Ruroya Rai
Sudah kuputuskan, aku akan kembali ke Tokyo besok. Aku tersenyum ketika membayangkan bagaimana suasana saat aku kembali ke Tokyo dan tinggal kembali di tempat kos bersama dengan yang lainnya, kecuali Nanase. Mengingat Nanase tidak kembali ke kos saja sudah membuatku merasa kesepian lagi. Apalagi sudah berhari-hari di Sapporo tanpa kehadiran Nanase. Aku menghela napas panjang.
Aku melamun selama beberapa detik, tiba-tiba aku sadar aku mau menghubungi Shoko. Dengan cepat tanganku bergerak meraih ponselku yang aku letakkan di meja sebelah tempat tidurku. Aku mencari-cari nomor ponsel Shoko di ponselku. Setelah itu menghubunginya langsung.
"Moshimoshi!" Sapa Shoko dari seberang sana.
"Shoko, hehe... apa kabar?" Tanyaku sambil tersenyum.
"Rai!! Hehe... aku baik-baik saja. Astaga aku merindukanmu, Rai!" Aku tersenyum ketika Shoko berbicara seperti itu.
"Hehe... tenang saja, kau tidak akan merindukan aku lagi setelah itu." Terasa jeda sesaat.
"Tidak akan merindukanmu lagi? Maksudmu, Rai?" Shoko terdengar bingung sekali.
"Hehe... maksudku, besok aku akan segera kembali ke Tokyo!" Aku berjingkrak-jingkrak di kamar.
"Kembali ke Tokyo?!! Aaaa!!! Senangnya!!" Shoko pun juga berteriak-teriak di seberang sana.
"Aku tidak sabar untuk menunggu hari esok, Rai!" Kata Shoko lagi. Aku hanya tersenyum-senyum sendiri di kamar.
Setelah berbincang-bincang cukup lama dengan Shoko, akhirnya aku memutuskan sambungan. Aku meletakkan kembali ponselku dan kembali melamun. Aku tak percaya, besok aku akan segera kembali ke Tokyo. Bertemu dengan teman-temanku kembali. Tapi sesuatu yang berbeda akan segera terjadi di sana. Festival Obon akan segera dilaksanakan juga dan pada acara tersebut, aku akan pergi ke makam Riku. Ya, di sana mungkin aku akan bertemu dengannya lagi, setelah lama aku tidak bertemu dengannya.
Aku berjalan ke arah jendela. Menyentuh kaca jendela sambil melihat ke arah luar. Hamparan rumput yang berwarna hijau kekuning-kuningan memberikan suasana yang begitu indah di Sapporo. Aku tersenyum melihat keindahan tersebut. Andaikan, aku dapat melihat keindahan Jepang bersama dengan Riku. Tapi, kenapa kau pergi begitu cepat Riku? Aku merindukanmu lagi...
Nanase Sakigawa
Di pagi hari yang cerah, aku terbangun di dalam sebuah kamar yang kecil dan sempit. Aku melihat ke sekeliling, aku tersenyum. Ya, aku telah kembali ke tempat kos yang begitu nyaman untuk ditempati. Aku menghirup udara segar yang ada di dalam kamarku. Bau khas yang begitu menyegarkan. Aku beranjak dari tempat tidurku, berdiri mengangkat tanganku ke atas dan merenggangkan otot-otot tubuhku.
Aku berjalan ke lemari pakaianku dan mengambil beberapa helai pakaian. Lalu berjalan ke arah pintu. Saat aku membuka pintu, tiba-tiba Shoko sudah berada di depanku. Aku terkejut dan segera mundur untuk menjauh dari Shoko.
"Ada apa, Shoko? Tiba-tiba seperti ini." Aku bertanya pada Shoko.
"Kau tau, Nanase..." Aku menggeleng pelan. Ya, tentu saja, karena aku tidak mengerti apa yang akan dikatakan Shoko.
"Dasar kau, Nanase! Kau tau, Rai akan kembali ke Tokyo besok!" Kata Shoko sambil tersenyum. Aku terkejut dan hampir saja aku menjatuhkan barang-barangku.
"Besok? Bukankah Rai akan kembali ke Tokyo di akhir musim panas?" Shoko menggeleng sambil mengangkat bahu. Tandanya Shoko tidak mengerti apa-apa.
"Sudahlah, Nanase. Jika memang Rai mau kembali besok, masa kau akan melarangnya juga? Lebih baik, kita semua membuat kejutan untuknya. Bagaimana?" Aku berpikir. Menurutku, kata-kata Shoko ada benarnya juga dan akhirnya aku mengangguk pelan sambil tersenyum.
Ya, aku akan segera membuat kejutan untuk Rai. Untuk menyambut kedatangannya di Tokyo besok. Ternyata aku baru ingat, besok juga ada Festival Obon. Di acara itu aku akan segera mengunjungi makam Riku. Baiklah, jangan pikirkan itu dulu. Aku harus memikirkan bagaimana cara mengejutkan Rai.
Setelah mendengar berita tersebut, aku langsung bergegas untuk menyiapkan semua peralatan untuk menyambut kedatangan Rai besok. Aku tak menyangka Rai akan kembali besok. Apa mungkin karena besok bertepatan dengan Festival Obon, Rai memutuskan untuk kembali? Apa Rai juga mau mengunjungi makam Riku?
Saat ini aku sedang berjalan di daerah Harajuku. Tempat ini mengingatkan aku akan kejadian menyedihkan waktu itu. Aku melamun melihat ke arah jalanan, tiba-tiba dari penglihatanku terlihat tubuh Riku yang tergeletak di atas aspal dengan dilumuri darah. Aku menampar pipiku sendiri dan menggeleng-geleng pelan. Nanase, apa yang sedang kau pikirkan? Dasar bodoh!
Aku melewati jalan tersebut dan tiba-tiba aku menginjak sesuatu. Aku melihat ke bawah dan menemukan sebuah benda yang bersinar-sinar. Warnanya keemasan. Aku mengambil benda kecil tersebut dari tanah.
"Cincin?" Aku bergumam pelan ketika menatap cincin tersebut.
"Oh ya, kau orang yang waktu itu kan? Ini cincin temanmu yang terjatuh waktu itu." Tiba-tiba ada seseorang yang berkata seperti itu sambil menyentuh pundakku. Aku menoleh menatap orang tersebut.
"Apa kau yakin?" Aku tidak percaya dengan kata-kata orang itu.
"Tentu saja aku yakin. Aku sengaja meletakkan cincin ini di jalan dan melihat siapa yang mungkin akan menyadarinya jika mereka menginjak sesuatu." Aku mengangguk-angguk saat mendengar kata-kata orang tersebut.
"Baiklah, arigato sudah menjaga cincin ini."
Setelah itu aku pergi meninggalkan orang tersebut. Aku berjalan sambil sesekali melihat ke arah cincin tersebut. Aku mempererat genggamanku pada cincin tersebut. Benda ini adalah benda peninggalan Riku. Aku harus segera mengembalikannya.
Sekembalinya dari pergi belanja di Harajuku, aku memutuskan untuk pergi ke makam Riku. Makam Riku masih terlihat berseih dan pada batu nisannya tertulis nama Riku dalam kanji katakana dan hiragana yang diukir dengan indah. Aku menyentuh batau nisan tersebut. Lalu aku mengeluarkan cincin tersebut dari saku celanaku dan meletakkannya di atas batu nisan tersebut. Aku mengucapkan beberapa doa.
"Riku, semoga kau bahagia di sana. Oh ya, aku mau melakukan pengakuan. Maaf baru mengatakannya saat ini. Umm... aku menyukai Rai. Aku ingin bersamanya. Tapi, ia masih belum mengingatku sama sekali. Aku tidak tau harus bagaimana. Tapi sampai saat ini, aku masih mencintai Rai. Maafkan aku, Riku."
Setelah mengatakan hal tersebut, aku pergi meninggalkan makam Riku. Aku tersenyum sambil menengadah ke atas langit. Akhirnya, setelah sekian lama, aku dapat mengatakan semuanya kepadamu, Riku...
bersambung...
There is no such things as a perfect person. That is why we can't live alone.
Thursday, March 4, 2010
Wednesday, February 24, 2010
The Story Part 37
Ruroya Rai
Setibanya di rumah, Michiru langsung berlari mendahuluiku memasuki rumah. Aku hanya menggelengkan kepalaku. Udara di musim panas pun terasa semakin panas. Ya, tentu saja karena saat ini sudah memasuki musim panas. Aku mengibas-ngibaskan tanganku karena aku mulai kepanasan. Aku masuk ke dalam rumah dan mendapati ibuku sedang menyaksikan acara di televisi. Aku mengucapkan salam pada ibuku.
Ketika aku hendak pergi ke kamarku, ibuku tiba-tiba memanggilku. Aku segera berbalik dan berjalan ke arah ibu yang sedang duduk di matras yang ada di lantai. Aku pun ikut duduk di atas salah satu matras yang sudah disiapkan.
"Ada apa, bu?" Tanyaku sambil menatap wajah ibuku. Tampaknya ibu sudah mengetahui semuanya dari Michiru. Michiru memang cepat jika membawakan pesan untuk ibuku.
"Rai, apa benar kau ingin kembali ke Tokyo?" Ibu memasang tampang sedih dan kecewa. Aku mulai merasa tidak enak pada ibu dan aku menundukkan kepalaku.
"Maaf, bu. Ini keinginanku. Aku ingin menyelesaikan sesuatu di Tokyo dan aku juga memiliki beberapa alasan lagi, kenapa aku ingin kembali ke Tokyo." Ibu menatapku. Wajahnya yang sudah terlihat tua di mata orang lain, tapi di mataku tidak tetap terlihat cantik di usia tuanya saat ini.
"Kenapa, Rai?" Aku menghela napas.
"Sepertinya aku mulai mengingat sesuatu. Karena itu, untuk memastikannya, aku ingin kembali di Tokyo dan tinggal seperti biasa di sana." Ibuku terkejut ketika mendengar bahwa aku sudah mulai mengingat sesuatu.
"Kau, sudah mengingatnya? Astaga! Baiklah, Rai. Ibu tau kau memang tidak memenuhi janjimu, tapi tidak apa. Ibu akan mengizinkanmu kembali ke Tokyo. Tapi, tetap kabari ibu dan ayah ya." Kata ibuku sambil tersenyum.
"Tentu saja aku akan selalu memberi kabar, bu."
Setelah perbincangan singkat dengan ibuku, aku pergi menuju kamarku. Membereskan barang-barang yang akan aku bawa ke Tokyo nanti. Mungkin, aku akan kembali ke Tokyo dalam beberapa hari lagi. Aku akan mencari waktu yang tepat untuk kembali ke Tokyo.
Riku, aku akan segera kembali ke Tokyo dan mencari tau tentang pelaku yang sudah membuatmu seperti ini. Aku janji, Riku. Oh ya, Riku... akhir-akhir ini aku mulai mengingat sesuatu. Aku masih belum begitu yakin dengan apa yang aku lihat di ingatanku. Tapi, apa kau tau siapa laki-laki yang ada di ingatanku sebenarnya? Aku begitu penasaran, Riku. Aku tidak mendapatkan satu petunjuk apa pun mengenai laki-laki itu. Sungguh membingungkan.
Aku berjalan ke arah jendela dan menyentuh kacanya. Terasa panas. Ya, karena kaca jendela kamarku terus-terusan disinari oleh cahaya matahari. Aku menatap ke arah luar sambil melihat keindahan pedesaan Sapporo yang begitu indah. Aku senang dapat tinggal di sini. Sapporo memang kota kelahiranku. Aku tersenyum ketika melihat 2 ekor pasangan burung yang terbang bersama-sama. Aku membayangkan bahwa 2 burung itu adalah aku dan Riku. Aku yakin aku akan sangat bahagia dapat terbang bersama Riku.
Riku, lagi-lagi aku merindukanmu...
Nanase Sakigawa
Akhirnya, malam hari pun tiba. Ayah juga sudah pergi ke Seoul untuk melanjutkan pekerjaannya di sana. Aku menghela napas lega. Ayah tidak ada di rumah dan aku bisa kembali ke tempat kos. Dengan cepat aku membawa barang-barangku dan berpamitan dengan ibu, Nonoru, dan Chou. Mereka mengantarku sampai ke gerbang depan rumah.
Aku berjalan sendirian di bawah sinar lampu jalanan dengan perasaan yang senang. Akhirnya, setelah sekian lama aku disekap di rumah, aku dapat kembali lagi ke tempat kos itu. Setelah beberapa menit perjalanan, akhirnya aku sampai di depan tempat kos. Tempat kos ini masih sama seperti yang dulu. Tidak berubah sama sekali. Aku tersenyum dan berjalan mendekat ke arah pintu kos. Mempersiapkan hati dan jiwa, takut tiba-tiba ada beberapa orang yang menyerangku dari dalam. Aku menghela napas panjang lalu mengetuk pintu dengan pelan.
Pintu kos terbuka, jantungku pun berdetak lebih cepat dari biasanya. Tidak pernah aku merasa begitu tegang ketika kembali ke tempat ini. Tapi, kenapa hari ini aku merasa begitu tegang? Entahlah. Ternyata Shoko yang membuka pintu. Awalnya, Shoko tidak melihat wajahku dengan jelas karena di luar begitu gelap. Namun, tiba-tiba Shoko mengenaliku dan langsung memelukku. Takato dan Saki yang melihat dari dalam langsung berlarian untuk memelukku.
"NANASE!!" Semua langsung berteriak memanggil namaku. Aku hanya tersenyum dan aku merasa sangat senang dapat kembali ke tempat kos ini lagi. Shoko dan yang lainnya langsung mengajakku masuk ke dalam, membawaku ke dalam kamarku. Oke, aku merasa menjadi orang baru lagi di tempat ini. Saki juga membuatkan hidangan selamat datang untuk ku. Aku menghirup aroma makanan Saki dan tersenyum ketika merasakan aroma makanannya begitu enak.
Aku makan dengan lahap bersama dengan yang lainnya. Aku tidak percaya dapat kembali seperti ini lagi setelah sekian lama tidak makan bersama seperti ini. Aku merindukan rasa kekeluargaan di tempat ini.
"Aku senang dapat kembali ke sini lagi." Kataku memulai pembicaraan.
"Kami semua sangat senang dengan kehadiranmu lagi, Nanase." Kata Saki sambil tersenyum. Aku mengangguk dan membalas senyuman Saki.
"Oh ya, teman-teman. Ketika musim panas berakhir nanti, Rai akan kembali ke Tokyo. Aku ingin, kita semua membuat kejutan untuknya. Kejutan selamat datang serta kejutan kembalinya aku ke kos ini. Bagaimana?" Shoko, Takato, dan Saki langsung mengangguk bersama. Mereka mau membuat kejutan untuk Rai. Mereka semua ternyata sangat merindukan aku dan Rai.
Aku senang memiliki teman-teman yang sekarang sudah aku anggap keluargaku sendiri yang begitu perhatian kepadaku. Mereka pun tidak peduli dengan status sosialku yang ternyata adalah aku berasal dari keluarga kaya raya dan ternama. Mereka pun juga tidak menjauhiku ketika aku mengalami depresi berat, tapi ya aku tidak menghargai perhatian mereka pada waktu itu. Aku terus menghindar dan tidak pernah menghubungi mereka. Saat itu aku merasa bersalah.
Tapi hari ini jauh berbeda dari hari biasanya, aku sudah kembali ke tempat kos ini dan berkumpul bersama-sama di tempat ini. Aku bersyukur dapat kembali ke tempat ini.
bersambung...
Setibanya di rumah, Michiru langsung berlari mendahuluiku memasuki rumah. Aku hanya menggelengkan kepalaku. Udara di musim panas pun terasa semakin panas. Ya, tentu saja karena saat ini sudah memasuki musim panas. Aku mengibas-ngibaskan tanganku karena aku mulai kepanasan. Aku masuk ke dalam rumah dan mendapati ibuku sedang menyaksikan acara di televisi. Aku mengucapkan salam pada ibuku.
Ketika aku hendak pergi ke kamarku, ibuku tiba-tiba memanggilku. Aku segera berbalik dan berjalan ke arah ibu yang sedang duduk di matras yang ada di lantai. Aku pun ikut duduk di atas salah satu matras yang sudah disiapkan.
"Ada apa, bu?" Tanyaku sambil menatap wajah ibuku. Tampaknya ibu sudah mengetahui semuanya dari Michiru. Michiru memang cepat jika membawakan pesan untuk ibuku.
"Rai, apa benar kau ingin kembali ke Tokyo?" Ibu memasang tampang sedih dan kecewa. Aku mulai merasa tidak enak pada ibu dan aku menundukkan kepalaku.
"Maaf, bu. Ini keinginanku. Aku ingin menyelesaikan sesuatu di Tokyo dan aku juga memiliki beberapa alasan lagi, kenapa aku ingin kembali ke Tokyo." Ibu menatapku. Wajahnya yang sudah terlihat tua di mata orang lain, tapi di mataku tidak tetap terlihat cantik di usia tuanya saat ini.
"Kenapa, Rai?" Aku menghela napas.
"Sepertinya aku mulai mengingat sesuatu. Karena itu, untuk memastikannya, aku ingin kembali di Tokyo dan tinggal seperti biasa di sana." Ibuku terkejut ketika mendengar bahwa aku sudah mulai mengingat sesuatu.
"Kau, sudah mengingatnya? Astaga! Baiklah, Rai. Ibu tau kau memang tidak memenuhi janjimu, tapi tidak apa. Ibu akan mengizinkanmu kembali ke Tokyo. Tapi, tetap kabari ibu dan ayah ya." Kata ibuku sambil tersenyum.
"Tentu saja aku akan selalu memberi kabar, bu."
Setelah perbincangan singkat dengan ibuku, aku pergi menuju kamarku. Membereskan barang-barang yang akan aku bawa ke Tokyo nanti. Mungkin, aku akan kembali ke Tokyo dalam beberapa hari lagi. Aku akan mencari waktu yang tepat untuk kembali ke Tokyo.
Riku, aku akan segera kembali ke Tokyo dan mencari tau tentang pelaku yang sudah membuatmu seperti ini. Aku janji, Riku. Oh ya, Riku... akhir-akhir ini aku mulai mengingat sesuatu. Aku masih belum begitu yakin dengan apa yang aku lihat di ingatanku. Tapi, apa kau tau siapa laki-laki yang ada di ingatanku sebenarnya? Aku begitu penasaran, Riku. Aku tidak mendapatkan satu petunjuk apa pun mengenai laki-laki itu. Sungguh membingungkan.
Aku berjalan ke arah jendela dan menyentuh kacanya. Terasa panas. Ya, karena kaca jendela kamarku terus-terusan disinari oleh cahaya matahari. Aku menatap ke arah luar sambil melihat keindahan pedesaan Sapporo yang begitu indah. Aku senang dapat tinggal di sini. Sapporo memang kota kelahiranku. Aku tersenyum ketika melihat 2 ekor pasangan burung yang terbang bersama-sama. Aku membayangkan bahwa 2 burung itu adalah aku dan Riku. Aku yakin aku akan sangat bahagia dapat terbang bersama Riku.
Riku, lagi-lagi aku merindukanmu...
Nanase Sakigawa
Akhirnya, malam hari pun tiba. Ayah juga sudah pergi ke Seoul untuk melanjutkan pekerjaannya di sana. Aku menghela napas lega. Ayah tidak ada di rumah dan aku bisa kembali ke tempat kos. Dengan cepat aku membawa barang-barangku dan berpamitan dengan ibu, Nonoru, dan Chou. Mereka mengantarku sampai ke gerbang depan rumah.
Aku berjalan sendirian di bawah sinar lampu jalanan dengan perasaan yang senang. Akhirnya, setelah sekian lama aku disekap di rumah, aku dapat kembali lagi ke tempat kos itu. Setelah beberapa menit perjalanan, akhirnya aku sampai di depan tempat kos. Tempat kos ini masih sama seperti yang dulu. Tidak berubah sama sekali. Aku tersenyum dan berjalan mendekat ke arah pintu kos. Mempersiapkan hati dan jiwa, takut tiba-tiba ada beberapa orang yang menyerangku dari dalam. Aku menghela napas panjang lalu mengetuk pintu dengan pelan.
Pintu kos terbuka, jantungku pun berdetak lebih cepat dari biasanya. Tidak pernah aku merasa begitu tegang ketika kembali ke tempat ini. Tapi, kenapa hari ini aku merasa begitu tegang? Entahlah. Ternyata Shoko yang membuka pintu. Awalnya, Shoko tidak melihat wajahku dengan jelas karena di luar begitu gelap. Namun, tiba-tiba Shoko mengenaliku dan langsung memelukku. Takato dan Saki yang melihat dari dalam langsung berlarian untuk memelukku.
"NANASE!!" Semua langsung berteriak memanggil namaku. Aku hanya tersenyum dan aku merasa sangat senang dapat kembali ke tempat kos ini lagi. Shoko dan yang lainnya langsung mengajakku masuk ke dalam, membawaku ke dalam kamarku. Oke, aku merasa menjadi orang baru lagi di tempat ini. Saki juga membuatkan hidangan selamat datang untuk ku. Aku menghirup aroma makanan Saki dan tersenyum ketika merasakan aroma makanannya begitu enak.
Aku makan dengan lahap bersama dengan yang lainnya. Aku tidak percaya dapat kembali seperti ini lagi setelah sekian lama tidak makan bersama seperti ini. Aku merindukan rasa kekeluargaan di tempat ini.
"Aku senang dapat kembali ke sini lagi." Kataku memulai pembicaraan.
"Kami semua sangat senang dengan kehadiranmu lagi, Nanase." Kata Saki sambil tersenyum. Aku mengangguk dan membalas senyuman Saki.
"Oh ya, teman-teman. Ketika musim panas berakhir nanti, Rai akan kembali ke Tokyo. Aku ingin, kita semua membuat kejutan untuknya. Kejutan selamat datang serta kejutan kembalinya aku ke kos ini. Bagaimana?" Shoko, Takato, dan Saki langsung mengangguk bersama. Mereka mau membuat kejutan untuk Rai. Mereka semua ternyata sangat merindukan aku dan Rai.
Aku senang memiliki teman-teman yang sekarang sudah aku anggap keluargaku sendiri yang begitu perhatian kepadaku. Mereka pun tidak peduli dengan status sosialku yang ternyata adalah aku berasal dari keluarga kaya raya dan ternama. Mereka pun juga tidak menjauhiku ketika aku mengalami depresi berat, tapi ya aku tidak menghargai perhatian mereka pada waktu itu. Aku terus menghindar dan tidak pernah menghubungi mereka. Saat itu aku merasa bersalah.
Tapi hari ini jauh berbeda dari hari biasanya, aku sudah kembali ke tempat kos ini dan berkumpul bersama-sama di tempat ini. Aku bersyukur dapat kembali ke tempat ini.
bersambung...
The Story Part 36
Ruroya Rai
Aku menjalani hari-hariku di Sapporo seperti biasa. Tanpa kehadiran Nanase maupun Riku. Ke mana ya mereka? Aku tau Nanase saat ini ada di Tokyo, tapi bagaimana dengan Riku? Aku merindukanmu, Riku. Aku ingin cepat-cepat kembali ke Tokyo. Tapi, aku sudah berjanji pada keluargaku kalau aku akan kembali ke Tokyo ketika musim panas berakhir. Bagaimana ya?
Saat ini aku sedang berada di kamar sambil memperhatikan cincin yang diberikan Riku. Aku menghela napas pelan. Apa yang sedang Riku lakukan di atas sana ya? Aku ingin bertemu dengannya.
"Nee-chan!!" Michiru, adik perempuanku berteriak dari luar kamarku. Aku mendesah dengan kesal. Ada apa dengan Michiru? Setiap hari selalu menggangguku.
"Ada apa, Michi?" Aku membuka pintu dengan kasar.
"Hai, Nee-chan. Jangan marah-marah lagi ya. Aku hanya mau mengajak nee-chan jalan-jalan. Mau ikut?" Kata Michiru sambil tersenyum dan kemarahanku pun langsung mereda. Setelah itu aku mengangguk.
Aku kira Michiru hanya akan menggangguku seperti biasa. Tapi kenyataannya tidak. Michiru mengajakku pergi ke sebuah pasar yang ada di Sapporo. Aku sendiri bingung kenapa tiba-tiba Michiru mengajakku ke tempat ini. Ternyata Michiru ingin berbelanja sesuatu untuk kebutuhan di Tokyo nanti. Pasar di Sapporo ini menjual barang-barang yang lebih murah dibandingkan dengan barang-barang yang ada di Tokyo. Karena itu aku dan Michiru lebih sering berbelanja di tempat ini.
Michiru membeli beberapa barang untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari. Ia membeli beberapa peralatan dapur dan lain-lain. Setelah semua barang lengkap, ia membeli gulali yang di jual di pasar tersebut. Saat Michiru menawarkannya, aku hanya menggelengkan kepala. Aku memang kurang suka dengan makanan yang manis-manis. Aku mengajak Michiru untuk duduk di bangku taman yang dekat dengan pasar tersebut. Michiru dengan lahapnya memakan gulali tersebut sementara aku hanya menyeruput ocha dingin yang tadi baru aku beli.
"Michi..." Aku memanggil Michiru lalu menyeruput ocha dinginku lagi. Michiru menoleh sambil tersenyum.
"Ya?"
"Aku ingin kembali ke Tokyo." Terasa jeda sesaat.
"Kenapa, nee-chan? Nee-chan bilang. nee-chan akan kembali ke Tokyo ketika musim panas berakhir." Aku mengangguk pelan, di dalam hatiku keluarlah perasaan bersalah.
"Aku tau. Tapi, aku ingin... argh, bagaimana menjelaskannya. Aku bingung, Michi. Kau ingat Nanase?" Tanyaku sambil menoleh ke arah Michiru. Michiru pun mengangguk. Sepertinya Michiru masih ingat dengan Nanase.
"Ada apa dengan Sakigawa-kun?"
"Entah mengapa, aku seperti mulai mengenal laki-laki itu. Karena itu, aku ingin mencari tau dan aku ingin kembali ke Tokyo." Kataku sambil menundukkan kepalaku.
"Nee-chan... seperti yang ibu katakan waktu itu, nee-chan memang seharusnya mengenal Sakigawa-kun." Michiru tersenyum ke arahku. Aku mengangguk pelan.
"Jadi... apa nee-chan akan kembali ke Tokyo?" Aku menoleh dan menatap Michiru. Aku sendiri pun tidak tega meninggalkan keluargaku karena aku sudah berjanji pada keluargaku sendiri.
"Ya... aku akan segera kembali ke Tokyo dalam beberapa hari ini."
"Baiklah, aku harap nee-chan akan menemukan apa yang nee-chan cari." Kata Michiru sambil tersenyum dan aku segera memeluk adikku tercinta. Michiru memang penyemangat hidupku walaupun terkadang aku sempat kesal dengannya.
Dalam perjalanan pulang, aku berkata pada Riku melalui pikiranku. Riku, sebentar lagi aku akan kembali ke Tokyo. Aku akan mengunjungi makammu. Tunggu aku ya, Riku. Aku ingin menemuimu di sana. Aku akan mengajak Nanase dan yang lainnya juga. Karena... kami semua merindukanmu. Aku tau pasti yang lain juga merindukanmu.
Nanase Sakigawa
Hari ini, aku akan diam di rumah untuk beberapa saat. Nanti malamnya, aku akan segera pergi meninggalkan rumah ini dan tinggal kembali di tempat kos itu. Sudah lama sekali aku tidak bertemu dengan Shoko, Takato, serta Saki. Bagaimana kabar mereka sekarang ya? Karena aku penasaran, aku segera meraih ponselku yang kuletakkan di meja kamarku. Aku mencari nomor telepon kos di ponselku. Setelah itu terdengarlah beberapa nada sambung.
"Moshimoshi!"
"Hei, masih mengingatku?" Aku mencoba untuk terdengar misterius.
"Hmm? Nanase? Hah?! Nanase?? Apa benar ini Nanase???" Ternyata yang mengangkat adalah Shoko. Aku selalu mengenal cara bicara Shoko, ia adalah wanita muda yang selalu mudah terkejut ketika bertemu dengan teman lamanya.
"Hei, Shoko. Hehe... lama tidak berbincang-bincang." Kataku sambil tersenyum.
"Ya Tuhan, Nanase!! Sudah lama sekali kau tidak menghubungi kami. Kau ke mana saja selama liburan musim panas? Waktu itu aku lupa bertanya." Tanya Shoko dari seberang sana.
"Aku baru saja kembali dari Sapporo. Aku liburan musim panas pergi ke sana dan menginap di rumah saudaraku." Terasa jeda sesaat.
"Kau ke Sapporo? Berarti kau bertemu dengan Rai juga?"
"Ya, aku bahkan mengajaknya pergi bersama ke festival musim panas."
"Dan sekarang kau sudah ada di Tokyo?! Astaga! Senangnya!!! Oke, besok kau harus membuat janji untuk bertemu denganku. Aku sangat merindukanmu dan Rai, tempat kos ini terasa begitu sepi tanpa kehadiran kalian berdua. Kau tau, setiap hari Takato kerjaannya tidur terus selama kalian berdua tidak ada." Aku mengernyitkan mataku saat mendengar Shoko berkata seperti itu.
"Takato tidur terus? Hmm... bisakah kau panggilkan Takato? Aku ingin bicara dengannya."
"Baiklah, tunggu sebentar." Telepon diletakkan dan terdengarlah suara Shoko yang berteriak memanggil Takato. Aku menunggu Takato untuk segera mengambil teleponnya sambil menendang-nendang beberapa pakaian kotor yang lupa aku keluarkan di kamarku.
"Ya?" Terdengarlah suara Takato tiba-tiba.
"Hei, Takato! Apa kabar?" Tidak ada jawaban. Ada apa ya di sana? Aku pun mulai bingung. Namun, ketika aku hendak bertanya kenapa tiba-tiba...
"NANASE SAKIGAWA!! Ke mana saja kau?! Kenapa tidak pernah mengatakan satu patah pun kepadaku?" Takato tiba-tiba saja berteriak dengan begitu keras.
"Hei-hei, sabar Takato. Aku hanya pergi berlibur ke Sapporo untuk menemui saudaraku. Maaf jika aku tidak pernah mengatakan apa-apa padamu." Kataku sambil tersenyum lagi.
"Baiklah. Dimaafkan, tapi lain kali jangan seperti itu lagi. Kau hanya membuat kami semua khawatir, kau tau itu?" Takato mulai menceramahiku.
"Iya, aku tau, Takato. Maafkan aku. Oh ya, Takato... aku harap ketika aku memberitahu tentang ini, kau tidak membeberkannya kepada Shoko maupun Saki, oke? Kau harus berjanji padaku." Aku mulai memiliki sebuah rencana.
"Baiklah. Memangnya apa, Nanase?" Aku mengambil napas panjang dan membuangnya perlahan-lahan lalu tersenyum seperti biasa.
"Aku akan segera kembali ke tempat kos malam ini. Jadi, tolong rapikan kamarku ya, Takato dan jangan katakan hal ini pada Shoko dan Saki. Oke?"
"Baiklah, Nanase! Haha... senangny!" Setelah berbincang-bincang cukup lama dengan Takato, akhirnya kami mengakhiri sambungan telepon.
Aku mulai mempersiapkan barang-barang yang akan aku bawa nanti sambil mendendangkan beberapa lagu kesukaanku. Hari ini aku sangat senang, aku akan kembali ke tempat kos dan kembali bersekolah di Gakurai Academy untuk melanjutkan studi dengan membawa nama Riku. Riku teruslah melihatku, karena aku akan melanjutkan studiku dengan membawa namamu seperti yang kau pesankan waktu itu. Aku berjanji tidak akan mengecewakanmu, Riku! Sebagai sahabatmu...
bersambung...
Aku menjalani hari-hariku di Sapporo seperti biasa. Tanpa kehadiran Nanase maupun Riku. Ke mana ya mereka? Aku tau Nanase saat ini ada di Tokyo, tapi bagaimana dengan Riku? Aku merindukanmu, Riku. Aku ingin cepat-cepat kembali ke Tokyo. Tapi, aku sudah berjanji pada keluargaku kalau aku akan kembali ke Tokyo ketika musim panas berakhir. Bagaimana ya?
Saat ini aku sedang berada di kamar sambil memperhatikan cincin yang diberikan Riku. Aku menghela napas pelan. Apa yang sedang Riku lakukan di atas sana ya? Aku ingin bertemu dengannya.
"Nee-chan!!" Michiru, adik perempuanku berteriak dari luar kamarku. Aku mendesah dengan kesal. Ada apa dengan Michiru? Setiap hari selalu menggangguku.
"Ada apa, Michi?" Aku membuka pintu dengan kasar.
"Hai, Nee-chan. Jangan marah-marah lagi ya. Aku hanya mau mengajak nee-chan jalan-jalan. Mau ikut?" Kata Michiru sambil tersenyum dan kemarahanku pun langsung mereda. Setelah itu aku mengangguk.
Aku kira Michiru hanya akan menggangguku seperti biasa. Tapi kenyataannya tidak. Michiru mengajakku pergi ke sebuah pasar yang ada di Sapporo. Aku sendiri bingung kenapa tiba-tiba Michiru mengajakku ke tempat ini. Ternyata Michiru ingin berbelanja sesuatu untuk kebutuhan di Tokyo nanti. Pasar di Sapporo ini menjual barang-barang yang lebih murah dibandingkan dengan barang-barang yang ada di Tokyo. Karena itu aku dan Michiru lebih sering berbelanja di tempat ini.
Michiru membeli beberapa barang untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari. Ia membeli beberapa peralatan dapur dan lain-lain. Setelah semua barang lengkap, ia membeli gulali yang di jual di pasar tersebut. Saat Michiru menawarkannya, aku hanya menggelengkan kepala. Aku memang kurang suka dengan makanan yang manis-manis. Aku mengajak Michiru untuk duduk di bangku taman yang dekat dengan pasar tersebut. Michiru dengan lahapnya memakan gulali tersebut sementara aku hanya menyeruput ocha dingin yang tadi baru aku beli.
"Michi..." Aku memanggil Michiru lalu menyeruput ocha dinginku lagi. Michiru menoleh sambil tersenyum.
"Ya?"
"Aku ingin kembali ke Tokyo." Terasa jeda sesaat.
"Kenapa, nee-chan? Nee-chan bilang. nee-chan akan kembali ke Tokyo ketika musim panas berakhir." Aku mengangguk pelan, di dalam hatiku keluarlah perasaan bersalah.
"Aku tau. Tapi, aku ingin... argh, bagaimana menjelaskannya. Aku bingung, Michi. Kau ingat Nanase?" Tanyaku sambil menoleh ke arah Michiru. Michiru pun mengangguk. Sepertinya Michiru masih ingat dengan Nanase.
"Ada apa dengan Sakigawa-kun?"
"Entah mengapa, aku seperti mulai mengenal laki-laki itu. Karena itu, aku ingin mencari tau dan aku ingin kembali ke Tokyo." Kataku sambil menundukkan kepalaku.
"Nee-chan... seperti yang ibu katakan waktu itu, nee-chan memang seharusnya mengenal Sakigawa-kun." Michiru tersenyum ke arahku. Aku mengangguk pelan.
"Jadi... apa nee-chan akan kembali ke Tokyo?" Aku menoleh dan menatap Michiru. Aku sendiri pun tidak tega meninggalkan keluargaku karena aku sudah berjanji pada keluargaku sendiri.
"Ya... aku akan segera kembali ke Tokyo dalam beberapa hari ini."
"Baiklah, aku harap nee-chan akan menemukan apa yang nee-chan cari." Kata Michiru sambil tersenyum dan aku segera memeluk adikku tercinta. Michiru memang penyemangat hidupku walaupun terkadang aku sempat kesal dengannya.
Dalam perjalanan pulang, aku berkata pada Riku melalui pikiranku. Riku, sebentar lagi aku akan kembali ke Tokyo. Aku akan mengunjungi makammu. Tunggu aku ya, Riku. Aku ingin menemuimu di sana. Aku akan mengajak Nanase dan yang lainnya juga. Karena... kami semua merindukanmu. Aku tau pasti yang lain juga merindukanmu.
Nanase Sakigawa
Hari ini, aku akan diam di rumah untuk beberapa saat. Nanti malamnya, aku akan segera pergi meninggalkan rumah ini dan tinggal kembali di tempat kos itu. Sudah lama sekali aku tidak bertemu dengan Shoko, Takato, serta Saki. Bagaimana kabar mereka sekarang ya? Karena aku penasaran, aku segera meraih ponselku yang kuletakkan di meja kamarku. Aku mencari nomor telepon kos di ponselku. Setelah itu terdengarlah beberapa nada sambung.
"Moshimoshi!"
"Hei, masih mengingatku?" Aku mencoba untuk terdengar misterius.
"Hmm? Nanase? Hah?! Nanase?? Apa benar ini Nanase???" Ternyata yang mengangkat adalah Shoko. Aku selalu mengenal cara bicara Shoko, ia adalah wanita muda yang selalu mudah terkejut ketika bertemu dengan teman lamanya.
"Hei, Shoko. Hehe... lama tidak berbincang-bincang." Kataku sambil tersenyum.
"Ya Tuhan, Nanase!! Sudah lama sekali kau tidak menghubungi kami. Kau ke mana saja selama liburan musim panas? Waktu itu aku lupa bertanya." Tanya Shoko dari seberang sana.
"Aku baru saja kembali dari Sapporo. Aku liburan musim panas pergi ke sana dan menginap di rumah saudaraku." Terasa jeda sesaat.
"Kau ke Sapporo? Berarti kau bertemu dengan Rai juga?"
"Ya, aku bahkan mengajaknya pergi bersama ke festival musim panas."
"Dan sekarang kau sudah ada di Tokyo?! Astaga! Senangnya!!! Oke, besok kau harus membuat janji untuk bertemu denganku. Aku sangat merindukanmu dan Rai, tempat kos ini terasa begitu sepi tanpa kehadiran kalian berdua. Kau tau, setiap hari Takato kerjaannya tidur terus selama kalian berdua tidak ada." Aku mengernyitkan mataku saat mendengar Shoko berkata seperti itu.
"Takato tidur terus? Hmm... bisakah kau panggilkan Takato? Aku ingin bicara dengannya."
"Baiklah, tunggu sebentar." Telepon diletakkan dan terdengarlah suara Shoko yang berteriak memanggil Takato. Aku menunggu Takato untuk segera mengambil teleponnya sambil menendang-nendang beberapa pakaian kotor yang lupa aku keluarkan di kamarku.
"Ya?" Terdengarlah suara Takato tiba-tiba.
"Hei, Takato! Apa kabar?" Tidak ada jawaban. Ada apa ya di sana? Aku pun mulai bingung. Namun, ketika aku hendak bertanya kenapa tiba-tiba...
"NANASE SAKIGAWA!! Ke mana saja kau?! Kenapa tidak pernah mengatakan satu patah pun kepadaku?" Takato tiba-tiba saja berteriak dengan begitu keras.
"Hei-hei, sabar Takato. Aku hanya pergi berlibur ke Sapporo untuk menemui saudaraku. Maaf jika aku tidak pernah mengatakan apa-apa padamu." Kataku sambil tersenyum lagi.
"Baiklah. Dimaafkan, tapi lain kali jangan seperti itu lagi. Kau hanya membuat kami semua khawatir, kau tau itu?" Takato mulai menceramahiku.
"Iya, aku tau, Takato. Maafkan aku. Oh ya, Takato... aku harap ketika aku memberitahu tentang ini, kau tidak membeberkannya kepada Shoko maupun Saki, oke? Kau harus berjanji padaku." Aku mulai memiliki sebuah rencana.
"Baiklah. Memangnya apa, Nanase?" Aku mengambil napas panjang dan membuangnya perlahan-lahan lalu tersenyum seperti biasa.
"Aku akan segera kembali ke tempat kos malam ini. Jadi, tolong rapikan kamarku ya, Takato dan jangan katakan hal ini pada Shoko dan Saki. Oke?"
"Baiklah, Nanase! Haha... senangny!" Setelah berbincang-bincang cukup lama dengan Takato, akhirnya kami mengakhiri sambungan telepon.
Aku mulai mempersiapkan barang-barang yang akan aku bawa nanti sambil mendendangkan beberapa lagu kesukaanku. Hari ini aku sangat senang, aku akan kembali ke tempat kos dan kembali bersekolah di Gakurai Academy untuk melanjutkan studi dengan membawa nama Riku. Riku teruslah melihatku, karena aku akan melanjutkan studiku dengan membawa namamu seperti yang kau pesankan waktu itu. Aku berjanji tidak akan mengecewakanmu, Riku! Sebagai sahabatmu...
bersambung...
Tuesday, February 23, 2010
The Story Part 35
Ruroya Rai
Aku beranjak dari tempat tidurku. Mengambil beberapa helai pakaian dan pergi ke kamar mandi. Astaga, bodohnya aku! Hari ini Nanase akan kembali ke Tokyo. Aku harus mengucapkan selamat tinggal. Cepat-cepat aku pergi ke rumah keluarga Tatsuya ketika aku selesai mandi.
Sesampainya di rumah keluarga Tatsuya, ternyata Shiori yang keluar rumah. Aku langsung melambai ke arah Shiori dan Shiori pun mendekat.
"Shiori-chan, apa Nanase masih ada di dalam?" Tanyaku sambil tersenyum. Shiori memiringkan kepalanya, bingung.
"Nanase? Nanase sudah kembali ke Tokyo tadi pagi." Aku terkejut ketika mendengar Shiori berkata seperti itu. Nanase... Nanase sudah pergi tanpa mengatakan apa-apa padaku.
"Sudah kembali? Kenapa tidak ada yang memberitahuku?" Aku merasa begitu kecewa, sangat kecewa. Shiori menatapku dengan kasihan.
"Awalnya, aku juga mau memberitahumu, Rai-chan. Tapi Nanase berkata padaku agar aku tidak perlu meneleponmu. Maafkan aku, Rai-chan." Shiori membungkukkan tubuhnya perlahan di depanku. Aku menyentuh pundak Shiori .
"Tidak apa. Kenapa Nanase seperti itu?" Aku menghela napas panjang.
"Umm... tapi sebelum ia masuk ke dalam gerbong kereta, aku sempat mendengar Nanase mengatakan selamat tinggal padamu."
Aku mengernyitkan mataku. Bagaimana bisa Nanase mengucapkan selamat tinggal kepadaku sementara aku masih berada di atas kasur, berjalan di alam mimpi? Aneh.
"Mungkin saja, Nanase tidak mau menyakitimu dengan kepergiannya." Shiori seperti baru saja membaca pikiranku. Aku tersenyum pada Shiori dan mengangguk pelan.
"Baiklah kalau begitu. Terima kasih atas informasinya. Aku permisi dulu ya!" Shiori mengangguk pelan sambil tersenyum dan aku pun segera berlalu dari rumah keluarga Tatsuya.
Aku berjalan di pedesaan Sapporo sendirian. Memikirkan banyak hal seperti biasa. Kenapa Nanase pergi tanpa mengatakan apa-apa padaku? Aku sendiri juga masih memikirkan siapa pelaku yang menyebabkan kematian Riku? Kenapa semuanya begitu rumit? Menyebalkan. Andai saja ada seseorang yang saat ini menemaniku. Aku menghela napas panjang lalu menengadah ke langit.
Matahari tampak menyinarkan sinar-sinar kuning dan kemerahan di wajahku. Aku menutup mataku agar terhindar dari sinar matahari tersebut. Aku berjalana di pedesaan, sendirian sambil ditemani desiran angin musim panas. Tubuhku pun mulai dipenuhi dengan keringat. Tiba-tiba dipikiranku terbersitlah ide untuk pergi ke pantai di daerah pedesaan ini.
Sesampainya di pantai, aku berdiri di antara pasir dan ombak. Aku merasakan air ombak-ombak itu menggelitik kakiku. Namun, entah mengapa tiba-tiba kepalaku terasa begitu sakit. Aku merintih pelan, sialnya Riku sudah tidak ada. Aku tidak bisa menghilangkan rasa sakit ini. Aku pun terjatuh di atas pasir.
Aku mengingat di waktu kelahiranku, seorang lelaki datang untuk menjaga dan merawat keluargaku. Laki-laki itu kecil tapi memiliki tenaga dan kemampuan yang tinggi. Ia terus membantu keluargaku. Aku mencoba memperjelas gambar laki-laki itu dipikiranku. Tapi tetap saja, aku masih belum ingat siapa laki-laki itu. Saat aku beranjak menjadi seorang anak perempuan yang masih kecil, di pikiranku terlihat aku dengan anak laki-laki itu sangat akrab. Setiap bermain bersama, aku selalu menggandeng tangan laki-laki itu.
"Rai!!!" Pikiran itu tiba-tiba hilang karena aku sudah disadarkan oleh suara Shiori. Bagaimana Shiori bisa ada di sini?
"Shi-Shiori? Bagaimana bisa kau ada di sini?" Aku bertanya pada Shiori ketiak ia membantuku untuk duduk.
"Aku sering ke tempat ini, Rai." Kata Shiori sambil tersenyum. Shiori memang manis, pantas saja Nanase selalu berada di dekatnya.
"Ada apa denganmu, Rai? Tiba-tiba saja kau terjatuh." Shiori bertanya lagi padaku. Aku memegang kepalaku.
"Aku sendiri juga tidak tau. Rasanya aku telah mengingat sesuatu tentang ingatan masa kecilku."
Saat aku menoleh ke arah Shiori, ia terlihat begitu terkejut. Aku mengernyitkan mataku dan tiba-tiba saja Shiori memelukku.
"Rai!! Selamat, kau sudah mengingat semuanya!"
"Hei-hei, Shiori-chan. Aku belum tau semuanya. Di ingatanku tiba-tiba ada seorang laki-laki, tapi aku tidak tau siapa laki-laki itu." Aku menjelaskan semuanya pada Shiori.
"Laki-laki? Apa mungkin yang kau maksud adalah Nanase?"
"Nanase?"
Aku dan Shiori langsung terdiam. Di antara kita yang hanya terdengar adalah suara desiran ombak yang menghantam bebatuan di area pantai tersebut. Aku menengadah ke langit. Lalu tersenyum saat menatap langit.
"Shiori-chan, siapa pun laki-laki yang ada di ingatanku, aku tidak peduli siapa orangnya, aku hanya ingin mencari tau tentang laki-laki itu..." Kataku sambil tersenyum dan menatap Shiori.
Nanase Sakigawa
Aku tiba di rumahku beberapa saat setelah melewati perjalanan yang menggunakan mobil. Nonoru dan Chou membantuku membawa barang bawaanku. Ibu keluar dari rumah lalu memelukku dengan pelan. Tampaknya ibu merindukanku.
"Nanase, selamat datang kembali." Kata ibuku sambil mengecup keningku. Aku tersenyum sambil menatap ibuku.
"Nanase, maafkan ayahmu. Aku tau kau masih merasa kehilangan karena kejadian temanmu itu, tapi ayah memaksamu untuk pulang, ibu mohon, maafkanlah ayahmu." Aku tersenyum dan mengangguk walaupun sebenarnya aku masih sedikit kesal dengan ayahku sendiri.
"Ayo, kita masuk ke dalam. Apa kalian tidak kepanasan?"
Aku melangkah masuk ke dalam rumah setelah itu langsung perge ke dalam kamarku. Saat aku sedang merapikian pakaianku, pintu kamarku diketuk seseorang. Aku membuka pintu kamarku dan mendapati Nonoru sedang berdiri di depannya.
"Ada apa, Nonoru?" Tanyaku bingung.
"Tidak apa, umm... bolehkah aku masuk ke dalam?" Dan aku mengangguk. Nonoru pun duduk di atas tempat tidurku sambil sesekali menarik napas dalam-dalam menghirup udara segar di kamarku.
"Nanase, apa rencanamu saat ini di Tokyo? Kau kan' tidak boleh pergi ke Gakurai lagi." Tiba-tiba Nonoru bertanya seperti itu padaku. Aku menoleh sambil menatap Nonoru.
"Haha... aku memang ingin kembali ke Gakurai dan pergi dari rumah ini. Tapi mungkin aku akan melarikan diri beberapa hari lagi." Nonoru memukulku pelan.
"Dasar adikku yang aneh. Oh ya, aku dengar ayah akan pergi keluar kota untuk beberapa bulan. Aku yakin kau bisa kembali tinggal di kos itu dan bersekolah di Gakurai." Aku senang Nonoru dapat menyemangatiku.
"Ya, aku akan pergi saat ayah juga pergi kalau begitu. Aku tidak akan membiarkan ayah menghalangi masa depanku lagi!" Aku berdiri sambil mengangkat tanganku. Nonoru pun menggeleng-gelengkan kepalanya.
Malam harinya, aku mendapat surat lagi. Aku menganggap bahwa surat tersebut berasal dari Riku. Apa mungkin benar-benar dari Riku? Coba aku lihat. Aah! Iya, benar. Surat ini dari Riku. Aku menghela napas. Riku, kenapa kau tidak muncul di hadapanku saja? Lebih mudah kan' bicaranya? Dengan seksama aku membaca surat yang diberikan oleh Riku.
Untuk Nanase, sahabatku...
Hei, apa kabar? Maaf akhir-akhir ini aku jarang menemuimu. Aku masih sibuk mengurusi Rai. Entah mengapa Rai sering mengalami depresi. Dan baru saja aku melihat kejadian di mana Rai mulai membuka ingatannya. Entah bagaimana caranya. Mungkin kau bisa membantunya Nanase. Bagaimana? Hmm... apa yang mau aku bicarakan lagi ya? Oh ya, ngomong-ngomong, kau sudah tau pelakunya kan' yang menabrak ku? Bagaimana ya? Hmm... coba kau tulis kata-katamu di bawah suratku ini. Aku tunggu balasanmu ya, Nanase. Sampai jumpa.
Aku beranjak dari tempat tidurku. Mengambil beberapa helai pakaian dan pergi ke kamar mandi. Astaga, bodohnya aku! Hari ini Nanase akan kembali ke Tokyo. Aku harus mengucapkan selamat tinggal. Cepat-cepat aku pergi ke rumah keluarga Tatsuya ketika aku selesai mandi.
Sesampainya di rumah keluarga Tatsuya, ternyata Shiori yang keluar rumah. Aku langsung melambai ke arah Shiori dan Shiori pun mendekat.
"Shiori-chan, apa Nanase masih ada di dalam?" Tanyaku sambil tersenyum. Shiori memiringkan kepalanya, bingung.
"Nanase? Nanase sudah kembali ke Tokyo tadi pagi." Aku terkejut ketika mendengar Shiori berkata seperti itu. Nanase... Nanase sudah pergi tanpa mengatakan apa-apa padaku.
"Sudah kembali? Kenapa tidak ada yang memberitahuku?" Aku merasa begitu kecewa, sangat kecewa. Shiori menatapku dengan kasihan.
"Awalnya, aku juga mau memberitahumu, Rai-chan. Tapi Nanase berkata padaku agar aku tidak perlu meneleponmu. Maafkan aku, Rai-chan." Shiori membungkukkan tubuhnya perlahan di depanku. Aku menyentuh pundak Shiori .
"Tidak apa. Kenapa Nanase seperti itu?" Aku menghela napas panjang.
"Umm... tapi sebelum ia masuk ke dalam gerbong kereta, aku sempat mendengar Nanase mengatakan selamat tinggal padamu."
Aku mengernyitkan mataku. Bagaimana bisa Nanase mengucapkan selamat tinggal kepadaku sementara aku masih berada di atas kasur, berjalan di alam mimpi? Aneh.
"Mungkin saja, Nanase tidak mau menyakitimu dengan kepergiannya." Shiori seperti baru saja membaca pikiranku. Aku tersenyum pada Shiori dan mengangguk pelan.
"Baiklah kalau begitu. Terima kasih atas informasinya. Aku permisi dulu ya!" Shiori mengangguk pelan sambil tersenyum dan aku pun segera berlalu dari rumah keluarga Tatsuya.
Aku berjalan di pedesaan Sapporo sendirian. Memikirkan banyak hal seperti biasa. Kenapa Nanase pergi tanpa mengatakan apa-apa padaku? Aku sendiri juga masih memikirkan siapa pelaku yang menyebabkan kematian Riku? Kenapa semuanya begitu rumit? Menyebalkan. Andai saja ada seseorang yang saat ini menemaniku. Aku menghela napas panjang lalu menengadah ke langit.
Matahari tampak menyinarkan sinar-sinar kuning dan kemerahan di wajahku. Aku menutup mataku agar terhindar dari sinar matahari tersebut. Aku berjalana di pedesaan, sendirian sambil ditemani desiran angin musim panas. Tubuhku pun mulai dipenuhi dengan keringat. Tiba-tiba dipikiranku terbersitlah ide untuk pergi ke pantai di daerah pedesaan ini.
Sesampainya di pantai, aku berdiri di antara pasir dan ombak. Aku merasakan air ombak-ombak itu menggelitik kakiku. Namun, entah mengapa tiba-tiba kepalaku terasa begitu sakit. Aku merintih pelan, sialnya Riku sudah tidak ada. Aku tidak bisa menghilangkan rasa sakit ini. Aku pun terjatuh di atas pasir.
Aku mengingat di waktu kelahiranku, seorang lelaki datang untuk menjaga dan merawat keluargaku. Laki-laki itu kecil tapi memiliki tenaga dan kemampuan yang tinggi. Ia terus membantu keluargaku. Aku mencoba memperjelas gambar laki-laki itu dipikiranku. Tapi tetap saja, aku masih belum ingat siapa laki-laki itu. Saat aku beranjak menjadi seorang anak perempuan yang masih kecil, di pikiranku terlihat aku dengan anak laki-laki itu sangat akrab. Setiap bermain bersama, aku selalu menggandeng tangan laki-laki itu.
"Rai!!!" Pikiran itu tiba-tiba hilang karena aku sudah disadarkan oleh suara Shiori. Bagaimana Shiori bisa ada di sini?
"Shi-Shiori? Bagaimana bisa kau ada di sini?" Aku bertanya pada Shiori ketiak ia membantuku untuk duduk.
"Aku sering ke tempat ini, Rai." Kata Shiori sambil tersenyum. Shiori memang manis, pantas saja Nanase selalu berada di dekatnya.
"Ada apa denganmu, Rai? Tiba-tiba saja kau terjatuh." Shiori bertanya lagi padaku. Aku memegang kepalaku.
"Aku sendiri juga tidak tau. Rasanya aku telah mengingat sesuatu tentang ingatan masa kecilku."
Saat aku menoleh ke arah Shiori, ia terlihat begitu terkejut. Aku mengernyitkan mataku dan tiba-tiba saja Shiori memelukku.
"Rai!! Selamat, kau sudah mengingat semuanya!"
"Hei-hei, Shiori-chan. Aku belum tau semuanya. Di ingatanku tiba-tiba ada seorang laki-laki, tapi aku tidak tau siapa laki-laki itu." Aku menjelaskan semuanya pada Shiori.
"Laki-laki? Apa mungkin yang kau maksud adalah Nanase?"
"Nanase?"
Aku dan Shiori langsung terdiam. Di antara kita yang hanya terdengar adalah suara desiran ombak yang menghantam bebatuan di area pantai tersebut. Aku menengadah ke langit. Lalu tersenyum saat menatap langit.
"Shiori-chan, siapa pun laki-laki yang ada di ingatanku, aku tidak peduli siapa orangnya, aku hanya ingin mencari tau tentang laki-laki itu..." Kataku sambil tersenyum dan menatap Shiori.
Nanase Sakigawa
Aku tiba di rumahku beberapa saat setelah melewati perjalanan yang menggunakan mobil. Nonoru dan Chou membantuku membawa barang bawaanku. Ibu keluar dari rumah lalu memelukku dengan pelan. Tampaknya ibu merindukanku.
"Nanase, selamat datang kembali." Kata ibuku sambil mengecup keningku. Aku tersenyum sambil menatap ibuku.
"Nanase, maafkan ayahmu. Aku tau kau masih merasa kehilangan karena kejadian temanmu itu, tapi ayah memaksamu untuk pulang, ibu mohon, maafkanlah ayahmu." Aku tersenyum dan mengangguk walaupun sebenarnya aku masih sedikit kesal dengan ayahku sendiri.
"Ayo, kita masuk ke dalam. Apa kalian tidak kepanasan?"
Aku melangkah masuk ke dalam rumah setelah itu langsung perge ke dalam kamarku. Saat aku sedang merapikian pakaianku, pintu kamarku diketuk seseorang. Aku membuka pintu kamarku dan mendapati Nonoru sedang berdiri di depannya.
"Ada apa, Nonoru?" Tanyaku bingung.
"Tidak apa, umm... bolehkah aku masuk ke dalam?" Dan aku mengangguk. Nonoru pun duduk di atas tempat tidurku sambil sesekali menarik napas dalam-dalam menghirup udara segar di kamarku.
"Nanase, apa rencanamu saat ini di Tokyo? Kau kan' tidak boleh pergi ke Gakurai lagi." Tiba-tiba Nonoru bertanya seperti itu padaku. Aku menoleh sambil menatap Nonoru.
"Haha... aku memang ingin kembali ke Gakurai dan pergi dari rumah ini. Tapi mungkin aku akan melarikan diri beberapa hari lagi." Nonoru memukulku pelan.
"Dasar adikku yang aneh. Oh ya, aku dengar ayah akan pergi keluar kota untuk beberapa bulan. Aku yakin kau bisa kembali tinggal di kos itu dan bersekolah di Gakurai." Aku senang Nonoru dapat menyemangatiku.
"Ya, aku akan pergi saat ayah juga pergi kalau begitu. Aku tidak akan membiarkan ayah menghalangi masa depanku lagi!" Aku berdiri sambil mengangkat tanganku. Nonoru pun menggeleng-gelengkan kepalanya.
Malam harinya, aku mendapat surat lagi. Aku menganggap bahwa surat tersebut berasal dari Riku. Apa mungkin benar-benar dari Riku? Coba aku lihat. Aah! Iya, benar. Surat ini dari Riku. Aku menghela napas. Riku, kenapa kau tidak muncul di hadapanku saja? Lebih mudah kan' bicaranya? Dengan seksama aku membaca surat yang diberikan oleh Riku.
Untuk Nanase, sahabatku...
Hei, apa kabar? Maaf akhir-akhir ini aku jarang menemuimu. Aku masih sibuk mengurusi Rai. Entah mengapa Rai sering mengalami depresi. Dan baru saja aku melihat kejadian di mana Rai mulai membuka ingatannya. Entah bagaimana caranya. Mungkin kau bisa membantunya Nanase. Bagaimana? Hmm... apa yang mau aku bicarakan lagi ya? Oh ya, ngomong-ngomong, kau sudah tau pelakunya kan' yang menabrak ku? Bagaimana ya? Hmm... coba kau tulis kata-katamu di bawah suratku ini. Aku tunggu balasanmu ya, Nanase. Sampai jumpa.
Rikugan Sakurai
Aku membaca surat Riku sambil tersenyum. Tiba-tiba saja aku membelalakan mataku ketika aku membaca tulisan yang mengenai Rai sudah dapat membuka ingatannya. Apa mungkin Rai sudah ingat semuanya? Aku melamun sebentar, lalu aku meraih pensil yang ada di atas meja belajarku. Setelah itu aku mulai menulis balasan untuk Riku di bawah surat Riku.
Untuk Riku, sahabatku...
Hei, Riku. Apa kau yakin surat balasanku ini akan segera sampai padamu? Aku baik-baik saja di sini. Tapi aku sangat amat merindukan kehadiranmu, teman! Kenapa kau pergi begitu cepat. Meskipun sekarang sudah berminggu-minggu terlewati sejak kejadian itu, aku masih sering sedih ketika mengingat semuanya. Umm... Riku, kalau memang menurutmu Rai sudah membuka ingatannya, apa aku harus bertanya padanya? Pelakunya ya? Hmm... sepertinya kau mengenal gadis ini Riku. Namanya Hanase Rukia. Aku sendiri sangat terkejut ketika mendengar nama itu yang disebut oleh kakak laki-laki ku. Riku, sekian dulu suratnya. Aku harap balasanku sampai padamu. Sampai jumpa.
Nanase sakigawa
Setelah menulis surat. Aku membaca surat tersebut sekali lagi. Tiba-tiba saja aku dikejutkan dengan suara ketukan pintu. Aku meletakkan surat tersebut di atas meja dan berjalan ke arah pintu. Aku membukanya dan mendapati ibuku berdiri di sana. Aku mempersilahkan ibuku masuk. Ibu langsung duduk di atas tempat tidurku, sementara aku berjalan ke arah meja belajarku. Aku bingung ketika surat itu tiba-tiba saja menghilang. Aku mencoba mencarinya ke mana-mana, tetap saja tidak ditemukan. Aku mengusap-usap wajahku. Mungkin saja, Riku sudah mengambil surat balasanku. Aku tersenyum.
"Ada apa, Nanase? Kenapa kau tersenyum-senyum sendiri seperti itu?" Tanya ibuku. Aku menggeleng pelan lalu menghampiri ibuku.
"Tidak apa-apa. Aku tadi sempat mendapat surat dari sahabatku yang sudah berada di alam sana." Kataku sambil tersenyum. Ibu langsung terkejut lalu mengelus-elus dadanya karena terkejut.
"Surat? Bagaimana bisa?" Aku pun hanya tersenyum simpul lalu mengibas-ngibaskan tanganku.
"Sudahlah, bu. Lupakan saja. Ayo, ada apa ibu datang ke sini malam-malam? Ayah tidak mencari ibu?" Tanyaku sambil menatap ibuku. Ibuku menghela napas, lalu menggenggam tanganku.
"Ibu sudah tau semua cerita dari Nonoru. Katanya, kau mau kembali ke Gakurai dan tinggal di kos itu lagi ya saat ayahmu pergi?" Aku mengangguk untuk menjawab pertanyaan ibu. Ibuku tersenyum lalu memelukku.
"Baiklah, aku harap kau bisa mencapai cita-citamu di Gakurai. Ibu akan selalu mendukung. Tapi, kau harus selalu memberi kabar kepadaku ya." Aku terkejut saat mendengar kata-kata ibu, lalu aku menoleh dan melukiskan senyuman terlebarku yang pernah ada.
"Benarkah?"
bersambung...
Sunday, February 21, 2010
The Story Part 34
Ruroya Rai
Ke mana perginya Nanase itu? Sudah hampir lewat dari janji yang tadi dibicarakan. Apa jangan-jangan Nanase lupa? Aku menuggu kedatangannya di taman ini sendirian dan sampai saat ini, Nanase belum datang juga. Apa yang sedang dilakukan laki-laki itu?
"Dasar bodoh..." Gumamku pelan sambil menengadah ke langit. Tanpa berpikir panjang lagi, aku beranjak dari bangku taman hendak meninggalkan taman tersebut. Untuk apa aku berlama-lama di tempat ini jika nantinya Nanase tidak datang juga? Lebih baik aku pulang. Aku menghela napas dan melangkah untuk meninggalkan taman tersebut.
"Raiiii!! Tunggu!!" Tiba-tiba aku mendengar seseorang memanggil namaku. Saat aku menoleh, aku melihat Nanase berlari-lari ke arahku. Ketika Nanase sudah berdiri di hadapanku, ia membungkukkan tubuhnya dan mengatur napas dengan perlahan. Aku membungku juga untu berbicara dengannya.
"Kau telat, Nanase." Nanase mendongakkan kepalanya sambil memasang wajah bersalah.
"Rai, maafkan aku..." Meskipun Nanase meminta maaf, tetap saja aku masih kesal.
"Apa yang sedang kau lakukan, Nanase? Aku di sini, menunggumu begitu lama, tapi kau tidak muncul-muncul juga. Seharusnya seorang gadis tidak boleh ditinggal sendirian di tempat terbuka pada malam hari!" Aku mulai menceramahi Nanase. Tapi anehnya, Nanase tersenyum ke arahku. Aku pun semakin jengkel.
"Apa ada yang lucu, Nanase?" Aku mulai membentak Nanase tapi tetap saja, Nanase terus tersenyum.
"Aku senang kau mengkhawatirkanku." Aku membelalakan mataku karena terkejut. Apa aku salah dengar? Memangnya aku mengkhawatirkan Nanase? Dasar aneh.
"Si-siapa yang mengkhawatirkanmu?" Entah mengapa tiba-tiba wajahku terasa panas. Nanase merubah senyumannya menjadi suara tawa yang semakin membuatku jengkel.
Tanpa basa-basi, aku memukul Nanase dengan keras. Akhirnya Nanase merintih kesakitan.
"Hei, pelan-pelan saja. Kenapa kau seperti itu?" Tanya Nanase, aku membuang muka sambil menyilangkan tanganku di depan dada.
"Maafkan aku, Rai. Sudahlah, lupakan saja. Aku ingin mengatakan sesuatu padamu." Aku setuju dengan kata-kata Nanase dan aku mengajak Nanase untuk duduk di bangku taman.
Aku duduk dengan diam sambil menunggu Nanase untuk berbicara. Lalu aku mendengar Nanase berdeham.
"Rai, besok aku harus kembali ke Tokyo." Aku terkejut dan menoleh ke arah Nanase saat ia mengatakan hal tersebut. Cepat-cepat aku menggelengkan kepala.
"Tidak-tidak, kau pasti berbohong kan'?" Aku menunggu jawaban dari Nanase dengan perasaan yang bergejolak.
"Aku tidak berbohong, Rai. Ayahku menyuruhku untuk segera kembali ke Tokyo. Aku sendiri juga sedang ada urusan yang perlu aku selesaikan. Maafkan aku, Rai. Aku tidak jadi tinggal di Sapporo sampai musm panas berakhir."
"Tidak! Jangan pergi, Nanase. Sudah cukup aku ditinggalkan seperti ini terus. Awalnya Riku, sekarang kau. Aku tidak mau, Nanase!" Aku menarik baju Nanase sambil terus menggelengkan kepala. Aku tidak mau Nanase meninggalkanku.
Nanase menatapku. Matanya yang hitam pekat pun seperti bersinar karena pantulan cahaya dari bulan. Begitu indah. Tiba-tiba Nanase memelukku.
"Rai, apa kau sudah ingat semuanya?" Tanya Nanase yang mulai membuatku penasaran.
"Ingat apa, Nanase?"
"Dulu, waktu kita masih kecil, kau sempat merengek-rengek seperti ini dihari aku pindah rumah ke Tokyo. Apa kau sudah mengingatnya?" Aku menggeleng pelan dan entah mengapa Nanase tidak memasang wajah kecewa seperti biasanya. Tapi ia hanya tersenyum.
"Aku mengerti..."
Nanase Sakigawa
Di bawah rembulan yang masih memancarkan cahayanya, aku memeluk Rai dengan pelan dan lembut. Terasa kehangatan tersendiri dari dalam tubuhku. Aku merasa, hatiku seakan-akan menjadi tenang dan damai. Mungkin kebersamaanku dengan Rai akan berakhir di sini, karena besok aku harus segera kembali ke Tokyo.
"Nanase..." Rai memanggilku.
"Ya?"
"Apa besok kau akan tetap kembali ke Tokyo?" Tanya Rai sambil menatapku. Aku membelai rambutnya dengan perlahan.
"Maafkan aku, Rai. Aku harus segera kembali ke Tokyo besok."
Memang rasanya begitu menyakitkan harus meninggalkan Rai. Tapi apa boleh buat, ayah yang menyuruhku dan aku harus menurutinya jika aku tidak mau didamprat lagi.
Aku melepaskan pelukanku dan menatap ke arah Rai.
"Aku pulang dulu ya. Maafkan aku, Rai. Konbanwa!" Dengan perasaan terpaksa, aku meninggalkan Rai sendirian di taman. Selama perjalanan, aku tidak henti-hentinya menjambak rambutku. Kenapa aku begitu bodoh?
Awalnya aku ingin menyatakan perasaanku kepada Rai, tapi yang terlintas di pikiranku hanyalah Rai sudah menjadi milik Riku dan kini Riku adalah sahabatku. Bagaimana mungkin aku bisa merebut Rai dari Riku begitu saja? Itu tidak mungkin.
Sesampainya di rumah keluarga Tatsuya, ternyata Shiori sudah tidur. Dengan cepat aku pergi ke kamarku dan membereskan semua barang-barangku yang akan aku bawa ke Tokyo. Keesokan harinya, aku diantar oleh keluarga Tatsuya ke stasiun shinkansen Sapporo. Aku mengucapkan banyak terima kasih kepada keluarga Tatsuya, karena mereka mau menerimaku di rumah mereka serta menjagaku dengan baik.
"Hati-hati ya, Nanase!" Aku mengangguk dan segera berlalu. Sebelum memasuki gerbong kereta, aku menatap keluar.
"Aku pergi dulu, Rai." Gumamku pelan lalu masuk ke dalam gerbong.
Tokyo, akhirnya aku sampai di tempat ini lagi. Aku melihat ke sekeliling untuk mencari sosok Nonoru, kakak laki-lakiku. Ketika aku melangkahkan kakiku menuju pintu keluar, tiba-tiba ada seseorang yang menutup mataku dari belakang.
"Ayo tebak, ini siapa?" Suara itu, aku pernah mendengar suara itu, suara seorang gadis. Tidak salah lagi, suara itu adalah suara Rukia. Sedang apa gadis itu di sini?
"Rukia?" Aku menoleh dan benar... Rukia berdiri di hadapanku dengan senyumannya yang ceria seperti biasa.
Anehnya, aku tau Rukia yang menyebabkan kematian Riku. Tapi, kenapa raut wajah Rukia seperti mengatakan tidak terjadi apa-apa? Aku pun terus-menerus memutar otak.
"Nanase, habis liburan di mana?" Tanya Rukia dengan wajah polosnya.
"Aku habis dari Sapporo. Tapi entah mengapa, rasanya lidahku tidak mau bergerak untuk mengeluarkan kata-kata mengenai permasalahan tersebut.
Untungnya Nonoru datang disaat yang aku inginkan. Aku sedang tidak ingin berbicara dengan Rukia saat ini. Saat Nonoru hendak membantuku, ia terkejut ketika melihat Rukia.
"Hei, itu kan' pelakunya!" Bisik Nonoru.
"Nonoru, diam saja kau. Aku tidak mau mencari keributan di tempat ini! Ayo pulang!" Aku berbisik ke Nonoru. Setelah itu aku menoleh ke arah Rukia.
"Rukia, aku pulang dulu ya!" Dan Rukia mengangguk sambil tersenyum seperti biasa.
Di dalam mobil-Chou yang menjadi supirnya-aku dan Nonoru kembali membicarakan tentang masalah itu. Aku tidak percaya, setelah bertahun-tahun lamanya, aku dan Nonoru bisa menjadi seakrab ini.
"Nonoru, memangnya kau menemukan berita itu dari siapa?" Aku memulai pembicaraan.
"Aku dapat berita itu dari temanku yang kebetulan melihat mobil itu dan pemiliknya." Kata Nonoru.
"Awalnya, temanku ini seperti mengenal gadis itu. Jadi, temanku ini terus mengikuti gadis itu sampai kecelakaan itu terjadi." Jelas Nonoru. Aku hanya terus mengangguk-anggukan kepala. Sebenarnya aku tak habis pikir, kenapa Rukia bisa seperti itu? Aku harus mencari tau semua ini.
bersambung...
Ke mana perginya Nanase itu? Sudah hampir lewat dari janji yang tadi dibicarakan. Apa jangan-jangan Nanase lupa? Aku menuggu kedatangannya di taman ini sendirian dan sampai saat ini, Nanase belum datang juga. Apa yang sedang dilakukan laki-laki itu?
"Dasar bodoh..." Gumamku pelan sambil menengadah ke langit. Tanpa berpikir panjang lagi, aku beranjak dari bangku taman hendak meninggalkan taman tersebut. Untuk apa aku berlama-lama di tempat ini jika nantinya Nanase tidak datang juga? Lebih baik aku pulang. Aku menghela napas dan melangkah untuk meninggalkan taman tersebut.
"Raiiii!! Tunggu!!" Tiba-tiba aku mendengar seseorang memanggil namaku. Saat aku menoleh, aku melihat Nanase berlari-lari ke arahku. Ketika Nanase sudah berdiri di hadapanku, ia membungkukkan tubuhnya dan mengatur napas dengan perlahan. Aku membungku juga untu berbicara dengannya.
"Kau telat, Nanase." Nanase mendongakkan kepalanya sambil memasang wajah bersalah.
"Rai, maafkan aku..." Meskipun Nanase meminta maaf, tetap saja aku masih kesal.
"Apa yang sedang kau lakukan, Nanase? Aku di sini, menunggumu begitu lama, tapi kau tidak muncul-muncul juga. Seharusnya seorang gadis tidak boleh ditinggal sendirian di tempat terbuka pada malam hari!" Aku mulai menceramahi Nanase. Tapi anehnya, Nanase tersenyum ke arahku. Aku pun semakin jengkel.
"Apa ada yang lucu, Nanase?" Aku mulai membentak Nanase tapi tetap saja, Nanase terus tersenyum.
"Aku senang kau mengkhawatirkanku." Aku membelalakan mataku karena terkejut. Apa aku salah dengar? Memangnya aku mengkhawatirkan Nanase? Dasar aneh.
"Si-siapa yang mengkhawatirkanmu?" Entah mengapa tiba-tiba wajahku terasa panas. Nanase merubah senyumannya menjadi suara tawa yang semakin membuatku jengkel.
Tanpa basa-basi, aku memukul Nanase dengan keras. Akhirnya Nanase merintih kesakitan.
"Hei, pelan-pelan saja. Kenapa kau seperti itu?" Tanya Nanase, aku membuang muka sambil menyilangkan tanganku di depan dada.
"Maafkan aku, Rai. Sudahlah, lupakan saja. Aku ingin mengatakan sesuatu padamu." Aku setuju dengan kata-kata Nanase dan aku mengajak Nanase untuk duduk di bangku taman.
Aku duduk dengan diam sambil menunggu Nanase untuk berbicara. Lalu aku mendengar Nanase berdeham.
"Rai, besok aku harus kembali ke Tokyo." Aku terkejut dan menoleh ke arah Nanase saat ia mengatakan hal tersebut. Cepat-cepat aku menggelengkan kepala.
"Tidak-tidak, kau pasti berbohong kan'?" Aku menunggu jawaban dari Nanase dengan perasaan yang bergejolak.
"Aku tidak berbohong, Rai. Ayahku menyuruhku untuk segera kembali ke Tokyo. Aku sendiri juga sedang ada urusan yang perlu aku selesaikan. Maafkan aku, Rai. Aku tidak jadi tinggal di Sapporo sampai musm panas berakhir."
"Tidak! Jangan pergi, Nanase. Sudah cukup aku ditinggalkan seperti ini terus. Awalnya Riku, sekarang kau. Aku tidak mau, Nanase!" Aku menarik baju Nanase sambil terus menggelengkan kepala. Aku tidak mau Nanase meninggalkanku.
Nanase menatapku. Matanya yang hitam pekat pun seperti bersinar karena pantulan cahaya dari bulan. Begitu indah. Tiba-tiba Nanase memelukku.
"Rai, apa kau sudah ingat semuanya?" Tanya Nanase yang mulai membuatku penasaran.
"Ingat apa, Nanase?"
"Dulu, waktu kita masih kecil, kau sempat merengek-rengek seperti ini dihari aku pindah rumah ke Tokyo. Apa kau sudah mengingatnya?" Aku menggeleng pelan dan entah mengapa Nanase tidak memasang wajah kecewa seperti biasanya. Tapi ia hanya tersenyum.
"Aku mengerti..."
Nanase Sakigawa
Di bawah rembulan yang masih memancarkan cahayanya, aku memeluk Rai dengan pelan dan lembut. Terasa kehangatan tersendiri dari dalam tubuhku. Aku merasa, hatiku seakan-akan menjadi tenang dan damai. Mungkin kebersamaanku dengan Rai akan berakhir di sini, karena besok aku harus segera kembali ke Tokyo.
"Nanase..." Rai memanggilku.
"Ya?"
"Apa besok kau akan tetap kembali ke Tokyo?" Tanya Rai sambil menatapku. Aku membelai rambutnya dengan perlahan.
"Maafkan aku, Rai. Aku harus segera kembali ke Tokyo besok."
Memang rasanya begitu menyakitkan harus meninggalkan Rai. Tapi apa boleh buat, ayah yang menyuruhku dan aku harus menurutinya jika aku tidak mau didamprat lagi.
Aku melepaskan pelukanku dan menatap ke arah Rai.
"Aku pulang dulu ya. Maafkan aku, Rai. Konbanwa!" Dengan perasaan terpaksa, aku meninggalkan Rai sendirian di taman. Selama perjalanan, aku tidak henti-hentinya menjambak rambutku. Kenapa aku begitu bodoh?
Awalnya aku ingin menyatakan perasaanku kepada Rai, tapi yang terlintas di pikiranku hanyalah Rai sudah menjadi milik Riku dan kini Riku adalah sahabatku. Bagaimana mungkin aku bisa merebut Rai dari Riku begitu saja? Itu tidak mungkin.
Sesampainya di rumah keluarga Tatsuya, ternyata Shiori sudah tidur. Dengan cepat aku pergi ke kamarku dan membereskan semua barang-barangku yang akan aku bawa ke Tokyo. Keesokan harinya, aku diantar oleh keluarga Tatsuya ke stasiun shinkansen Sapporo. Aku mengucapkan banyak terima kasih kepada keluarga Tatsuya, karena mereka mau menerimaku di rumah mereka serta menjagaku dengan baik.
"Hati-hati ya, Nanase!" Aku mengangguk dan segera berlalu. Sebelum memasuki gerbong kereta, aku menatap keluar.
"Aku pergi dulu, Rai." Gumamku pelan lalu masuk ke dalam gerbong.
Tokyo, akhirnya aku sampai di tempat ini lagi. Aku melihat ke sekeliling untuk mencari sosok Nonoru, kakak laki-lakiku. Ketika aku melangkahkan kakiku menuju pintu keluar, tiba-tiba ada seseorang yang menutup mataku dari belakang.
"Ayo tebak, ini siapa?" Suara itu, aku pernah mendengar suara itu, suara seorang gadis. Tidak salah lagi, suara itu adalah suara Rukia. Sedang apa gadis itu di sini?
"Rukia?" Aku menoleh dan benar... Rukia berdiri di hadapanku dengan senyumannya yang ceria seperti biasa.
Anehnya, aku tau Rukia yang menyebabkan kematian Riku. Tapi, kenapa raut wajah Rukia seperti mengatakan tidak terjadi apa-apa? Aku pun terus-menerus memutar otak.
"Nanase, habis liburan di mana?" Tanya Rukia dengan wajah polosnya.
"Aku habis dari Sapporo. Tapi entah mengapa, rasanya lidahku tidak mau bergerak untuk mengeluarkan kata-kata mengenai permasalahan tersebut.
Untungnya Nonoru datang disaat yang aku inginkan. Aku sedang tidak ingin berbicara dengan Rukia saat ini. Saat Nonoru hendak membantuku, ia terkejut ketika melihat Rukia.
"Hei, itu kan' pelakunya!" Bisik Nonoru.
"Nonoru, diam saja kau. Aku tidak mau mencari keributan di tempat ini! Ayo pulang!" Aku berbisik ke Nonoru. Setelah itu aku menoleh ke arah Rukia.
"Rukia, aku pulang dulu ya!" Dan Rukia mengangguk sambil tersenyum seperti biasa.
Di dalam mobil-Chou yang menjadi supirnya-aku dan Nonoru kembali membicarakan tentang masalah itu. Aku tidak percaya, setelah bertahun-tahun lamanya, aku dan Nonoru bisa menjadi seakrab ini.
"Nonoru, memangnya kau menemukan berita itu dari siapa?" Aku memulai pembicaraan.
"Aku dapat berita itu dari temanku yang kebetulan melihat mobil itu dan pemiliknya." Kata Nonoru.
"Awalnya, temanku ini seperti mengenal gadis itu. Jadi, temanku ini terus mengikuti gadis itu sampai kecelakaan itu terjadi." Jelas Nonoru. Aku hanya terus mengangguk-anggukan kepala. Sebenarnya aku tak habis pikir, kenapa Rukia bisa seperti itu? Aku harus mencari tau semua ini.
bersambung...
Saturday, February 20, 2010
The Story Part 33
Ruroya Rai
Sepulang dari festival tersebut, aku mengucapkan terima kasih kepada Nanase karena hari ini Nanase mau menemaniku. Saat ini aku sedang berada di dalam kamar memperhatikan boneka yang baru saja Nanase berikan untukku. Aku tersenyum sambil menyentuh boneka tersebut. Apa kau melihatnya, Riku? Nanase memberiku boneka ini. Kembang api di luar belum selesai juga. Aku menatap ke arah jendela.
"Kembang apinya indah ya?" Tiba-tiba Riku sudah berada di sampingku. Entah sejak kapan jika aku memikirkan Riku, pasti ia akan cepat datang. Aku mengangguk untuk menjawab Riku.
"Rai..." Riku memanggilku dan aku menoleh.
"Ada apa, Riku?"
"Tutup matamu." Meskipun aku bingung, aku tetap menutup mataku.
Aku merasakan Riku menyentuh wajahku dan dengan merasakan sentuhannya aku dapat melihat ada beberapa sinar yang menembus mataku, aku tau itu adalah sinar kembang api. Setelah itu aku merasakan bibirku dengan bibir Riku bersentuhan. Aku terkejut dan segera membuka mata, lalu menghindar seperti biasa. Tapi tidak seperti yang dulu cara menghindarnya. Riku pun tersenyum.
"Aku hanya melakukan hal tersebut dengan orang yang sangat aku cintai." Setelah itu Riku menghilang dari hadapanku. Aku menyentuh bibirku dan menatap ke arah luar jendela. Kembang apinya sudah berakhir dan aku langsung berganti pakaian. Aku beranjak dari dalam kamar menuju teras rumah.
Di musim panas ini, pada malam harinya udara terasa begitu sejuk. Aku merasakan desiran angin yang mulai menembus dan menusuk tulang-tulangku. Walaupun rasanya tidak dingin, entah mengapa tubuhku menggigil. Bintang-bintang pun juga sudah bertaburan di langit malam yang indah.
"Nee-chan!!!" Lagi-lagi keheninganku dipecahkan oleh suara Michiru. Dengan perasaan jengkel aku menoleh ke arah pintu dan mendapati Michiru sedang menggenggam ponselku yang bergetar.
"Ada telepon untukmu." Aku menerima ponselku dan menjawab panggilan tersebut, setelah itu Michiru pergi.
"Moshimoshi." Sapaku.
"Rai, aku tidak mengganggumu kan'?" Ternyata dari Nanase.
"Tidak. Aku sedang bersantai saat ini."
"Umm... kalau begitu, aku mau bertemu denganmu. Kutunggu kau di taman pada tengah malam nanti."
"Memangnya ada apa, Nanase?" Tanyaku yang mulai penasaran.
"Ada yang ingin aku bicarakan. Aku tunggu nanti ya!"
"Baiklah."
Sesudah itu aku beranjak dari teras rumah dan kembali ke dalam. Kira-kira apa yang akan dibicarakan Nanase nanti ya? Kenapa Nanase begitu misterius? Aku begitu penasaran, aku ingin tau segalanya tentang Nanase. Sebenarnya apa yang membuatnya terlihat begitu misterius?
Nanase Sakigawa
Setelah mengantar Rai pulang, aku berjalan ke rumah keluarga Tatsuya dengan pikiran yang penuh. Bagaimana mungkin Rukia ada pelakunya? Aku tidak percaya. Aku kenal Rukia, ia adalah gadis yang selalu bertanggung jawab. Tapi jika kali ini Rukia tidak bertanggung jawab, hal tersebut benar-benar tidak dipercaya. Aku menghela napas panjang. Memikirkam semua ini, perasaanku pun bercampur aduk.
Aku melangkah masuk ke dalam rumah keluarga Tatsuya ketika aku melihat ayahku sedang duduk di ruang tamu. Ayah melihatku dan... aku sudah tau apa yang akan terjadi. Ayah menghampiriku dan dengan senyumannya yang licik... PLAK! Ia menamparku dengan keras, sampai-sampai aku mau terjatuh. Michi, kakak ibuku terkejut melihat aku diperlakukan seperti itu.
"Hiruko! Hentikan! Apa-apaan ini?!" Michi menarik lengan ayahku.
"Diam kau, Michi! Apa urusanmu? Anak ini sudah bersikap kurang ajar dan tidak sopan pada orang tuanya sendiri. Apa kau tidak tau itu, Michi?!" Bentak ayahku dan membuat Michi menjaga jarak dengan ayah. Aku hanya diam dan masih memegangi pipiku yang terasa sakit.
"Sebagai ayah pun, ternyata kau juga harus menjaga omonganmu, Hiruko!" Bentak Michi. Sepertinya Michi membelaku.
"Michi-san, maaf. Biar aku saja yang mengurusnya."
"Nanase..."
"Sudahlah, tidak apa. Lagi pula ia adalah ayah kandungku sendiri." Kataku sambil tersenyum. Michi menghela napas lalu ia mengangguk pelan.
Aku kembali menghadap ke arah ayah. Seperti biasa, ia memasang senyumannya yang licik. Aku benar-benar tidak suka dengan ayahku sendiri. Selalu saja bertindak semaunya sendiri. Aku tau ayah adalah kepala keluarga. Tapi menjadi kepala keluarga, menurutku ayah kurang cocok dengan posisi itu. Aku menghela napas panjang dan menatap ke arah ayahku, aku menunggu ayahku untuk berbicara.
"Mau tidak mau, besok kau harus segera kembali ke Tokyo! Diberi kebebasan sedikit saja, kau masih bisa melawanku juga." Aku tetap diam dan ayah pergi keluar dari rumah keluarga Tatsuya. Sepertinya ia juga akan kembali ke Tokyo.
Michi mendekatiku dan menyentuh pundakku. Aku menoleh dan tersenyum ke arah Michi seperti mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Shiori juga ada di situ dan ia mengulurkan tangannya lalu membawaku ke atap rumah, tempat di mana kami biasanya berbincang-bincang.
Malam itu, langit terlihat begitu cerah. Bintang yang aku nanti-nantikan akhirnya keluar juga. Aku tersenyum ketika melihat ke arah langit. Tiba-tiba tangan Shiori yang kecil menggenggam tanganku. Aku menoleh dan mendapati gadis itu dengan raut wajah sedih. Ketika aku hendak bertanya, Shiori mengangkat jari telunjuknya dan menempelkannya di mulutku. Sepertinya Shiori mau bicara.
"Nanase, kenapa kau cepat sekali akan kembali ke Tokyo?" Tanya Shiori, ia tidak menatapku sama sekali.
"Maafkan aku. Semua itu keputusan ayahku. Aku tidak bisa melawan kehendaknya, ayahku memang seperti itu."
"Lalu, kenapa tidak kau berusaha menjelaskan apa yang kau inginkan?" Aku menggeleng pelan.
"Itu tidak mudah, Shiori. Aku akan didamprat habis-habisan jika aku berusaha menasehatinya." Suasana pun kembali hening. Namun, Shiori tetap tidak melepaskan genggamannya dari tanganku. Setelah melamun cukup lama, aku baru ingat kalau aku ada janji dengan Rai.
"Shiori, apa kau tau sekarang pukul berapa?" Tanyaku perlahan.
"Umm... sekarang sudah tengah malam, ada apa?" Aku membelalakan mata.
"Tengah malam?!"
bersambung....
Sepulang dari festival tersebut, aku mengucapkan terima kasih kepada Nanase karena hari ini Nanase mau menemaniku. Saat ini aku sedang berada di dalam kamar memperhatikan boneka yang baru saja Nanase berikan untukku. Aku tersenyum sambil menyentuh boneka tersebut. Apa kau melihatnya, Riku? Nanase memberiku boneka ini. Kembang api di luar belum selesai juga. Aku menatap ke arah jendela.
"Kembang apinya indah ya?" Tiba-tiba Riku sudah berada di sampingku. Entah sejak kapan jika aku memikirkan Riku, pasti ia akan cepat datang. Aku mengangguk untuk menjawab Riku.
"Rai..." Riku memanggilku dan aku menoleh.
"Ada apa, Riku?"
"Tutup matamu." Meskipun aku bingung, aku tetap menutup mataku.
Aku merasakan Riku menyentuh wajahku dan dengan merasakan sentuhannya aku dapat melihat ada beberapa sinar yang menembus mataku, aku tau itu adalah sinar kembang api. Setelah itu aku merasakan bibirku dengan bibir Riku bersentuhan. Aku terkejut dan segera membuka mata, lalu menghindar seperti biasa. Tapi tidak seperti yang dulu cara menghindarnya. Riku pun tersenyum.
"Aku hanya melakukan hal tersebut dengan orang yang sangat aku cintai." Setelah itu Riku menghilang dari hadapanku. Aku menyentuh bibirku dan menatap ke arah luar jendela. Kembang apinya sudah berakhir dan aku langsung berganti pakaian. Aku beranjak dari dalam kamar menuju teras rumah.
Di musim panas ini, pada malam harinya udara terasa begitu sejuk. Aku merasakan desiran angin yang mulai menembus dan menusuk tulang-tulangku. Walaupun rasanya tidak dingin, entah mengapa tubuhku menggigil. Bintang-bintang pun juga sudah bertaburan di langit malam yang indah.
"Nee-chan!!!" Lagi-lagi keheninganku dipecahkan oleh suara Michiru. Dengan perasaan jengkel aku menoleh ke arah pintu dan mendapati Michiru sedang menggenggam ponselku yang bergetar.
"Ada telepon untukmu." Aku menerima ponselku dan menjawab panggilan tersebut, setelah itu Michiru pergi.
"Moshimoshi." Sapaku.
"Rai, aku tidak mengganggumu kan'?" Ternyata dari Nanase.
"Tidak. Aku sedang bersantai saat ini."
"Umm... kalau begitu, aku mau bertemu denganmu. Kutunggu kau di taman pada tengah malam nanti."
"Memangnya ada apa, Nanase?" Tanyaku yang mulai penasaran.
"Ada yang ingin aku bicarakan. Aku tunggu nanti ya!"
"Baiklah."
Sesudah itu aku beranjak dari teras rumah dan kembali ke dalam. Kira-kira apa yang akan dibicarakan Nanase nanti ya? Kenapa Nanase begitu misterius? Aku begitu penasaran, aku ingin tau segalanya tentang Nanase. Sebenarnya apa yang membuatnya terlihat begitu misterius?
Nanase Sakigawa
Setelah mengantar Rai pulang, aku berjalan ke rumah keluarga Tatsuya dengan pikiran yang penuh. Bagaimana mungkin Rukia ada pelakunya? Aku tidak percaya. Aku kenal Rukia, ia adalah gadis yang selalu bertanggung jawab. Tapi jika kali ini Rukia tidak bertanggung jawab, hal tersebut benar-benar tidak dipercaya. Aku menghela napas panjang. Memikirkam semua ini, perasaanku pun bercampur aduk.
Aku melangkah masuk ke dalam rumah keluarga Tatsuya ketika aku melihat ayahku sedang duduk di ruang tamu. Ayah melihatku dan... aku sudah tau apa yang akan terjadi. Ayah menghampiriku dan dengan senyumannya yang licik... PLAK! Ia menamparku dengan keras, sampai-sampai aku mau terjatuh. Michi, kakak ibuku terkejut melihat aku diperlakukan seperti itu.
"Hiruko! Hentikan! Apa-apaan ini?!" Michi menarik lengan ayahku.
"Diam kau, Michi! Apa urusanmu? Anak ini sudah bersikap kurang ajar dan tidak sopan pada orang tuanya sendiri. Apa kau tidak tau itu, Michi?!" Bentak ayahku dan membuat Michi menjaga jarak dengan ayah. Aku hanya diam dan masih memegangi pipiku yang terasa sakit.
"Sebagai ayah pun, ternyata kau juga harus menjaga omonganmu, Hiruko!" Bentak Michi. Sepertinya Michi membelaku.
"Michi-san, maaf. Biar aku saja yang mengurusnya."
"Nanase..."
"Sudahlah, tidak apa. Lagi pula ia adalah ayah kandungku sendiri." Kataku sambil tersenyum. Michi menghela napas lalu ia mengangguk pelan.
Aku kembali menghadap ke arah ayah. Seperti biasa, ia memasang senyumannya yang licik. Aku benar-benar tidak suka dengan ayahku sendiri. Selalu saja bertindak semaunya sendiri. Aku tau ayah adalah kepala keluarga. Tapi menjadi kepala keluarga, menurutku ayah kurang cocok dengan posisi itu. Aku menghela napas panjang dan menatap ke arah ayahku, aku menunggu ayahku untuk berbicara.
"Mau tidak mau, besok kau harus segera kembali ke Tokyo! Diberi kebebasan sedikit saja, kau masih bisa melawanku juga." Aku tetap diam dan ayah pergi keluar dari rumah keluarga Tatsuya. Sepertinya ia juga akan kembali ke Tokyo.
Michi mendekatiku dan menyentuh pundakku. Aku menoleh dan tersenyum ke arah Michi seperti mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Shiori juga ada di situ dan ia mengulurkan tangannya lalu membawaku ke atap rumah, tempat di mana kami biasanya berbincang-bincang.
Malam itu, langit terlihat begitu cerah. Bintang yang aku nanti-nantikan akhirnya keluar juga. Aku tersenyum ketika melihat ke arah langit. Tiba-tiba tangan Shiori yang kecil menggenggam tanganku. Aku menoleh dan mendapati gadis itu dengan raut wajah sedih. Ketika aku hendak bertanya, Shiori mengangkat jari telunjuknya dan menempelkannya di mulutku. Sepertinya Shiori mau bicara.
"Nanase, kenapa kau cepat sekali akan kembali ke Tokyo?" Tanya Shiori, ia tidak menatapku sama sekali.
"Maafkan aku. Semua itu keputusan ayahku. Aku tidak bisa melawan kehendaknya, ayahku memang seperti itu."
"Lalu, kenapa tidak kau berusaha menjelaskan apa yang kau inginkan?" Aku menggeleng pelan.
"Itu tidak mudah, Shiori. Aku akan didamprat habis-habisan jika aku berusaha menasehatinya." Suasana pun kembali hening. Namun, Shiori tetap tidak melepaskan genggamannya dari tanganku. Setelah melamun cukup lama, aku baru ingat kalau aku ada janji dengan Rai.
"Shiori, apa kau tau sekarang pukul berapa?" Tanyaku perlahan.
"Umm... sekarang sudah tengah malam, ada apa?" Aku membelalakan mata.
"Tengah malam?!"
bersambung....
Wednesday, February 17, 2010
The Story Part 32
Ruroya Rai
Saatnya bersiap-siap untuk festival musim panas! Aku tidak sabar, ingin cepat-cepat pergi ke sana. Saat ini, aku mengenakan yukata yang dipilihkan oleh Shoko. Sayangnya Shoko, Takato, dan Saki tidak ada di sini. Jadi, mereka tidak dapat melihatku mengenakan yukata indah ini. Tapi, apa Riku melihatku ya? Hei, Riku... apa kau melihatku menggunakan yukata ini? Bagaimana menurutmu, Riku? Apa cocok denganku? Aaa... Riku, aku merindukanmu!
"Kau terlihat cocok, Rai." Aku terkejut saat mendengar suara itu. Aku menoleh dan mendapati Riku sudah berdiri di belakangku. Aku tersenyum.
"Riku... hehe, ternyata kau memang memperhatikanku."
"Tentu saja aku selalu memperhatikanmu, Rai. Walaupun kau dan aku sudah berada di dunia yang berbeda, tapi aku selalu merasa terhubung denganmu, karena itu aku dapat terus memperhatikanmu." Kata Riku sambil tersenyum. Ia mendekatiku dan memelukku seperti biasa. Aku terkejut lagi.
"Kau menginginkannya kan? Aku akan mengabulkan keinginanmu, Rai." Kata Riku sambil membelai pelan rambutku. Aku benar-benar merindukan sentuhan Riku. Andai saja Riku masih ada di sini.
"Terima kasih, Riku." Bisikku pelan.
Beberapa lama kemudian. Riku menghilang dari hadapanku, melepaskan pelukannya. Aku menyentuh tanganku dan tersenyum. Senang rasanya bisa bertemu dengan Riku lagi.
"Nee-chan!! Nanase-kun sudah datang!" Lagi-lagi, Michiru mengejutkanku. Ia selalu saja masuk ke dalam kamar orang tanpa pernah mengatakan permisi atau mengetuk pintunya terlebih dahulu. Dengan cepat aku berjalan ke lantai bawah dan melihat Nanase yang hanya mengenakan pakaian biasa dengan celana panjang. Rambutnya pun ditata asal-asalan, benar-benar perlu diperbaiki.
Nanase tersenyum ketika melihatku datang. Ia langsung berdiri dari tempat duduknya.
"Hei, Rai. Kau terlihat begitu cantik hari ini." Kata Nanase sambil tersenyum.
"Hehe... terima kasih. Bagaimana? Mau jalan sekarang?"
"Bukannya, kau ingin berangkat bersama-sama dengan keluargamu?"
"Tenang saja, kemarin aku sudah minta izin pada ayah dan ibuku. Ayo." Aku mengajak Nanase keluar rumah dan berjalan ke tempat festival.
Selama perjalanan, kami berdua tidak berbicara banyak. Nanase hanya bersiul-siul tidak jelas, sedangkan aku menunduk menatap ke arah tanah. Aargh, kenapa suasananya tidak enak seperti ini? Aku menghela napas panjang.
"Ada apa, Rai? Apa ada yang salah?" Akhirnya, Nanase berbicara juga! Setidaknya, tidak perlu berdiam-diam seperti ini.
"Tidak. Hanya saja, rasanya aneh dari tadi. Selama perjalanan diam saja. Hehe..." Kataku sambil tersenyum.
"Maaf... habisnya, aku bingung mau bicara apa." Kata Nanase sambil menggaruk-garuk kepalanya dan aku yakin pasti kepalanya tidak gatal sama sekali.
"Haha... kau ini. Hei, Nanase... apa kau merindukan Riku?" Aku bertanya pada Nanase sambil melihat ke arah langit. Untung saja acara festivalnya akan berlangsung beberapa saat lagi, jadi masih sempat untuk melihat kembang api.
"Tentu saja aku merindukannya. Ia adalah sahabatku yang paling baik." Aku mengangguk lalu menoleh ke arah Nanase sambil tersenyum.
"Ya, aku juga merindukannya..."
Nanase Sakigawa
Setibanya aku di tempat festival, aku menemani Rai ke mana pun ia pergi. Saat ia bermain memancing ikan, membeli gulali, atau membeli kudapan-kudapan yang manis, aku selalu mengikuti Rai. Haha... rasanya pun agak aneh. Kenapa aku seperti membuntuti Rai? Tapi tidak apa, selama aku bersama dengannya, aku akan merasa lebih tenang. Tiba-tiba aku teringat Riku, aku jadi merasa tidak enak pada Riku. Apa Riku mendengarkan kata-kataku waktu itu? Kenapa Riku belum menjawab juga? Aku menghela napas panjang.
"Nanase!! Heii!" Rai melambai-lambai ke arahku, sepertinya aku sudah tertinggal jauh dari Rai. Dengan cepat aku berlari ke arah Rai. Selama berada di festival tersebut, aku diajak oleh Rai pergi berbelanja dan mencoba beberapa permainan yang menarik yang ada disana. Aku sedikit merasakan kegembiraan hari ini.
Saat sedang asyik-asyiknya memilih-milih makanan, seseorang tiba-tiba menyentuh bahuku. Aku segera menoleh dan mendapati Shiori dengan Takara berdiri di belakangku sambil tersenyum.
"Oh... hei Shiori, Takara-san." Sapaku sambil tersenyum.
"Nanase! Hehe... bagaimana dengan Rai?" Tanya Shiori.
"Haha... baik-baik saja."
"Lalu... ada di mana Rai sekarang?" Aku segera menunjuk Rai yang sedang membeli beberapa kudapan di stand sebelah. Shiori pun mengangguk lalu berpamitan denganku karena ia masih mau melihat-lihat ke tempat lain bersama dengan Takara-san.
Selesai membeli makanan, aku dan Rai duduk-duduk di bawah pohon sambil menunggu pertunjukkan kembang api dimulai. Aku menoleh ke arah Rai dan melihat wajahnya yang begitu bahagia.
"Rai, kau terlihat gembira sekali hari ini?" Akhirnya aku berani bertanya karena dari tadi aku begitu penasaran.
"Hehe... aku senang dapat menghadiri festival ini denganmu dan sebelum berangkat tadi, aku sempat bertemu dengan Riku lagi." Kata Rai sambil tersenyum.
"Bertemu dengan Riku? Aku belum bertemu dengannya lagi. Padahal aku ingin sekali bertemu dengannya." Aku menundukkan kepalaku.
"Tunggu saja, Nanase. Aku yakin Riku akan menemui nanti. Riku pasti akan menemuimu. Tenang saja, Nanase, kau tidak perlu cemas." Aku menganggukkan kepala pelan.
Pertunjukkan kembang api pun dimulai. Di langit yang gelap, kembang api itu diluncurkan dan membentuk bentuk-bentuk yang indah. Ada yang berbentuk kupu-kupu, bunga, dan lain-lain. Aku tersenyum saat melihat pertunjukkan tersebut. Ternyata memang tidak salah aku datang ke festival ini bersama dengan Rai.
Setelah pertunjukkan tersebut selesai, tiba-tiba ponselku berdering. Aku melihat ke arah layar dan nama Nonoru tertera di layar tersebut. Ada apa Nonoru menghubungiku? Tumben sekali.
"Ya?"
"Nanase!" Panggil Nonoru dari seberang sana.
"Ada apa, Nonoru?"
"Tadi aku baru saja mendapat kabar, siapa pelaku yang menabrak temanmu waktu itu." Aku terkejut mendengar berita dari Nonoru. Karena terkejut aku sampai tersedak makananku sendiri.
"Uhuk... uhuk! Siapa?"
"Hmm... tunggu... aku lupa, sepertinya pelakunya adalah seorang wanita muda. Namanya..."
"Siapa namanya, Nonoru?" Aku pun tidak sabar ingin mengetahui nama pelaku yang sudah menabrak Riku dan tidak mau bertanggung jawab itu.
"Namanya... Hanase Rukia."
Aku membelalakan mataku saat mendengar nama Rukia disebut oleh Nonoru, kakak laki-lakiku. Aku tidak percaya, mana mungkin Rukia pelakunya? Tidak mungkin...
bersambung....
Saatnya bersiap-siap untuk festival musim panas! Aku tidak sabar, ingin cepat-cepat pergi ke sana. Saat ini, aku mengenakan yukata yang dipilihkan oleh Shoko. Sayangnya Shoko, Takato, dan Saki tidak ada di sini. Jadi, mereka tidak dapat melihatku mengenakan yukata indah ini. Tapi, apa Riku melihatku ya? Hei, Riku... apa kau melihatku menggunakan yukata ini? Bagaimana menurutmu, Riku? Apa cocok denganku? Aaa... Riku, aku merindukanmu!
"Kau terlihat cocok, Rai." Aku terkejut saat mendengar suara itu. Aku menoleh dan mendapati Riku sudah berdiri di belakangku. Aku tersenyum.
"Riku... hehe, ternyata kau memang memperhatikanku."
"Tentu saja aku selalu memperhatikanmu, Rai. Walaupun kau dan aku sudah berada di dunia yang berbeda, tapi aku selalu merasa terhubung denganmu, karena itu aku dapat terus memperhatikanmu." Kata Riku sambil tersenyum. Ia mendekatiku dan memelukku seperti biasa. Aku terkejut lagi.
"Kau menginginkannya kan? Aku akan mengabulkan keinginanmu, Rai." Kata Riku sambil membelai pelan rambutku. Aku benar-benar merindukan sentuhan Riku. Andai saja Riku masih ada di sini.
"Terima kasih, Riku." Bisikku pelan.
Beberapa lama kemudian. Riku menghilang dari hadapanku, melepaskan pelukannya. Aku menyentuh tanganku dan tersenyum. Senang rasanya bisa bertemu dengan Riku lagi.
"Nee-chan!! Nanase-kun sudah datang!" Lagi-lagi, Michiru mengejutkanku. Ia selalu saja masuk ke dalam kamar orang tanpa pernah mengatakan permisi atau mengetuk pintunya terlebih dahulu. Dengan cepat aku berjalan ke lantai bawah dan melihat Nanase yang hanya mengenakan pakaian biasa dengan celana panjang. Rambutnya pun ditata asal-asalan, benar-benar perlu diperbaiki.
Nanase tersenyum ketika melihatku datang. Ia langsung berdiri dari tempat duduknya.
"Hei, Rai. Kau terlihat begitu cantik hari ini." Kata Nanase sambil tersenyum.
"Hehe... terima kasih. Bagaimana? Mau jalan sekarang?"
"Bukannya, kau ingin berangkat bersama-sama dengan keluargamu?"
"Tenang saja, kemarin aku sudah minta izin pada ayah dan ibuku. Ayo." Aku mengajak Nanase keluar rumah dan berjalan ke tempat festival.
Selama perjalanan, kami berdua tidak berbicara banyak. Nanase hanya bersiul-siul tidak jelas, sedangkan aku menunduk menatap ke arah tanah. Aargh, kenapa suasananya tidak enak seperti ini? Aku menghela napas panjang.
"Ada apa, Rai? Apa ada yang salah?" Akhirnya, Nanase berbicara juga! Setidaknya, tidak perlu berdiam-diam seperti ini.
"Tidak. Hanya saja, rasanya aneh dari tadi. Selama perjalanan diam saja. Hehe..." Kataku sambil tersenyum.
"Maaf... habisnya, aku bingung mau bicara apa." Kata Nanase sambil menggaruk-garuk kepalanya dan aku yakin pasti kepalanya tidak gatal sama sekali.
"Haha... kau ini. Hei, Nanase... apa kau merindukan Riku?" Aku bertanya pada Nanase sambil melihat ke arah langit. Untung saja acara festivalnya akan berlangsung beberapa saat lagi, jadi masih sempat untuk melihat kembang api.
"Tentu saja aku merindukannya. Ia adalah sahabatku yang paling baik." Aku mengangguk lalu menoleh ke arah Nanase sambil tersenyum.
"Ya, aku juga merindukannya..."
Nanase Sakigawa
Setibanya aku di tempat festival, aku menemani Rai ke mana pun ia pergi. Saat ia bermain memancing ikan, membeli gulali, atau membeli kudapan-kudapan yang manis, aku selalu mengikuti Rai. Haha... rasanya pun agak aneh. Kenapa aku seperti membuntuti Rai? Tapi tidak apa, selama aku bersama dengannya, aku akan merasa lebih tenang. Tiba-tiba aku teringat Riku, aku jadi merasa tidak enak pada Riku. Apa Riku mendengarkan kata-kataku waktu itu? Kenapa Riku belum menjawab juga? Aku menghela napas panjang.
"Nanase!! Heii!" Rai melambai-lambai ke arahku, sepertinya aku sudah tertinggal jauh dari Rai. Dengan cepat aku berlari ke arah Rai. Selama berada di festival tersebut, aku diajak oleh Rai pergi berbelanja dan mencoba beberapa permainan yang menarik yang ada disana. Aku sedikit merasakan kegembiraan hari ini.
Saat sedang asyik-asyiknya memilih-milih makanan, seseorang tiba-tiba menyentuh bahuku. Aku segera menoleh dan mendapati Shiori dengan Takara berdiri di belakangku sambil tersenyum.
"Oh... hei Shiori, Takara-san." Sapaku sambil tersenyum.
"Nanase! Hehe... bagaimana dengan Rai?" Tanya Shiori.
"Haha... baik-baik saja."
"Lalu... ada di mana Rai sekarang?" Aku segera menunjuk Rai yang sedang membeli beberapa kudapan di stand sebelah. Shiori pun mengangguk lalu berpamitan denganku karena ia masih mau melihat-lihat ke tempat lain bersama dengan Takara-san.
Selesai membeli makanan, aku dan Rai duduk-duduk di bawah pohon sambil menunggu pertunjukkan kembang api dimulai. Aku menoleh ke arah Rai dan melihat wajahnya yang begitu bahagia.
"Rai, kau terlihat gembira sekali hari ini?" Akhirnya aku berani bertanya karena dari tadi aku begitu penasaran.
"Hehe... aku senang dapat menghadiri festival ini denganmu dan sebelum berangkat tadi, aku sempat bertemu dengan Riku lagi." Kata Rai sambil tersenyum.
"Bertemu dengan Riku? Aku belum bertemu dengannya lagi. Padahal aku ingin sekali bertemu dengannya." Aku menundukkan kepalaku.
"Tunggu saja, Nanase. Aku yakin Riku akan menemui nanti. Riku pasti akan menemuimu. Tenang saja, Nanase, kau tidak perlu cemas." Aku menganggukkan kepala pelan.
Pertunjukkan kembang api pun dimulai. Di langit yang gelap, kembang api itu diluncurkan dan membentuk bentuk-bentuk yang indah. Ada yang berbentuk kupu-kupu, bunga, dan lain-lain. Aku tersenyum saat melihat pertunjukkan tersebut. Ternyata memang tidak salah aku datang ke festival ini bersama dengan Rai.
Setelah pertunjukkan tersebut selesai, tiba-tiba ponselku berdering. Aku melihat ke arah layar dan nama Nonoru tertera di layar tersebut. Ada apa Nonoru menghubungiku? Tumben sekali.
"Ya?"
"Nanase!" Panggil Nonoru dari seberang sana.
"Ada apa, Nonoru?"
"Tadi aku baru saja mendapat kabar, siapa pelaku yang menabrak temanmu waktu itu." Aku terkejut mendengar berita dari Nonoru. Karena terkejut aku sampai tersedak makananku sendiri.
"Uhuk... uhuk! Siapa?"
"Hmm... tunggu... aku lupa, sepertinya pelakunya adalah seorang wanita muda. Namanya..."
"Siapa namanya, Nonoru?" Aku pun tidak sabar ingin mengetahui nama pelaku yang sudah menabrak Riku dan tidak mau bertanggung jawab itu.
"Namanya... Hanase Rukia."
Aku membelalakan mataku saat mendengar nama Rukia disebut oleh Nonoru, kakak laki-lakiku. Aku tidak percaya, mana mungkin Rukia pelakunya? Tidak mungkin...
bersambung....
Subscribe to:
Posts (Atom)