin. Awalnya ibu kira kau tidak bisa menjaga diri. Jadi, aku selalu melarangmu jika kau memutuskan sendiri tempat tinggal dan sekolahmu. Tapi ternyata ibu salah, ternyata kau sudah bisa bertanggung jawab bahkan kau bisa merawat ibu saat ini, sampai-sampai kau membawaku pada kakak ibu."
Aku tersenyum pada ibu. Senangnya bisa membantu ibuku sendiri dan aku juga senang sikap ibu sudah berubah.
Setelah beberapa hari di dalam shinkansen, akhirnya kami semua tiba di stasiun Tokyo. Ternyata Chou sudah memanggil supir kami untuk mengantarkan kami semua kembali ke rumah. Senangnya bisa kembali ke rumah lagi. Sesampainya di rumah, aku meletakkan barang-barangku di ruang tengah dan tersenyum senang.
"Aku pulang!!" Aku berteriak sekencang mungkin di ruangan tengah ini. Tiba-tiba saja terdengar hentakan kaki. Aku mendongakkan kepalaku dan melihat, ayahku sudah berdiri di sana. Dengan cepat raut wajahku pun berubah menjadi pucat pasi, aku tidak tau ayah akan pulang dalam waktu secepat ini.
Ibu hanya diam saja, Chou langsung buru-buru pergi ke dapur, dan Nonoru dengan begitu tenang pergi ke kamarnya, melewati ayah begitu saja. Aku bingung, ayah sama sekali tidak membentak Nonoru. Ayah berjalan mendekat ke arahku. Aku sudah tau apa yang akan ayah lakukan.
BUK!! Aku jatuh tersungkur dan ibuku langsung menjerit histeris. Aku menyeka mulutku dan duduk dengan lemas di lantai. Lalu ayah dengan geram menarik kerah bajuku.
"Anak bodoh! Ke mana saja kau?! Siapa yang menyuruhmu pergi dari rumah?! Hah?! Jawab!" Ayahku berteriak tepat di depan wajahku. Aku hanya tetap diam dan tidak mau bicara. Sekali lagi aku disiksa. Aku dipukuli terus oleh ayahku sendiri, sampai akhirnya aku menyerah. Aku berusaha untuk lepas dari cengkeraman ayahku.
"Ayah, lepaskan!!" Dan akhirnya aku bisa menjaga jarak dengan ayahku. Ibuku sudah sesegukkan melihat tingkah laku ayahku yang tidak tau aturan itu.
"Kenapa kau pergi, Nanase?! Siapa yang mengizinkanmu?!" Ayah mulai berteriak lagi. Aku mengepalkan tanganku.
"AKU MUAK DENGAN KELUARGA INI!" Dengan kata terakhir itu, aku langsung pergi meninggalkan ayah dan ibuku. Aku hanya marah pada ayahku dan bukan ibuku. Aku sudah bisa memaafkan ibuku, tapi ayah... maafkan aku ayah, aku belum bisa memaafkanmu.
Untuk apa seseorang dididik di dalam keluarga yang tidak baik? Ayahku pun tidak pernah mendidikku maupun Nonoru. Ia selalu saja sibuk dengan urusannya sendiri. Bahkan, saat ibu jatuh sakit, ayah tidak ada di sampingnya. Laki-laki macam apa ayah itu? Ayah tidak pernah memuji hasil kerja kerasku, ayah juga tidak menghargai semua bantuanku, yang ada hanya aku mendapatkan semua ocehannya. Aku muak dengan semua itu.Tapi, karena aku ingin menjaga ibuku untuk beberapa hari ini, aku tidak akan pergi dari rumah terlebih dahulu. Aku akan pergi dari tempat ini, sampai ibuku dapat menjaga ayahku benar-benar.
bersambung....
Sudah beberapa minggu ini aku tidak mendapatkan kabar tentang Nanase. Ke mana ya dia? Beberapa minggu ini ia tidak menelepon ke kos. Saat aku tanya Rukia di Gakurai, ia juga tidak tau ke mana Nanase pergi. Katanya Rukia, saat ia menghubungi Nanase, Nanase tidak mengatakan apa-apa tentang keberadaan dia. Aku jadi khawatir.
Saat ini aku sedang duduk sendirian di kantin Gakurai. Aku menyeruput ocha dinginku dengan tenang sambil merasakan udara sepoi-sepoi yang masuk ke dalam kantin. Hari ini terasa begitu panas, entah mengapa. Padahal musim panas saja belum tiba.
"Hei, Rai!" Sapa Riku yang tiba-tiba mengambil tempat di sampingku. Selama ini aku dan Riku sudah menjalani hubungan dengan baik.
"Riku, hehe." Kataku sambil tersenyum. Sebenarnya aku ingin bertanya pada Riku tentang keberadaan Nanase. Tapi apa Riku tau?
"Ada apa, Rai? Sepertinya kau ingin mengatakan sesuatu." Aku mengangguk pelan dan menghela napas.
"Riku, apa kau tau tentang Nanase?"
"Nanase? Umm... tidak, memangnya kenapa?"
Dari cara berbicara Riku, aku tau ia berbohong. Pasti ia tau Nanase sekarang ada di mana. Aku harus memaksa Riku agar ia mau mengatakan semuanya padaku. Tidak mungkin Riku tidak tau, akhir-akhir ini Riku dan Nanase terlihat begitu dekat walaupun pada awalnya merekas seperti saingan.
"Riku, aku tau kau berbohong. Kau sebenarnya tau Nanase ada di mana kan?" Aku menoleh ke arah Riku dan Riku langsung salah tingkah. Ya, benar, Riku berbohong.
"Umm... kenapa kau berbicara seperti itu, Rai?" Tanya Riku sambil menggaruk-garuk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal.
"Sudahlah, ayo cepat beritahu aku. Ayolah, Riku." Kataku sambil memohon pada Riku. Riku pun menyerah dan aku tersenyum penuh kemenangan.
"Baiklah. Beberapa minggu yang lalu, aku menghubungi Nanase untuk mengetahui keberadaannya. Saat itu ia bilang bahwa ia sekarang ada di Sapporo dan berniat untuk tinggal di sana dalam beberapa minggu ini."
Aku hampir saja tersedak ocha dinginku sendiri saat aku mendengar Riku mengatakan bahwa Nanase ada di Sapporo saat ini. Sedang apa Nanase di Sapporo? Kenapa ia tidak mengatakan apa-apa pada kami semua? Sapporo itu jauh dari Tokyo.
"Sapporo?! Kenapa Sapporo? Kenapa tidak ke Yokohama, Osaka, Kyoto, atau arrgh! Jauh sekali!" Kataku sambil memukul-mukul meja kantin.
"Aku sendiri juga tidak tau. Katanya Nanase, ibunya dia sakit parah dan ia harus pergi ke Sapporo karena di sana ada tempat untuk menyembuhkan ibu Nanase. Sepertinya di rumah saudaranya." Kata Riku dan aku menarik kembali kata-kataku. Oke, ternyata ibunya sakit parah. Aku baru ingat.
"Seharusnya, hari ini pengobatannya sudah selesai dan Nanase serta keluarganya yang lain bisa kembali ke Tokyo." Kata Riku lagi. Aku menoleh dan menyunggingkan senyuman di wajahku.
"Hari ini? Waah, baiklah kalau begitu."
Senangnya hari ini Nanase akan segera kembali ke Tokyo. Aku harap ia bisa sampai ke Tokyo dengan selamat dan masuk kembali ke Gakurai.
Nanase Sakigawa
Akhirnya, hari ini aku akan segera kembali ke Tokyo. Aku sudah mempersiapkan semua barang-barangku untuk pergi menuju stasiun shinkansen Sapporo. Sebelum keluar dari rumah keluarga Tatsuya, aku mengucapkan salam pada Shiori. Aku memeluknya dan berharap dapat bertemu dengannya lagi.
Selama perjalanan, aku membayangkan bagaimana aku akan disambut di Gakurai oleh Riku, Rai, dan Rukia. Aku tersenyum-senyum sendiri selama perjalanan di dalam shinkansen. Sikap ibuku pun mulai berubah, berkat kakak ibuku, Tatsuya Michi. Michi mendengarkan semua ceritaku dan Michi langsung menasehati ibuku. Aku senang sikap ibu tidak seperti dulu lagi. Setidaknya aku tidak perlu ditampar-tampar olehnya.
"Nanase..." Ibuku yang duduk di sebelahku memanggilku.
"Ada apa, bu?" Tanyaku sambil menoleh ke arah ibuku.
"Apa kau mau pindah ke tempat kosmu itu lagi?" Tiba-tiba saja mataku mulai berbinar-binar. Apa boleh aku kembali ke tempat kosku itu?
"Ibu? Ibu yakin memperbolehkan aku kembali ke tempat kos?" Tanyaku sambil tersenyum lebar dan ibu mengangguk dengan yakin.
"Ibu yakin. Awalnya ibu kira kau tidak bisa menjaga diri. Jadi, aku selalu melarangmu jika kau memutuskan sendiri tempat tinggal dan sekolahmu. Tapi ternyata ibu salah, ternyata kau sudah bisa bertanggung jawab bahkan kau bisa merawat ibu saat ini, sampai-sampai kau membawaku pada kakak ibu."
Aku tersenyum pada ibu. Senangnya bisa membantu ibuku sendiri dan aku juga senang sikap ibu sudah berubah.
Setelah beberapa hari di dalam shinkansen, akhirnya kami semua tiba di stasiun Tokyo. Ternyata Chou sudah memanggil supir kami untuk mengantarkan kami semua kembali ke rumah. Senangnya bisa kembali ke rumah lagi. Sesampainya di rumah, aku meletakkan barang-barangku di ruang tengah dan tersenyum senang.
"Aku pulang!!" Aku berteriak sekencang mungkin di ruangan tengah ini. Tiba-tiba saja terdengar hentakan kaki. Aku mendongakkan kepalaku dan melihat, ayahku sudah berdiri di sana. Dengan cepat raut wajahku pun berubah menjadi pucat pasi, aku tidak tau ayah akan pulang dalam waktu secepat ini.
Ibu hanya diam saja, Chou langsung buru-buru pergi ke dapur, dan Nonoru dengan begitu tenang pergi ke kamarnya, melewati ayah begitu saja. Aku bingung, ayah sama sekali tidak membentak Nonoru. Ayah berjalan mendekat ke arahku. Aku sudah tau apa yang akan ayah lakukan.
BUK!! Aku jatuh tersungkur dan ibuku langsung menjerit histeris. Aku menyeka mulutku dan duduk dengan lemas di lantai. Lalu ayah dengan geram menarik kerah bajuku.
"Anak bodoh! Ke mana saja kau?! Siapa yang menyuruhmu pergi dari rumah?! Hah?! Jawab!" Ayahku berteriak tepat di depan wajahku. Aku hanya tetap diam dan tidak mau bicara. Sekali lagi aku disiksa. Aku dipukuli terus oleh ayahku sendiri, sampai akhirnya aku menyerah. Aku berusaha untuk lepas dari cengkeraman ayahku.
"Ayah, lepaskan!!" Dan akhirnya aku bisa menjaga jarak dengan ayahku. Ibuku sudah sesegukkan melihat tingkah laku ayahku yang tidak tau aturan itu.
"Kenapa kau pergi, Nanase?! Siapa yang mengizinkanmu?!" Ayah mulai berteriak lagi. Aku mengepalkan tanganku.
"AKU MUAK DENGAN KELUARGA INI!" Dengan kata terakhir itu, aku langsung pergi meninggalkan ayah dan ibuku. Aku hanya marah pada ayahku dan bukan ibuku. Aku sudah bisa memaafkan ibuku, tapi ayah... maafkan aku ayah, aku belum bisa memaafkanmu.
Untuk apa seseorang dididik di dalam keluarga yang tidak baik? Ayahku pun tidak pernah mendidikku maupun Nonoru. Ia selalu saja sibuk dengan urusannya sendiri. Bahkan, saat ibu jatuh sakit, ayah tidak ada di sampingnya. Laki-laki macam apa ayah itu? Ayah tidak pernah memuji hasil kerja kerasku, ayah juga tidak menghargai semua bantuanku, yang ada hanya aku mendapatkan semua ocehannya. Aku muak dengan semua itu.Tapi, karena aku ingin menjaga ibuku untuk beberapa hari ini, aku tidak akan pergi dari rumah terlebih dahulu. Aku akan pergi dari tempat ini, sampai ibuku dapat menjaga ayahku benar-benar.
bersambung....
Tuesday, February 9, 2010
The Story Part 20
Ruroya Rai
Mata bengkak. Ya, itulah perubahan fisikku hari ini. Kemarin aku menangis terus-terusan sampai aku menghabiskan setumpuk tisu. Hari ini juga, aku malas masuk ke Gakurai. Rasanya kuliah menjadi terasa begitu sepi tanpa kehadiran Nanase. Tunggu, kenapa aku jadi berpikiran tentang Nanase? Arrgh! Lupakan itu!
"Rai, ayo kau harus segera ke Gakurai!" Teriak Shoko dari luar. Sejak pagi tadi, Shoko memaksaku untuk segera pergi ke Gakurai Academy. Tapi, aku sama sekali tidak mau pergi ke sana. Aku sedang tidak dalam suasana hati yang baik hari ini. Aku juga masih belum siap berhadapan dengan Riku.
"Tidak mau, Shoko!!"
"Ayoolah, Rai! Sampai kapan kau mau bersedih-sedih seperti itu? Kau harus bangkit, Rai! Jangan buat semua masalahmu menjadi sesuatu yang menghambat masa depanmu!" Kata Shoko dari balik pintu. Aku berpikir, kenapa Shoko tidak lelah-lelahnya memaksaku untuk keluar dari kamar dan pergi ke Gakurai? Dasar wanita yang masih memiliki jiwa muda.
Pintu kamarku mulai didobrak oleh Shoko. Aku terkejut saat Shoko menendang pintu kamarku. Tampang Shoko terlihat begitu geram. Aku hanya diam saja, duduk di atas kasurku menatap Shoko dari atas sampai bawah sambil memasang wajah tak berdosa. Shoko menghampiriku dan ia mencoba menarikku, tapi aku menghindar dan akhirnya kami berdua bermain kejar-kejaran di dalam kos, sampai akhirnya aku keluar dari tempat kos. Aku berlari dari kejaran Shoko dan tibalah aku di salah satu taman yang dekat dengan tempat kosku. Di taman ini aku mencari tempat persembunyian agar aku tidak diketahui oleh Shoko.
"Rai!!! Ruroya Raishiru!!! Di mana kau?!! Aargh... sial! Dasar kutu kecil!" Lalu Shoko meninggalkan taman tersebut dan meninggalkanku juga. Aku terkekeh-kekeh melihat kepergian Shoko.
Aku berjalan di dalam taman ini sendirian. Hari ini taman sedang sepi, ya karena banyak orang yang masih dalam waktu bekerja. Seharusnya aku saat ini sedang berada di dalam kelas mengerjakan keramik-keramik yang belum selesai, tapi aku malah ada di taman ini dan sendirian saja.
Aku berjalan ke arah ayunan yang ada di taman tersebut dan duduk di ayunan tersebut sambil menggoyang-goyangkan sendiri. Aku merasakan angin sepoi-sepoi berhembus menyibakkan rambutku yang masih berantakan. Saat aku menyadari pakaianku, ternyata aku masih memakai pakaian rumah. Tentu saja, aku mulai kedinginan karena tiba-tiba saja angin terasa begitu menusuk-nusuk tubuhku.
Aku terus memeluk tubuhku sendiri, mencoba menghangatkan diriku sendiri. Tiba-tiba, aku merasakan kehangatan yang begitu dalam. Aku merasakan dekapan seseorang yang saat ini ingin aku rasakan. Aku merasa tubuhku perlahan-lahan menjadi hangat.
"Hei, gadis bodoh." Suara yang berat membuatku penasaran. Aku menoleh mencari sumber suara orang tersebut.
"Ri-Riku?!" Aku terkejut ketika tau bahwa Riku yang memelukku. Tapi aku tidak peduli, biarkan aku merasa hangat seperti ini. Aku tidak mau kehilangan Riku lagi.
Tiba-tiba aku teringat akan kata-kataku yang waktu itu pernah aku katakan pada Riku dan membuatnya sakit hati. Aku masih merasa bersalah.
"Riku, maafkan aku. Aku sudah menyakitimu, aku selalu saja mengecewakanmu. Maafkan aku, Riku." Kataku sambil memegang tangan Riku yang masih memelukku. Riku mencium kepalaku dari belakang.
"Aku juga minta maaf, aku terlalu terbawa emosi saat itu. Seharusnya aku tidak perlu marah-marah padamu." Aku mengangguk dan suasana di antara kami berdua menjadi hening seketika.
Riku melepaskan pelukannya dan bergerak ke depan wajahku. Ia menatapku dalam-dalam (mungkin saja sedalam selokan 5 meter). Riku juga menggenggam tanganku dengan lembut.
"Rai, aku mohon jujurlah padaku. Apa kau mencintaiku?" Tanya Riku. Tatapannya begitu serius dan jantungku terasa berdetak lebih cepat dari biasanya.
"Aku... apa kau tidak percaya padaku, Riku?" Aku balik bertanya pada Riku. Riku menggeleng pelan.
"Tentu saja aku percaya padamu, Rai. Aku hanya ingin mendengarkan kata-kata itu dari mulutmu sendiri." Kata Riku tersenyum. Aku tidak bisa menghindar dari senyumannya, karena itulah aku membalas senyuman Riku.
"Aku, tentu saja aku mencintaimu, Riku." Kataku pada akhirnya dan Riku segera memelukku.
Sepanjang haripun, kami berdua hanya bersama-sama di taman itu sampai hari menjelang sore.
Nanase Sakigawa
Sudah diputuskan. Aku akan tinggal di Sapporo untuk beberapa minggu. Saat ini aku sedang berjalan-jalan di pedesaan bersama dengan Shiori, saudaraku. Udara di tempat ini begitu sejuk, aku menatap ke langit dan melihat warna langit yang berwarna kelabu. Hari memang mulai menjelang sore. Aku menendang-nendang kerikil yang ada di atas tanah sambil memasukkan tanganku ke dalam kantung celanaku.
"Nanase, bagaimana kabar temanmu itu? Siapa namanya? Ra... umm, aku lupa." Tanya Shiori tiba-tiba.
"Rai, hehe. Kabarnya? Baik-baik saja. Tapi, ia sempat mengalami kecelakaan dan mengakibatkan sebagian ingatannya hilang." Kataku sambil menundukkan kepala.
"Sebagian ingatannya... hilang? Apa jangan-jangan ia juga..." Shiori tidak melanjutkan kata-katanya dan aku sudah tau apa yang akan dikatakan Shiori. Aku mengangguk pelan.
"Iya, ia lupa padaku. Saat aku berhasil menemukannya, ia sama sekali tidak mengingatku. Saat itu juga aku benar-benar terpuruk."
Aku mengeluarkan ponselku dan mengetik beberapa nomor di ponselku. Lalu aku menunjukkan pada Shiori nomor tersebut.
"Shiori, nomor inilah yang ingin aku hubungi saat ini. Tapi, aku masih ragu-ragu. Aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk tidak membicarakan apapun tentang kepergianku ini." Kataku sambil menutup flap ponselku. Shiori tersenyum.
"Kenapa ragu-ragu? Jika kau memang ingin mengabarkannya, kenapa tidak kau lakukan? Lagi pula hal tersebut juga tidak salah."
Aku mengangguk pelan. Kami melanjutkan perjalanan menuju rumah. Selama perjalanan, tiba-tiba ponselku berdering. Saat aku lihat ke layar ponselku, ternyata Riku yang menghubungiku. Tumben sekali Riku meneleponku.
"Ya?" Tanyaku saat menjawab panggilan tersebut.
"Nanase, kau ada di mana? Apa kau yakin masih ada di Tokyo? Firasatku mengatakan bahwa kau keluar dari daerah Tokyo, apa benar itu, Nanase?" Bagaimana Riku bisa tau bahwa aku pergi keluar dari daerah Tokyo?
"Umm... ada apa memangnya, Riku? Apa ada masalah di sana?" Aku mengabaikan semua pertanyaan Riku, tapi ternyata Riku tidak sebodoh yang aku kira.
"Nanase, jangan mencoba-coba mengganti topik pembicaraan, ayo jawab pertanyaanku."
Aku menghela napas dan Shiori yang ada di sebelahku hanya berusaha menenangkanku. Ia memberikanku tanda seakan-akan aku harus mengatakan yang sebenarnya pada Riku. Aku mengangguk pasrah ketika Shiori menyuruhku untuk mengatakan semuanya.
"Maaf, Riku. Tapi, aku mohon jangan katakan hal ini pada Rai atau siapapun yang menanyakan keberadaanku."
"Baiklah, aku janji aku akan diam."
"Saat ini aku ada di Sapporo dan aku sudah berencana akan tinggal di tempat ini untuk beberapa minggu." Kataku pelan. Terasa jeda sesaat.
"Apa?! Sapporo? Heii, Nanase! Ayo cepat kembali ke Tokyo! Kenapa jauh sekali, Nanase? Aku kira kau pergi ke Yokohama atau Kyoto, atau Osaka... arrgh! Yang pasti tidak jauh seperti Sapporo!" Riku tiba-tiba kalang kabut mendengar berita bahwa aku ada di Sapporo saat ini.
"Riku, ibuku sakit parah. Sapporo hanya tempat satu-satunya di mana ibuku bisa berobat."
"Oh, maaf. Baiklah kalau begitu. Aku akan menghubungimu lagi nanti."
Setelah itu sambungan terputus. Aku menutup flap ponselku dan memasukkannya ke dalam saku celanaku. Aku menghela napas panjang. Shiori yang ada di sebelahku langsung menggandeng lenganku.
"Sudahlah, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Temanmu itu khawatir padamu tau. Apa kau akan membuat temanmu itu khawatir tentang dirimu terus-menerus? Lebih baik kau mengatakan yang sebenarnya dari pada kau tidak mengatakannya sama sekali." Kata Shiori sambil tersenyum. Aku menoleh ke arah Shiori dan mengangguk pelan. Lalu kami menyusuri pedesaan bersama sampai malam pun tiba.
bersambung....
Mata bengkak. Ya, itulah perubahan fisikku hari ini. Kemarin aku menangis terus-terusan sampai aku menghabiskan setumpuk tisu. Hari ini juga, aku malas masuk ke Gakurai. Rasanya kuliah menjadi terasa begitu sepi tanpa kehadiran Nanase. Tunggu, kenapa aku jadi berpikiran tentang Nanase? Arrgh! Lupakan itu!
"Rai, ayo kau harus segera ke Gakurai!" Teriak Shoko dari luar. Sejak pagi tadi, Shoko memaksaku untuk segera pergi ke Gakurai Academy. Tapi, aku sama sekali tidak mau pergi ke sana. Aku sedang tidak dalam suasana hati yang baik hari ini. Aku juga masih belum siap berhadapan dengan Riku.
"Tidak mau, Shoko!!"
"Ayoolah, Rai! Sampai kapan kau mau bersedih-sedih seperti itu? Kau harus bangkit, Rai! Jangan buat semua masalahmu menjadi sesuatu yang menghambat masa depanmu!" Kata Shoko dari balik pintu. Aku berpikir, kenapa Shoko tidak lelah-lelahnya memaksaku untuk keluar dari kamar dan pergi ke Gakurai? Dasar wanita yang masih memiliki jiwa muda.
Pintu kamarku mulai didobrak oleh Shoko. Aku terkejut saat Shoko menendang pintu kamarku. Tampang Shoko terlihat begitu geram. Aku hanya diam saja, duduk di atas kasurku menatap Shoko dari atas sampai bawah sambil memasang wajah tak berdosa. Shoko menghampiriku dan ia mencoba menarikku, tapi aku menghindar dan akhirnya kami berdua bermain kejar-kejaran di dalam kos, sampai akhirnya aku keluar dari tempat kos. Aku berlari dari kejaran Shoko dan tibalah aku di salah satu taman yang dekat dengan tempat kosku. Di taman ini aku mencari tempat persembunyian agar aku tidak diketahui oleh Shoko.
"Rai!!! Ruroya Raishiru!!! Di mana kau?!! Aargh... sial! Dasar kutu kecil!" Lalu Shoko meninggalkan taman tersebut dan meninggalkanku juga. Aku terkekeh-kekeh melihat kepergian Shoko.
Aku berjalan di dalam taman ini sendirian. Hari ini taman sedang sepi, ya karena banyak orang yang masih dalam waktu bekerja. Seharusnya aku saat ini sedang berada di dalam kelas mengerjakan keramik-keramik yang belum selesai, tapi aku malah ada di taman ini dan sendirian saja.
Aku berjalan ke arah ayunan yang ada di taman tersebut dan duduk di ayunan tersebut sambil menggoyang-goyangkan sendiri. Aku merasakan angin sepoi-sepoi berhembus menyibakkan rambutku yang masih berantakan. Saat aku menyadari pakaianku, ternyata aku masih memakai pakaian rumah. Tentu saja, aku mulai kedinginan karena tiba-tiba saja angin terasa begitu menusuk-nusuk tubuhku.
Aku terus memeluk tubuhku sendiri, mencoba menghangatkan diriku sendiri. Tiba-tiba, aku merasakan kehangatan yang begitu dalam. Aku merasakan dekapan seseorang yang saat ini ingin aku rasakan. Aku merasa tubuhku perlahan-lahan menjadi hangat.
"Hei, gadis bodoh." Suara yang berat membuatku penasaran. Aku menoleh mencari sumber suara orang tersebut.
"Ri-Riku?!" Aku terkejut ketika tau bahwa Riku yang memelukku. Tapi aku tidak peduli, biarkan aku merasa hangat seperti ini. Aku tidak mau kehilangan Riku lagi.
Tiba-tiba aku teringat akan kata-kataku yang waktu itu pernah aku katakan pada Riku dan membuatnya sakit hati. Aku masih merasa bersalah.
"Riku, maafkan aku. Aku sudah menyakitimu, aku selalu saja mengecewakanmu. Maafkan aku, Riku." Kataku sambil memegang tangan Riku yang masih memelukku. Riku mencium kepalaku dari belakang.
"Aku juga minta maaf, aku terlalu terbawa emosi saat itu. Seharusnya aku tidak perlu marah-marah padamu." Aku mengangguk dan suasana di antara kami berdua menjadi hening seketika.
Riku melepaskan pelukannya dan bergerak ke depan wajahku. Ia menatapku dalam-dalam (mungkin saja sedalam selokan 5 meter). Riku juga menggenggam tanganku dengan lembut.
"Rai, aku mohon jujurlah padaku. Apa kau mencintaiku?" Tanya Riku. Tatapannya begitu serius dan jantungku terasa berdetak lebih cepat dari biasanya.
"Aku... apa kau tidak percaya padaku, Riku?" Aku balik bertanya pada Riku. Riku menggeleng pelan.
"Tentu saja aku percaya padamu, Rai. Aku hanya ingin mendengarkan kata-kata itu dari mulutmu sendiri." Kata Riku tersenyum. Aku tidak bisa menghindar dari senyumannya, karena itulah aku membalas senyuman Riku.
"Aku, tentu saja aku mencintaimu, Riku." Kataku pada akhirnya dan Riku segera memelukku.
Sepanjang haripun, kami berdua hanya bersama-sama di taman itu sampai hari menjelang sore.
Nanase Sakigawa
Sudah diputuskan. Aku akan tinggal di Sapporo untuk beberapa minggu. Saat ini aku sedang berjalan-jalan di pedesaan bersama dengan Shiori, saudaraku. Udara di tempat ini begitu sejuk, aku menatap ke langit dan melihat warna langit yang berwarna kelabu. Hari memang mulai menjelang sore. Aku menendang-nendang kerikil yang ada di atas tanah sambil memasukkan tanganku ke dalam kantung celanaku.
"Nanase, bagaimana kabar temanmu itu? Siapa namanya? Ra... umm, aku lupa." Tanya Shiori tiba-tiba.
"Rai, hehe. Kabarnya? Baik-baik saja. Tapi, ia sempat mengalami kecelakaan dan mengakibatkan sebagian ingatannya hilang." Kataku sambil menundukkan kepala.
"Sebagian ingatannya... hilang? Apa jangan-jangan ia juga..." Shiori tidak melanjutkan kata-katanya dan aku sudah tau apa yang akan dikatakan Shiori. Aku mengangguk pelan.
"Iya, ia lupa padaku. Saat aku berhasil menemukannya, ia sama sekali tidak mengingatku. Saat itu juga aku benar-benar terpuruk."
Aku mengeluarkan ponselku dan mengetik beberapa nomor di ponselku. Lalu aku menunjukkan pada Shiori nomor tersebut.
"Shiori, nomor inilah yang ingin aku hubungi saat ini. Tapi, aku masih ragu-ragu. Aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk tidak membicarakan apapun tentang kepergianku ini." Kataku sambil menutup flap ponselku. Shiori tersenyum.
"Kenapa ragu-ragu? Jika kau memang ingin mengabarkannya, kenapa tidak kau lakukan? Lagi pula hal tersebut juga tidak salah."
Aku mengangguk pelan. Kami melanjutkan perjalanan menuju rumah. Selama perjalanan, tiba-tiba ponselku berdering. Saat aku lihat ke layar ponselku, ternyata Riku yang menghubungiku. Tumben sekali Riku meneleponku.
"Ya?" Tanyaku saat menjawab panggilan tersebut.
"Nanase, kau ada di mana? Apa kau yakin masih ada di Tokyo? Firasatku mengatakan bahwa kau keluar dari daerah Tokyo, apa benar itu, Nanase?" Bagaimana Riku bisa tau bahwa aku pergi keluar dari daerah Tokyo?
"Umm... ada apa memangnya, Riku? Apa ada masalah di sana?" Aku mengabaikan semua pertanyaan Riku, tapi ternyata Riku tidak sebodoh yang aku kira.
"Nanase, jangan mencoba-coba mengganti topik pembicaraan, ayo jawab pertanyaanku."
Aku menghela napas dan Shiori yang ada di sebelahku hanya berusaha menenangkanku. Ia memberikanku tanda seakan-akan aku harus mengatakan yang sebenarnya pada Riku. Aku mengangguk pasrah ketika Shiori menyuruhku untuk mengatakan semuanya.
"Maaf, Riku. Tapi, aku mohon jangan katakan hal ini pada Rai atau siapapun yang menanyakan keberadaanku."
"Baiklah, aku janji aku akan diam."
"Saat ini aku ada di Sapporo dan aku sudah berencana akan tinggal di tempat ini untuk beberapa minggu." Kataku pelan. Terasa jeda sesaat.
"Apa?! Sapporo? Heii, Nanase! Ayo cepat kembali ke Tokyo! Kenapa jauh sekali, Nanase? Aku kira kau pergi ke Yokohama atau Kyoto, atau Osaka... arrgh! Yang pasti tidak jauh seperti Sapporo!" Riku tiba-tiba kalang kabut mendengar berita bahwa aku ada di Sapporo saat ini.
"Riku, ibuku sakit parah. Sapporo hanya tempat satu-satunya di mana ibuku bisa berobat."
"Oh, maaf. Baiklah kalau begitu. Aku akan menghubungimu lagi nanti."
Setelah itu sambungan terputus. Aku menutup flap ponselku dan memasukkannya ke dalam saku celanaku. Aku menghela napas panjang. Shiori yang ada di sebelahku langsung menggandeng lenganku.
"Sudahlah, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Temanmu itu khawatir padamu tau. Apa kau akan membuat temanmu itu khawatir tentang dirimu terus-menerus? Lebih baik kau mengatakan yang sebenarnya dari pada kau tidak mengatakannya sama sekali." Kata Shiori sambil tersenyum. Aku menoleh ke arah Shiori dan mengangguk pelan. Lalu kami menyusuri pedesaan bersama sampai malam pun tiba.
bersambung....
Monday, February 8, 2010
The Story Part 19
Ruroya Rai
Aku berjalan dengan langkah gontai menuju tempat kosku. Aku masuk ke ruang tengah dan melihat ke sekeliling. Saat ini, aku benar-benar merasa aneh. Tiba-tiba aku ditinggal pergi Riku dan aku juga ditinggal pergi Nanase. Kenapa semua orang pergi begitu saja dari kehidupanku? Aku terus berdiri mematung di ruang tengah sampai akhirnya Shoko melihatku dan ia bingung dengan tingkah lakuku.
"Rai, ada apa denganmu?" Tanya Shoko dan aku langsung menangis dengan hebat di dekapan Shoko.
Selama kurang lebih 2 jam aku menangis, akhirnya aku bisa menenangkan diri. Aku duduk di ruang tamu bersama dengan Shoko. Setumpuk kertas tisu sudah aku habiskan dari tadi dan 2 gelas air pun juga sudah aku habiskan. Sepertinya aku sudah mengeluarkan beberapa beban yang ada di hatiku.
"Rai, apa kau sudah bisa menceritakan semuanya pada ku?" Tanya Shoko hati-hati, takut aku menangis lagi. Tapi aku sudah tidak sesegukan dan aku sudah bisa berbicara dengan lancar jadi aku bisa menceritakan semuanya. Aku menghela napas panjang.
"Hari ini, entah mengapa, aku merasa ada sesuatu yang aneh pada diriku. Tadi Riku sempat menciumku." Kataku dan disambut dengan tatapan Shoko yang membelalak.
"Riku... menciummu? Lalu, apa yang terjadi sampai akhirnya kau seperti ini?"
"Aku sendiri juga tidak mengerti. Saat itu aku benar-benar terkejut karena Riku menciumku, lalu aku berkata pada Riku bahwa hal tersebut harusnya dilakukan dengan orang yang dicintai. Saat aku berkata seperti itu, Riku tiba-tiba marah dan memukul tembok lalu pergi meninggalkanku." Kataku sambil menunduk meremas-remas pakaianku sendiri.
Shoko merangkulku dan mengguncang-guncang tubuhku.
"Dasar bodoh, tentu saja Riku akan marah jika kau berkata seperti itu. Memangnya, ayo katakan padaku, memangnya kau tidak mencintai Riku?" Tanya Shoko sambil tersenyum. Aku menoleh ke arah Shoko.
"Memangnya kau pikir aku mencintai siapa lagi selain Riku?" Aku balik bertanya pada Shoko. Shoko melepaskan rangkulannya dan bersenderan pada sofa.
"Hmm... mungkin ada seseorang yang saat ini sedang dekat denganmu dan kau merasa jatuh cinta padanya. Tapi, sejujurnya kau mencintai Riku kan?"
"Ya, tentu saja aku mencintai Riku. Tapi, aku tidak pernah tau bagaimana caranya aku menunjukkan rasa cintaku pada Riku. Aku selalu saja mengecewakannya."
"Tenang saja, hal tersebut kau bisa serahkan kepadaku!"
Setelah itu aku dan Shoko berbincang-bincang sampai malam pun tiba. Saat aku berada di kamar, aku mengingat-ingat kata Shoko tadi. Apa benar aku jatuh cinta pada seseorang yang sedang dekat denganku? Tapi, dengan jujur aku sangat mencintai Riku. Jadi, untuk apa Shoko berbicara seperti itu? Oh Tuhan, tolong bantu aku menemukan semua jawaban dari teka-teki ini.
Nanase Sakigawa
Malam hari di Sapporo terlihat begitu indah. Meskipun berbeda dengan di Tokyo. Di Sapporo aku tinggal di sebuah pedesaan dan saat aku pergi ke lantai atas rumah Shiori, aku bisa melihat hamparan padang rumput yang luas. Jika di Tokyo, aku hanya melihat gedung-gedung yang memancarkan lampu-lampu dari dalamnya.
Saat ini aku sedang duduk-duduk di atap rumah Shiori, ya seperti biasa aku hanya sendirian memainkan flap ponselku. Aku melihat ponsel yang kugenggam, tadinya aku berniat untuk menelepon ke kos, tapi karena aku berjanji pada diriku sendiri untuk tidak memberitahukan tentang kepergianku, jadi aku mengurungkan niatku sendiri. Aku melihat ke langit-langit, sama seperti di Tokyo, langit malam masih bertaburan dengan bintang-bintang indah.
"Hei, Nanase, sendirian saja. Tidak bermain bersama Nonoru?" Tanya Shiori yang tiba-tiba datang ke atap juga.
"Haha... untuk apa aku bermain dengannya? Dari pada bermain bersamanya, lebih baik aku menyendiri saja." Kataku sambil tersenyum.
"Dasar kau, Nanase. Huaa... bintangnya cantik-cantik ya. Aku senang kau ada di sini, Nanase." Shiori gadis yang seumuran denganku memiliki rambut panjang yang indah berwarna hitam pekat dan warna matanya pun sama dengan warna mataku yaitu hitam pekat juga. Ia selalu saja tersenyum di mana pun ia berada. Aura Shiori pun selalu menenangkan, seandainya Shiori ada di Tokyo bersama denganku mungkin aku akan merasa tenang setiap hari.
"Haha... aku juga senang bisa berkunjung ke Sapporo setelah sekian lama berpisah, hehe."
Iya benar, aku memang merindukan Sapporo, entah mengapa dan aku memutuskan untuk tinggal beberapa hari di tempat ini.
bersambung....
Aku berjalan dengan langkah gontai menuju tempat kosku. Aku masuk ke ruang tengah dan melihat ke sekeliling. Saat ini, aku benar-benar merasa aneh. Tiba-tiba aku ditinggal pergi Riku dan aku juga ditinggal pergi Nanase. Kenapa semua orang pergi begitu saja dari kehidupanku? Aku terus berdiri mematung di ruang tengah sampai akhirnya Shoko melihatku dan ia bingung dengan tingkah lakuku.
"Rai, ada apa denganmu?" Tanya Shoko dan aku langsung menangis dengan hebat di dekapan Shoko.
Selama kurang lebih 2 jam aku menangis, akhirnya aku bisa menenangkan diri. Aku duduk di ruang tamu bersama dengan Shoko. Setumpuk kertas tisu sudah aku habiskan dari tadi dan 2 gelas air pun juga sudah aku habiskan. Sepertinya aku sudah mengeluarkan beberapa beban yang ada di hatiku.
"Rai, apa kau sudah bisa menceritakan semuanya pada ku?" Tanya Shoko hati-hati, takut aku menangis lagi. Tapi aku sudah tidak sesegukan dan aku sudah bisa berbicara dengan lancar jadi aku bisa menceritakan semuanya. Aku menghela napas panjang.
"Hari ini, entah mengapa, aku merasa ada sesuatu yang aneh pada diriku. Tadi Riku sempat menciumku." Kataku dan disambut dengan tatapan Shoko yang membelalak.
"Riku... menciummu? Lalu, apa yang terjadi sampai akhirnya kau seperti ini?"
"Aku sendiri juga tidak mengerti. Saat itu aku benar-benar terkejut karena Riku menciumku, lalu aku berkata pada Riku bahwa hal tersebut harusnya dilakukan dengan orang yang dicintai. Saat aku berkata seperti itu, Riku tiba-tiba marah dan memukul tembok lalu pergi meninggalkanku." Kataku sambil menunduk meremas-remas pakaianku sendiri.
Shoko merangkulku dan mengguncang-guncang tubuhku.
"Dasar bodoh, tentu saja Riku akan marah jika kau berkata seperti itu. Memangnya, ayo katakan padaku, memangnya kau tidak mencintai Riku?" Tanya Shoko sambil tersenyum. Aku menoleh ke arah Shoko.
"Memangnya kau pikir aku mencintai siapa lagi selain Riku?" Aku balik bertanya pada Shoko. Shoko melepaskan rangkulannya dan bersenderan pada sofa.
"Hmm... mungkin ada seseorang yang saat ini sedang dekat denganmu dan kau merasa jatuh cinta padanya. Tapi, sejujurnya kau mencintai Riku kan?"
"Ya, tentu saja aku mencintai Riku. Tapi, aku tidak pernah tau bagaimana caranya aku menunjukkan rasa cintaku pada Riku. Aku selalu saja mengecewakannya."
"Tenang saja, hal tersebut kau bisa serahkan kepadaku!"
Setelah itu aku dan Shoko berbincang-bincang sampai malam pun tiba. Saat aku berada di kamar, aku mengingat-ingat kata Shoko tadi. Apa benar aku jatuh cinta pada seseorang yang sedang dekat denganku? Tapi, dengan jujur aku sangat mencintai Riku. Jadi, untuk apa Shoko berbicara seperti itu? Oh Tuhan, tolong bantu aku menemukan semua jawaban dari teka-teki ini.
Nanase Sakigawa
Malam hari di Sapporo terlihat begitu indah. Meskipun berbeda dengan di Tokyo. Di Sapporo aku tinggal di sebuah pedesaan dan saat aku pergi ke lantai atas rumah Shiori, aku bisa melihat hamparan padang rumput yang luas. Jika di Tokyo, aku hanya melihat gedung-gedung yang memancarkan lampu-lampu dari dalamnya.
Saat ini aku sedang duduk-duduk di atap rumah Shiori, ya seperti biasa aku hanya sendirian memainkan flap ponselku. Aku melihat ponsel yang kugenggam, tadinya aku berniat untuk menelepon ke kos, tapi karena aku berjanji pada diriku sendiri untuk tidak memberitahukan tentang kepergianku, jadi aku mengurungkan niatku sendiri. Aku melihat ke langit-langit, sama seperti di Tokyo, langit malam masih bertaburan dengan bintang-bintang indah.
"Hei, Nanase, sendirian saja. Tidak bermain bersama Nonoru?" Tanya Shiori yang tiba-tiba datang ke atap juga.
"Haha... untuk apa aku bermain dengannya? Dari pada bermain bersamanya, lebih baik aku menyendiri saja." Kataku sambil tersenyum.
"Dasar kau, Nanase. Huaa... bintangnya cantik-cantik ya. Aku senang kau ada di sini, Nanase." Shiori gadis yang seumuran denganku memiliki rambut panjang yang indah berwarna hitam pekat dan warna matanya pun sama dengan warna mataku yaitu hitam pekat juga. Ia selalu saja tersenyum di mana pun ia berada. Aura Shiori pun selalu menenangkan, seandainya Shiori ada di Tokyo bersama denganku mungkin aku akan merasa tenang setiap hari.
"Haha... aku juga senang bisa berkunjung ke Sapporo setelah sekian lama berpisah, hehe."
Iya benar, aku memang merindukan Sapporo, entah mengapa dan aku memutuskan untuk tinggal beberapa hari di tempat ini.
bersambung....
The Story Part 18
Ruroya Rai
Hari-hari ku jalani seperti biasa. Tanpa kehadiran Nanase di tempat kos. Aku sangat merindukannya. Kenapa disaat aku membutuhkannya, ia malah pergi meninggalkan aku. Lebih bodohnya lagi, terakhir kali aku berbincang-bincang dengan Nanase, aku lupa menanyakan nomor ponselnya. Karena kebodohankulah, selama ini aku tidak bisa berbicara dengan nanase sama sekali.
Aku mengerjakan keramikku pada jam istirahat sendirian di dalam kelas. Aku menginjak-injak pedal dengan santai lalu membentuk tanah liatku agar menjadi sebuah bentuk yang indah. Aku tersenyum saat bentuk dari karya yang aku buat mulai terlihat. Aku mengukur-ukur dengan tanganku dan tiba-tiba saja Riku sudah berdiri di sampingku. Ia tersenyum manis seperti biasa.
"Hei, bagaiamana hari ini? Apa kau sudah merasa baikan?" Tanya Riku perhatian dan aku tersenyum sambil mengangguk pelan.
"Iya, hanya saja Riku. Aku sedikit bodoh, terakhir kali aku berbicara dengannya di telepon waktu itu, aku lupa menanyakan nomor ponselnya maupun alamat rumahnya. Huh!" Kataku jengkel pada diriku sendiri.
"Haha... kau ini, memang ceroboh." Ejek Riku dan aku dengan cepat memukul Riku sehingga membuat pakaian Riku kotor karena tanganku masih penuh dengan bekas-bekas tanah liat.
"He-hei, Rai! Bajuku! Oh tidak! Awas kau ya, Rai!" Lalu Riku mulai mencubit pipiku dengan gemas. Aku pun tertawa lepas secara tiba-tiba.
Tiba-tiba ruangan kelas langsung hening secara tiba-tiba. Aku dan Riku tidak berbicara lagi. Aku tetap melanjutkan pekerjaanku sementara Riku berjalan ke arah jendela.
"Hei, Rai... kau manis sekali jika tertawa seperti tadi." Kata Riku sambil membalikkan tubuhnya ke arahku dan bersenderan ke tembok. Di wajah Riku, terlukis pula senyuman manisnya. Wajahku tiba-tiba terasa begitu panas. Cepat-cepat aku membuang muka. Kenapa Riku harus berbicara seperti itu? Aku benci jika dibuat tersipu seperti ini!
Aku melihat Riku berjalan mendekat ke arahku. Lalu ia mengambil kursi yang ada di sebelah mejaku dan ia duduk di sebelahku. Ia duduk menghadap ke arahku. Tangannya yang besar menyentuh daguku dengan lembut dan tiba-tiba saja bibirku dengan bibir Riku bersentuhan. Aku terkejut dan segera bangkit berdiri dari tempat kerjaku.
"Riku, apa yang kau lakukan?" Aku menutup mulutku dengan lenganku karena tanganku masih kotor. Saat aku bertanya seperti itu, Riku tidak bisa menjawab apa-apa.
"Kenapa, Riku? Seharusnya hal tersebut dilakukan dengan orang yang dicintai!" Entah mengapa tiba-tiba aku mengatakan hal seperti itu dan kata-kataku pun dengan cepat membuat Riku terkejut.
"Rai, apa yang kau katakan? Apa maksudmu hal tersebut dilakukan dengan orang yang dicintai?" Tanya Riku sambil menatap geram kepadaku. Tanganku mulai bergetar, keringat dingin mulai mengucur deras. Kenapa aku berkata seperti itu? Riku pun mulai berjalan mendekat ke arahku sampai akhirnya aku tidak bisa lari ke mana-mana lagi karena saat ini aku sudah menempel pada tembok.
BUK!! Riku memukul tembok dengan keras, napasnya pun memburu di depan wajahku. Tampaknya ia begitu kesal karena sudah mendengar aku berbicara seperti tadi.
"Ada apa denganmu, Rai? Kau benar-benar aneh akhir-akhir ini. Aku menciummu karena aku mencintaimu, Rai! Tapi, kenapa kau berkata seperti tadi? Kesannya seperti, kau tidak mencintaiku sama sekali. Kau tau, Rai... hati ini begitu sakit!" Kata Riku sambil menyentuh dadanya. Aku tetap diam saja, tidak tau harus berbicara ap. Riku menghela napas panjang.
"Sudahlah, berbicara denganmu... tetap tidak ada guna. Sampai nanti."
Lalu Riku meninggalkan aku sendirian di dalam kelas. Hatiku terasa sangat sakit, Riku... maafkan aku! Maafkan aku, Riku! Aku memang bodoh, aku tidak pernah mengerti perasaan Riku, yang selalu aku pikirkan hanyalah diriku sendiri. Ada apa denganmu, Rai?
Nanase Sakigawa
Setibanya aku di Sapporo, tempat aku akan mengantar ibuku berobat. Aku melihat ke sekeliling dan melihat ada seorang perempuan yang sebaya denganku yang bernama Tatsuya Shiori. Shiori adalah saudaraku yang tinggal di Sapporo. Ibu Shiori atau kakak ibuku adalah seorang dokter yang terkenal. Aku sengaja membawa ibu ke Sapporo supaya kakak ibuku yang akan menyembuhkan ibu. Saat Shiori melihat ke arahku, ia tersenyum manis seperti biasa.
"Nanase! Lama tidak bertemu! Hehe..." Shiori menyambut kedatanganku di stasiun shinkansen Sapporo.
"Hai, Shiori. Apa kabarmu?" Tanyaku sambil tersenyum. Senangnya hari ini aku bisa bertemu dengan Shiori lagi.
"Baik, hehe. Umm... mana ibumu? Ayo, aku antar kalian semua ke rumahku, ibuku sudah menunggu." Kata Shiori sambil tersenyum dan aku mengangguk lalu mengajak ibuku dan Chou serta Nonoru untuk masuk ke dalam mobil Shiori.
Selama perjalanan aku memasuki sebuah pedesaan indah. Tempat tinggal Shiori tidak seperti tempat tinggalku. Ia hanya tinggal di dalam sebuah rumah yang sederhana berbentuk tatami. Mungkin ibu tidak akan suka ini, karena ibu tidak suka tinggal di daerah yang begitu biasa. Sesampainya aku di rumah Shiori, aku keluar dari mobil membantu ibuku. Apa yang aku katakan tadi benar, ibu mengernyitkan dahiny saat melihat rumah kakaknya sendiri. Dengan sedikit memaksa aku menarik ibuku masuk ke dalam rumah kakak ibuku, Tatsuya Michi.
Michi menyambutku, ibuku, Chou, dan Nonoru dengan senyuman hangatnya. Tapi anehnya, ibuku tetap memasang wajah tidak suka terhadap rumah kakaknya sendiri. Sampai-sampai ibuku mengomentarinya.
"Michi, kenapa kau tidak ganti bentuk rumah? Rumah ini sudah kumuh!" Aku memukul ibuku pelan. Michi melihat tindakanku dan ia langsung tersenyum.
"Nanase, tidak apa. Aku sudah biasa mendapatkan komentar dari ibumu. Ibumu memang suka seperti itu waktu kecil juga." Kata Michi sambil tersenyum. Dilihat-lihat, Michi adalah wanita yang berumur 30-an yang begitu sabar dalam menghadapi semua orang.
Tanpa banyak bicara aku menceritakan pada Michi bahwa ibuku sakit dan dengan cepat Michi segera membawa ibuku ke ruang perawatannya. Aku harap ibu akan segera sembuh dan sehat seperti biasa.
bersambung....
Hari-hari ku jalani seperti biasa. Tanpa kehadiran Nanase di tempat kos. Aku sangat merindukannya. Kenapa disaat aku membutuhkannya, ia malah pergi meninggalkan aku. Lebih bodohnya lagi, terakhir kali aku berbincang-bincang dengan Nanase, aku lupa menanyakan nomor ponselnya. Karena kebodohankulah, selama ini aku tidak bisa berbicara dengan nanase sama sekali.
Aku mengerjakan keramikku pada jam istirahat sendirian di dalam kelas. Aku menginjak-injak pedal dengan santai lalu membentuk tanah liatku agar menjadi sebuah bentuk yang indah. Aku tersenyum saat bentuk dari karya yang aku buat mulai terlihat. Aku mengukur-ukur dengan tanganku dan tiba-tiba saja Riku sudah berdiri di sampingku. Ia tersenyum manis seperti biasa.
"Hei, bagaiamana hari ini? Apa kau sudah merasa baikan?" Tanya Riku perhatian dan aku tersenyum sambil mengangguk pelan.
"Iya, hanya saja Riku. Aku sedikit bodoh, terakhir kali aku berbicara dengannya di telepon waktu itu, aku lupa menanyakan nomor ponselnya maupun alamat rumahnya. Huh!" Kataku jengkel pada diriku sendiri.
"Haha... kau ini, memang ceroboh." Ejek Riku dan aku dengan cepat memukul Riku sehingga membuat pakaian Riku kotor karena tanganku masih penuh dengan bekas-bekas tanah liat.
"He-hei, Rai! Bajuku! Oh tidak! Awas kau ya, Rai!" Lalu Riku mulai mencubit pipiku dengan gemas. Aku pun tertawa lepas secara tiba-tiba.
Tiba-tiba ruangan kelas langsung hening secara tiba-tiba. Aku dan Riku tidak berbicara lagi. Aku tetap melanjutkan pekerjaanku sementara Riku berjalan ke arah jendela.
"Hei, Rai... kau manis sekali jika tertawa seperti tadi." Kata Riku sambil membalikkan tubuhnya ke arahku dan bersenderan ke tembok. Di wajah Riku, terlukis pula senyuman manisnya. Wajahku tiba-tiba terasa begitu panas. Cepat-cepat aku membuang muka. Kenapa Riku harus berbicara seperti itu? Aku benci jika dibuat tersipu seperti ini!
Aku melihat Riku berjalan mendekat ke arahku. Lalu ia mengambil kursi yang ada di sebelah mejaku dan ia duduk di sebelahku. Ia duduk menghadap ke arahku. Tangannya yang besar menyentuh daguku dengan lembut dan tiba-tiba saja bibirku dengan bibir Riku bersentuhan. Aku terkejut dan segera bangkit berdiri dari tempat kerjaku.
"Riku, apa yang kau lakukan?" Aku menutup mulutku dengan lenganku karena tanganku masih kotor. Saat aku bertanya seperti itu, Riku tidak bisa menjawab apa-apa.
"Kenapa, Riku? Seharusnya hal tersebut dilakukan dengan orang yang dicintai!" Entah mengapa tiba-tiba aku mengatakan hal seperti itu dan kata-kataku pun dengan cepat membuat Riku terkejut.
"Rai, apa yang kau katakan? Apa maksudmu hal tersebut dilakukan dengan orang yang dicintai?" Tanya Riku sambil menatap geram kepadaku. Tanganku mulai bergetar, keringat dingin mulai mengucur deras. Kenapa aku berkata seperti itu? Riku pun mulai berjalan mendekat ke arahku sampai akhirnya aku tidak bisa lari ke mana-mana lagi karena saat ini aku sudah menempel pada tembok.
BUK!! Riku memukul tembok dengan keras, napasnya pun memburu di depan wajahku. Tampaknya ia begitu kesal karena sudah mendengar aku berbicara seperti tadi.
"Ada apa denganmu, Rai? Kau benar-benar aneh akhir-akhir ini. Aku menciummu karena aku mencintaimu, Rai! Tapi, kenapa kau berkata seperti tadi? Kesannya seperti, kau tidak mencintaiku sama sekali. Kau tau, Rai... hati ini begitu sakit!" Kata Riku sambil menyentuh dadanya. Aku tetap diam saja, tidak tau harus berbicara ap. Riku menghela napas panjang.
"Sudahlah, berbicara denganmu... tetap tidak ada guna. Sampai nanti."
Lalu Riku meninggalkan aku sendirian di dalam kelas. Hatiku terasa sangat sakit, Riku... maafkan aku! Maafkan aku, Riku! Aku memang bodoh, aku tidak pernah mengerti perasaan Riku, yang selalu aku pikirkan hanyalah diriku sendiri. Ada apa denganmu, Rai?
Nanase Sakigawa
Setibanya aku di Sapporo, tempat aku akan mengantar ibuku berobat. Aku melihat ke sekeliling dan melihat ada seorang perempuan yang sebaya denganku yang bernama Tatsuya Shiori. Shiori adalah saudaraku yang tinggal di Sapporo. Ibu Shiori atau kakak ibuku adalah seorang dokter yang terkenal. Aku sengaja membawa ibu ke Sapporo supaya kakak ibuku yang akan menyembuhkan ibu. Saat Shiori melihat ke arahku, ia tersenyum manis seperti biasa.
"Nanase! Lama tidak bertemu! Hehe..." Shiori menyambut kedatanganku di stasiun shinkansen Sapporo.
"Hai, Shiori. Apa kabarmu?" Tanyaku sambil tersenyum. Senangnya hari ini aku bisa bertemu dengan Shiori lagi.
"Baik, hehe. Umm... mana ibumu? Ayo, aku antar kalian semua ke rumahku, ibuku sudah menunggu." Kata Shiori sambil tersenyum dan aku mengangguk lalu mengajak ibuku dan Chou serta Nonoru untuk masuk ke dalam mobil Shiori.
Selama perjalanan aku memasuki sebuah pedesaan indah. Tempat tinggal Shiori tidak seperti tempat tinggalku. Ia hanya tinggal di dalam sebuah rumah yang sederhana berbentuk tatami. Mungkin ibu tidak akan suka ini, karena ibu tidak suka tinggal di daerah yang begitu biasa. Sesampainya aku di rumah Shiori, aku keluar dari mobil membantu ibuku. Apa yang aku katakan tadi benar, ibu mengernyitkan dahiny saat melihat rumah kakaknya sendiri. Dengan sedikit memaksa aku menarik ibuku masuk ke dalam rumah kakak ibuku, Tatsuya Michi.
Michi menyambutku, ibuku, Chou, dan Nonoru dengan senyuman hangatnya. Tapi anehnya, ibuku tetap memasang wajah tidak suka terhadap rumah kakaknya sendiri. Sampai-sampai ibuku mengomentarinya.
"Michi, kenapa kau tidak ganti bentuk rumah? Rumah ini sudah kumuh!" Aku memukul ibuku pelan. Michi melihat tindakanku dan ia langsung tersenyum.
"Nanase, tidak apa. Aku sudah biasa mendapatkan komentar dari ibumu. Ibumu memang suka seperti itu waktu kecil juga." Kata Michi sambil tersenyum. Dilihat-lihat, Michi adalah wanita yang berumur 30-an yang begitu sabar dalam menghadapi semua orang.
Tanpa banyak bicara aku menceritakan pada Michi bahwa ibuku sakit dan dengan cepat Michi segera membawa ibuku ke ruang perawatannya. Aku harap ibu akan segera sembuh dan sehat seperti biasa.
bersambung....
Sunday, February 7, 2010
The Story Part 17
Ruroya Rai
Malam itu saat aku sedang melamun melihat ke arah jendela kamarku. Tiba-tiba Shoko memanggil namaku dari lantai bawah. Dengan cepat aku berlari ke arah pintu dan langsung menuju ke lantai bawah. Aku melihat Shoko menggenggam gagang telepon. Sepertinya aku mengerti apa yang akan dikatakan Shoko selanjutnya. Aku mengangguk ke arah Shoko dan mengambil gagang teleponnya. Aku menghirup udara dalam-dalam dan...
"NANASE SAKIGAWA!! Aku benci dirimu!!!" Setelah beberapa lama mengalami perdebatan dengan Nanase, akhirnya aku bisa menenangkan diriku. Aku menghela napas pelan dan tersenyum. Aku senang dapat berbincang-bincang dengan Nanase lagi.
"Nanase, kenapa kau pergi tanpa mengatakan satu kata pun padaku?" Tanyaku sambil memain-mainkan kabel telepon di tempat kos.
"Maaf, Rai. Tadinya aku mau mengucapkan selamat tinggal tapi kata Saki, kau sedang tertidur pulas bagaikan seekor harimau yang sedang kelelahan. Jadi aku tidak mau mengganggumu." Nanase tertawa terbahak-bahak di seberang sana.
"Sial. Kenapa kau keluar dari sini? Apa kau juga keluar dari Gakurai Academy?"
"Haha... aku tidak keluar dari Gakurai. Aku hanya mengambil cuti lagi. Aku sudah izin pada pak guru. Hmm... aku kembali ke rumahku karena, umm... ibuku sakit parah dan di rumah tidak ada seorang pun yang bisa merawat ibuku."
Ternyata, ibu Nanase sakit parah. Astaga, aku jadi merasa bersalah.
"Oh, maaf Nanase. Aku harap ibumu segera cepat sembuh." Kataku sambil tersenyum.
"Iya, arigato, Rai. Hei, sudah dulu ya. Aku harus merawat ibuku lagi. Sampai jumpa!"
Sambungan terputus. Aku meletakkan kembali gagang teleponnya ke tempat semula lalu aku menghela napas seperti biasa.
Aku kembali ke kamarku dengan senyuman dan sebelum aku memasuki kamarku, aku menoleh ke pintu di depan kamarku. Aku tersenyum lalu aku masuk ke dalam kamarku dan bersiap-siap untuk terjun ke alam mimpi.
Nanase Sakigawa
Aku menutup flap ponselku dan kembali menatap langit malam yang masih bertaburan dengan bintang-bintang indah. Senangnya, aku dapat berbicara dengan Rai lagi. Tapi, mungkin perbincangan hari ini adalah perbincangan terakhir dengannya. Karena besok aku harus segera pergi ke Sapporo untuk pergi membawa ibuku berobat di sana. Maaf aku tidak mengatakan apa-apa padamu lagi Rai. Aku hanya tidak ingin ibuku mengetahui keberadaanmu.
Aku beranjak dari balkon kamarku dan segera masuk ke dalam kamarku. Aku duduk di tepi tempat tidurku dan melihat-lihat ponselku. Entah apa yang sedang aku lihat. TRRT!! Telepon di kamarku berbunyi, menghentakkan ku secara tiba-tiba. Aku segera mengangkat telepon.
"Ya?"
"Nanase-kun, ada waktu sebentar?" Tanya Chou dari seberang sana. Aku pun segera memasang wajah aneh karena yaa... kenapa tidak Chou datang ke kamarku saja jika ia mau bicara.
"Chou, kenapa kau tidak ke kamarku saja. Dasar aneh."
"Tidak bisa, ini saja aku meneleponmu dari dapur. Aku mau ke lantai atas saja tidak berani. Nonoru-kun seperti penjaga malam, ia terus-terusan menyaksikan televisi di lantai atas." Kata Chou sambil berbisik-bisik.
"Baiklah, aku akan segera ke sana."
Aku keluar kamar dan melihat Nonoru, kakakku masih terpaku di depan televisi. Aku selalu kesal saat melihat tingkah laku kakakku. Ia tidak pernah mau membantu siapapun, kerjaannya seperti raja yang begitu angkuh. Aku menuruni anak tangga dengan perlahan dan menuju ke dapur. Tiba-tiba aku mendengar suara yang berat dari lantai atas.
"Hei, Nanase! Mau apa kau ke bawah?" Nonoru seperti biasa selalu melarangku melakukan apapun.
"Apa masalahmu, Nonoru? Aku hanya mau mencari minum, sudahlah lebih baik kau diam dan lakukan kegiatanmu yang tidak berguna itu!" Teriakku dari lantai bawah dan aku terus berjalan menuju dapur sambil menghiraukan semua kata-kata Nonoru.
Aku bertemu dengan Chou di dalam dapur dan Chou menceritakan semua tentang kejadian yang sudah terjadi selama aku tidak ada. Saat aku mendengar cerita Chou, aku benar-benar terkejut. Aku tidak menyangka akan ada kejadian seperti ini. Tapi, aku tidak mau memedulikan kejadian itu terlebih dahulu. Aku ingin ibu cepat sembuh. Lalu aku kembali ke kamarku dan segera tidur karena besok harus berangkat pagi-pagi menuju Sapporo.
bersambung....
Malam itu saat aku sedang melamun melihat ke arah jendela kamarku. Tiba-tiba Shoko memanggil namaku dari lantai bawah. Dengan cepat aku berlari ke arah pintu dan langsung menuju ke lantai bawah. Aku melihat Shoko menggenggam gagang telepon. Sepertinya aku mengerti apa yang akan dikatakan Shoko selanjutnya. Aku mengangguk ke arah Shoko dan mengambil gagang teleponnya. Aku menghirup udara dalam-dalam dan...
"NANASE SAKIGAWA!! Aku benci dirimu!!!" Setelah beberapa lama mengalami perdebatan dengan Nanase, akhirnya aku bisa menenangkan diriku. Aku menghela napas pelan dan tersenyum. Aku senang dapat berbincang-bincang dengan Nanase lagi.
"Nanase, kenapa kau pergi tanpa mengatakan satu kata pun padaku?" Tanyaku sambil memain-mainkan kabel telepon di tempat kos.
"Maaf, Rai. Tadinya aku mau mengucapkan selamat tinggal tapi kata Saki, kau sedang tertidur pulas bagaikan seekor harimau yang sedang kelelahan. Jadi aku tidak mau mengganggumu." Nanase tertawa terbahak-bahak di seberang sana.
"Sial. Kenapa kau keluar dari sini? Apa kau juga keluar dari Gakurai Academy?"
"Haha... aku tidak keluar dari Gakurai. Aku hanya mengambil cuti lagi. Aku sudah izin pada pak guru. Hmm... aku kembali ke rumahku karena, umm... ibuku sakit parah dan di rumah tidak ada seorang pun yang bisa merawat ibuku."
Ternyata, ibu Nanase sakit parah. Astaga, aku jadi merasa bersalah.
"Oh, maaf Nanase. Aku harap ibumu segera cepat sembuh." Kataku sambil tersenyum.
"Iya, arigato, Rai. Hei, sudah dulu ya. Aku harus merawat ibuku lagi. Sampai jumpa!"
Sambungan terputus. Aku meletakkan kembali gagang teleponnya ke tempat semula lalu aku menghela napas seperti biasa.
Aku kembali ke kamarku dengan senyuman dan sebelum aku memasuki kamarku, aku menoleh ke pintu di depan kamarku. Aku tersenyum lalu aku masuk ke dalam kamarku dan bersiap-siap untuk terjun ke alam mimpi.
Nanase Sakigawa
Aku menutup flap ponselku dan kembali menatap langit malam yang masih bertaburan dengan bintang-bintang indah. Senangnya, aku dapat berbicara dengan Rai lagi. Tapi, mungkin perbincangan hari ini adalah perbincangan terakhir dengannya. Karena besok aku harus segera pergi ke Sapporo untuk pergi membawa ibuku berobat di sana. Maaf aku tidak mengatakan apa-apa padamu lagi Rai. Aku hanya tidak ingin ibuku mengetahui keberadaanmu.
Aku beranjak dari balkon kamarku dan segera masuk ke dalam kamarku. Aku duduk di tepi tempat tidurku dan melihat-lihat ponselku. Entah apa yang sedang aku lihat. TRRT!! Telepon di kamarku berbunyi, menghentakkan ku secara tiba-tiba. Aku segera mengangkat telepon.
"Ya?"
"Nanase-kun, ada waktu sebentar?" Tanya Chou dari seberang sana. Aku pun segera memasang wajah aneh karena yaa... kenapa tidak Chou datang ke kamarku saja jika ia mau bicara.
"Chou, kenapa kau tidak ke kamarku saja. Dasar aneh."
"Tidak bisa, ini saja aku meneleponmu dari dapur. Aku mau ke lantai atas saja tidak berani. Nonoru-kun seperti penjaga malam, ia terus-terusan menyaksikan televisi di lantai atas." Kata Chou sambil berbisik-bisik.
"Baiklah, aku akan segera ke sana."
Aku keluar kamar dan melihat Nonoru, kakakku masih terpaku di depan televisi. Aku selalu kesal saat melihat tingkah laku kakakku. Ia tidak pernah mau membantu siapapun, kerjaannya seperti raja yang begitu angkuh. Aku menuruni anak tangga dengan perlahan dan menuju ke dapur. Tiba-tiba aku mendengar suara yang berat dari lantai atas.
"Hei, Nanase! Mau apa kau ke bawah?" Nonoru seperti biasa selalu melarangku melakukan apapun.
"Apa masalahmu, Nonoru? Aku hanya mau mencari minum, sudahlah lebih baik kau diam dan lakukan kegiatanmu yang tidak berguna itu!" Teriakku dari lantai bawah dan aku terus berjalan menuju dapur sambil menghiraukan semua kata-kata Nonoru.
Aku bertemu dengan Chou di dalam dapur dan Chou menceritakan semua tentang kejadian yang sudah terjadi selama aku tidak ada. Saat aku mendengar cerita Chou, aku benar-benar terkejut. Aku tidak menyangka akan ada kejadian seperti ini. Tapi, aku tidak mau memedulikan kejadian itu terlebih dahulu. Aku ingin ibu cepat sembuh. Lalu aku kembali ke kamarku dan segera tidur karena besok harus berangkat pagi-pagi menuju Sapporo.
bersambung....
Subscribe to:
Posts (Atom)